Sri Moxsa Djalamang: Menembus Kebun Sawit Hingga Membina Mualaf Suku Pedalaman

Inspirasi 7 Apr 2021 0 144x
Sri Moxsa Djalamang

Sri Moxsa Djalamang ketika mengikuti Konsolidasi Nasional ‘Aisyiyah Sabtu (3/4)

Forum Silaturahim dan Konsolidasi Nasional ‘Aisyiyah yang diselenggarakan secara daring pada Sabtu (3/4) lalu menyimpan banyak kisah menarik. Beberapa di antara peserta harus melakukan ‘kerja ekstra’ agar dapat mengikuti kegiatan tersebut, seperti menaiki loteng rumah dan menyepi di tengah kebun sawit.

Sri Moxsa Djalamang atau yang biasa dipanggil Kele Inang merupakan satu di antara sosok di balik perjuangan tersebut. Ya, Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Banggai, Sulawesi Tengah itu harus menempuh perjalanan jauh hingga ke tengah perkebunan sawit untuk mendapatkan sinyal agar bisa mengikuti rangkaian kegiatan dengan hikmat.

Kele Inang saat ini tengah intens melakukan pembinaan mualaf di Suku Kahumamahon, salah satu suku pedalaman di Kota Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah. Masyarakat Suku Kahumamahon awalnya hidup nomaden, sampai pada tahun 2013, Dinas Sosial membuatkan pemukiman bagi mereka. Di tengah kegiatannya melakukan pembinaan itulah Kele Inang mengikuti Konsolidasi Nasional ‘Aisyiyah.

Sejak tahun 2017, Kele Inang turut terlibat dan bahu-membahu membantu melakukan pembinaan kepada para mualaf di Suku Kahumamahon. Sebelumnya, masyarakat Suku Kahumamahon menganut aliran kepercayaan animisme. Mereka meyakini alam, pohon, dan sebagainya sebagai sebuah kekuatan dan pokok kepercayaan.

Menurut Kele Inang, ketika pertama kali terlibat dalam proses pembinaan, terhitung lima belas kepala keluarga yang mualaf. Angka tersebut terus bertambah. Sekarang, dari total tiga puluh kepala keluarga, dua puluh lima KK telah beragama Islam, empat Nasrani, dan sisanya masih memeluk kepercayaan lama.

Di antara aspek yang menjadi perhatian Sri Moxsa adalah pendidikan, air bersih, dan listrik. PAUD dan SD Muhammadiyah didirikan, dibuatkan sumur dan pompa air, serta disediakan listrik bertenaga surya.

Tersedianya fasilitas yang menunjang kelangsungan kehidupan sehari-hari itulah yang membuat masyarakat Kahumamahon tertarik untuk memeluk dan mempelajari Islam. Proses transfer nilai-nilai ajaran Islam pun menjadi lebih mudah.

Karakter pemalu dan pendiam masyarakat Suku Kahumamahon menjadi satu tantangan tersendiri bagi Kele Inang. Di satu sisi, ia tidak dapat mengajar dengan sistem tatap muka (mengumpulkan orang banyak). Untuk menanamkan akidah Islam, ia mesti singgah dari rumah ke rumah. Akan tetapi, di sisi yang lain, karakter itu jugalah yang membuat mereka tak menyanggah apa yang disampaikan Kele Inang, dan hanya diam mendengarkan.

Metode dakwah Kele Inang yang tidak memaksa, dan berorientasi pada pemberian contoh laku kehidupan itulah yang membuat mereka merasa nyaman. Secara perlahan dan bertahap, Kele Inang menanamkan akidah Islam dengan mengubah mindset masyarakat mengenai kekuatan di luar diri mereka.

Selain akidah, dimensi lain dari ajaran Islam juga turut disampaikan, seperti ibadah dan muamalah. Perihal ibadah, dibutuhkan kesabaran ekstra sampai mereka dapat beribadah secara mandiri. Untuk mengerjakan salat lima waktu saja, mereka masih sangat berat. Mereka hanya rutin melaksanakan salat Jumat dan salat Id. Itulah kenapa Kele Inang berkeinginan untuk rutin mengadakan kegiatan yang berbarengan dengan waktu salat, sehingga masyarakat dapat diarahkan untuk salat berjamaah. Untuk menunaikan puasa, pun sama beratnya.

Kele Inang sadar bahwa membina mualaf di pedalaman memang membutuhkan usaha lebih. Apalagi ia harus mengubah mindset mereka tentang hidup. Pasalnya, banyak hal yang belum mereka ketahui, baik tentang kesehatan, kebersihan, juga orientasi untuk bertahan hidup di masa depan.

Kele Inang merupakan muballighat yang membawa semangat ‘Aisyiyah. Meski berhadapan dengan berbagai tantangan berat di depan mata, mereka tetap berpeluh keringat mengajarkan Islam kepada para mualaf. “Sifat dakwah Muhammadiyah-‘Aisyiyah itu tidak banyak mengeluh,” ujarnya. (sb)

Tinggalkan Balasan