Spirit Literasi ‘Aisyiyah: Sebuah Analisis Sejarah

Wawasan 8 Mar 2021 0 140x
Spirit Literasi Aisyiyah

Spirit Literasi Aisyiyah

Oleh: Tri Hastuti

Sejarah berdirinya ‘Aisyiyah adalah sejarah literasi. Mengapa demikian? Jika kita tilik kembali sejarah, terdapat gambaran bahwa berdirinya ‘Aisyiyah pada 27 Rajab 1335 H/19 Mei 1917 M dilandasi oleh semangat literasi. Kiai dan Nyai Ahmad Dahlan mengumpulkan gadis-gadis di Kauman Yogyakarta untuk dididik dengan ilmu agama dan jiwa kepemimpinan.

Ajaran Berkemajuan Kiai Ahmad Dahlan

Melalui perkumpulan Sapa Tresna yang berdiri pada 1914, Kiai Ahmad Dahlan mendorong perempuan-perempuan di Kauman menempuh pendidikan, baik secara formal di sekolah maupun pendidikan non-formal keagamaan. Mereka yang dididik langsung oleh Kiai Ahmad Dahlan antara lain Siti Bariyah, Siti Dawimah, Siti Dalalah, Siti Busyro (putri Kiai Ahmad Dahlan), Siti Badilah Zuber, dan Siti Dawingah.

Dalam usia yang masih belia, yaitu 15 tahun, anak-anak gadis ini selain dibimbing ilmu-ilmu agama melalui pengajian, juga dibimbing untuk memikirkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat di sekitarnya. Bagi Kiai Ahmad Dahlan, agama Islam sangat menjunjung tinggi kemuliaan perempuan. Keyakinan itulah yang mendasari Kiai Ahmad Dahlan untuk membimbing gadis-gadis muda melalui pengajian dan mendorong perempuan mengenyam pendidikan di sekolah umum, di tengah kekangan budaya yang menabukan perempuan mengenyam pendidikan.

Berdirinya organisasi ‘Aisyiyah dilandasi nilai teologis bahwa laki-laki dan perempuan memilik kewajiban melakukan amar maruf nahi mungkar;  menyeru kebaikan dan menolong sesama (al-Maun); dan mendekonstruksi budaya yang kuat di masyarakat bahwa perempuan itu cukup di rumah saja dan suwarga nunut neraka katut.

Spirit Literasi

Selanjutnya, milestone yang lain untuk menegaskan semangat literasi ‘Aisyiyah ini adalah pendirian Frobel ‘Aisyiyah pada 1919, dua tahun setelah organisasi ‘Aisyiyah didirikan. Pada zaman sekarang, PAUD ‘Aisyiyah telah berjumlah 23.000 yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. PAUD ini telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam membangun literasi di Indonesia. Selain itu, PAUD ‘Aisyiyah juga menjadi jembatan yang kokoh dalam memberikan pemerataan pendidikan di tingkat anak-anak di seluruh penjuru negeri.

Semangat literasi ini menjadi spirit dalam mengembangkan dakwah ‘Aisyiyah sampai abad kedua ini. Hal ini dibuktikan dengan berkembangnya amal usaha dalam bidang pendidikan, baik SD, SMP, madrasah (pondok pesantren), SMA, dan perguruan tinggi ‘Aisyiyah yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Gerakan literasi ‘Aisyiyah juga dilakukan di komunitas melalui pengajian, edukasi di komunitas melalui Balai Sakinah ‘Aisyiyah tentang hak-hak warga negara baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, hukum maupun sosial, gerakan perpustakaan di komunitas. Semua gerakan literasi tersebut dilandasi dengan nilai-nilai Islam Berkemajuan.

‘Aisyiyah meyakini bahwa literasi merupakan kunci untuk kemajuan perempuan. Agenda strategis ‘Aisyiyah yang tertuang dalam Pokok-Pokok Pikiran ‘Aisyiyah Abad Kedua dalam poin pertama adalah “Pengembangan Gerakan Keilmuan”. Untuk melakukan gerakan pencerahan  melalui transformasi sosial, maka gerakan keilmuan dan pemikiran menjadi dasarnya.

Gerakan keilmuan dan pemikiran di ‘Aisyiyah memiliki landasan kuat, yaitu dalam QS. al-Mujadalah [58]: 11 yang menyatakan bahwa Islam mengangkat derajat orang beriman dan berilmu ke tangga yang lebih tinggi; dan juga kewajiban untuk memiliki kebiasaan dan kemampuan literasi (QS. al-‘Alaq [96]: 1-5). Gerakan literasi ini harus menjadi budaya dan mentradisi dalam kerja-kerja ‘Aisyiyah dalam melakukan dakwah untuk membangun peradaban yang unggul dan memuliakan manusia, termasuk perempuan.

Media Diseminasi ‘Aisyiyah

Inisiasi terbitnya majalah Suara ‘Aisyiyah pada 1926 yang berada di tangan pembaca saat ini merupakan tonggak sejarah yang sangat penting bagi ‘Aisyiyah dalam melembagakan spirit literasi dalam melakukan dakwahnya. Majalah Suara ‘Aisyiyah ini menjadi media organisasi yang sangat penting bagi ‘Aisyiyah sebagai sebuah organisasi yang tersebar luas di seluruh pelosok negeri. Suara ‘Aisyiyah memiliki peran dalam menyosialisasikan pemikiran-pemikiran penting untuk kemajuan perempuan dan masyarakat.

Saat ini Suara ‘Aisyiyah telah tersedia dalam bentuk digital sebagai media untuk mewacanakan pemikiran Islam Berkemajuan yang lebih luas jangkauannya. Spirit literasi harus terus dihidupkan oleh semua pimpinan organisasi dalam mengemban misi dakwah ‘Aisyiyah di tengah semakin kompleksnya tantangan internal dan eksternal organisasi. Spirit ini perlu terus menerus dijaga agar benar-benar terasakan manfaatnya bagi seluruh masyarakat.

Tinggalkan Balasan