Strategi Dakwah Menghadapi Tantangan Zaman (1)

Hikmah 2 Jun 2020 0 90x

Oleh : Muh. Waluyo, Lc., M.A. (Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)

Dakwah amar ma’ruf nahi munkar telah berlangsung sejak awal penciptaan manusia  ketika terjadi interaksi antara Allah dengan hamba-Nya (periode Nabi Adam a.s.). Dakwah akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya kehidupan di dunia ini. Surat al-Baqarah ayat 31-33 mengisahkan bahwa Allah mengajari Nabi Adam a.s. nama-nama benda. Yaitu :

Strategi Dakwah Menghadapi Tantangan Zaman

Allah melarang Nabi Adam mendekati pohon, dan Allah memerintahkan para malaikat bersujud kepada Nabi Adam. Semua Malaikat bersujud kecuali Iblis, dia enggan dan takabur.

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah di bumi. Berdakwah amar ma’ruf dan nahi munkar adalah salah satu fungsi strategis kekhalifahan manusia. Fungsi tersebut berjalan terus-menerus seiring dengan kompleksitas problematika kehidupan manusia dari zaman ke zaman, dan karena sangat urgennya dakwah, sampai-sampai Allah dalam surat Ali Imran ayat 104, memerintahkan agar ada sebagian umat manusia membentuk komunitas (organisasi dakwah), sbb.

Kisah sejarah dakwah yang dikembangkan oleh Rasulullah sebenarnya juga merupakan gerakan transformasi sosial menuju pada tatanan tranformasi global. Dakwah dijabarkan sebagai gerakan pembebasan dari berbagai bentuk eksploitasi penindasan dan ketidakadilan dalam semua aspek kehidupan. Dari sanalah kemudian terbentuk masyarakat yang memiliki kecanggihan transformasi dan kapasitas politik dan ekonomi modern  pada masanya.

Untuk melahirkan masyarakat humanis yang di dalamnya terdapat masyarakat yang berperan sebagai subjek dan bukan objek dibutuhkan keberadaan dai partisipatif  yang mampu memfasilitasi masyarakat untuk memahami berbagai masalah, menyatakan pendapat, merencanakan prospek ke depan, dan mengevaluasi transformasi global.

Karakteristik dakwah tersebut ditandai dengan hubungan yang terbuka dan saling menghargai antara dai dan masyarakat. Isu sentralnya adalah masyarakat dan pengalaman mereka, bukan dai dan persepsinya.  Masyarakat didorong memiliki kesadaran kritis memandang kehidupan serta memperbaiki keadaan.

Dakwah tidak akan berhadapan dengan realitas masyarakat yang statis, tetapi berada dalam masyarakat yang dinamis dan akan terus disertai dengan tantangan-tantangan dakwah yang semakin luas dan komplek. Komunikasi dakwah bukan saja harus baik dalam hal isi (content) atau pesan (the message, what), melainkan juga harus baik dalam hal cara (the way, how), yaitu sebuah metode dan pendekatan yang tepat untuk menjawab tantangan zaman yang semakin hari semakin komplek. Oleh karena itu, peningkatan kualitas kompetensi muballigh harus secara terus-menerus dilakukan secara efektif.

Di pihak lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi, telah membawa dampak berarti pada perubahan sendi-sendi etika umat Islam. Era globalisasi memiliki potensi untuk mengubah hampir seluruh sistem kehidupan masyarakat baik di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, bahkan di bidang pertahanan dan keamanan.

Di samping itu, tingkat kemiskinan dan kesengsaraan umat Islam semakin meningkat, yang berakses bagi timbulnya problem sosial dan keagamaan. Berbagai penyakit masyarakat seperti pencurian, perampokan, penodongan, korupsi, pelanggaran HAM, pelecehan seksual, pergaulan bebas, dan sejenisnya merupakan problema mendasar umat Islam saat ini. Ekses yang sangat mendasar dari problema tersebut adalah timbulnya pendangkalan iman, sebagaimana ungkapan “Hampir saja kefakiran itu menjadi kekafiran”.

Dalam menghadapi serbuan bermacam-macam nilai, keagamaan, pilihan hidup, dan sejumlah janji-janji kenikmatan duniawi, dakwah dapat menjadi suluh dengan fungsi mengimbangi dan pemberi arah dalam kehidupan umat. Dakwah ke depan menempatkan perencanaan dan strategi yang tepat dengan merujuk kepada metode dakwah Rasulullah saw.

Para intelektual muslim dapat merumuskan konsep dan metode dakwah untuk generasi muda, orang dewasa atau objek dakwah bagi berbagai lapisan masyarakat yang tingkat pemahaman keagamaannya tergolong rendah atau sebaliknya bagi masyarakat yang tingkat pendidikannya tergolong tinggi, sehingga materi dakwah sesuai dengan objeknya.

Problematika Dakwah

Persoalan yang kita hadapi sekarang adalah tantangan dakwah yang sema-kin hebat, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Tantangan itu muncul dalam berbagai bentuk kegiatan masyarakat modern, seperti perilaku dalam mendapatkan hiburan (entertainment), kepariwisataan dan seni dalam arti luas, yang semakin membuka peluang munculnya kerawanan-kerawanan moral dan etika.

Kerawanan moral dan etik itu muncul semakin transparan dalam bentuk kemaksiatan karena disokong oleh kemajuan alat-alat teknologi informasi mutakhir seperti siaran televisi,  jaringan Internet, dan sebagainya. Kemaksiatan itu senantiasa mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas, seperti maraknya perjudian, minum minuman keras, dan tindakan kriminal, serta menjamurnya tempat-tempat hiburan, siang atau malam, yang semua itu diawali dengan penjualan dan pendangkalan budaya moral dan rasa malu.

Di negeri yang berbudaya, beradat dan beragama ini, kemaksiatan yang berhubungan dengan apa yang dinamakan sex industry juga mengalami kemajuan. Hal ini terutama setelah terbukanya turisme internasional di berbagai kawasan, hingga menjamah wilayah yang semakin luas dan menjarah semakin banyak generasi muda dan remaja yang kehilangan jati diri dan miskin iman dan ilmu. Hal yang terakhir ini semakin buruk dan mencemaskan perkembangannya karena hampir-hampir tidak ada lagi batas antara kota dan desa. Semuanya telah terkontaminasi dalam euforia kebebasan yang tidak mengenal batas.

Ledakan-ledakan informasi dan kemajuan teknologi dalam berbagai bidang itu tidak boleh kita biarkan lewat begitu saja. Kita harus berusaha mencegah dan mengantisipasi dengan memperkuat benteng pertahanan aqidah yang berpadukan ilmu dan teknologi. Tidak sedikit korban yang berjatuhan yang membuat kemuliaan Islam semakin terancam dan masa depan generasi muda semakin suram. Apabila kita tetap lengah dan terbuai oleh kemewahan hidup dengan berbagai fasilitasnya, ketika itu pula secara perlahan kita meninggalkan petunjuk-petunjuk Allah yang sangat diperlukan bagi hati nurani setiap kita.

Di samping itu, kelemahan dan ketertinggalan umat Islam dalam meng-akses informasi dari waktu ke waktu, pada gilirannya juga akan membuat langkah-langkah dakwah kita semakin tumpul tidak berdaya. Bertolak dari faktor-faktor tersebut, agar problematika zaman ini tidak semakin kusut dan berlarut-larut, perlu segera dicarikan jalan keluar dari kemelut persoalan yang dihadapi itu.

Bersambung ke Strategi Dakwah Menghadapi Tantangan Zaman (2)

Sumber Ilustrasi : https://www.kompasiana.com/image/delianasetia/54f6d1f4a33311c65c8b49a6/jokowi-komunis-dan-pembohong-cukup-sudah

Leave a Reply