Strategi Dakwah Menghadapi Tantangan Zaman (2)

Hikmah 2 Jun 2020 0 85x

Oleh : Muh. Waluyo, Lc., M.A. (Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)

Rasulullah saw., pada awalnya berdakwah melalui pendekatan individual (personal approach) dengan mengum-pulkan kaum kerabatnya di bukit Shafa. Kemudian berkembang melalui pendekatan kolektif seperti yang dilakukan saat berdakwah ke Thaif dan pada musim haji. Penyampaian dakwah Islamiyah haruslah disempurnakan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga cahaya hidayah Allah swt. tidak terputus sepanjang masa.

Para rasul dan nabi adalah tokoh-tokoh dakwah yang paling terkemuka dalam sejarah umat manusia karena mereka dibekali wahyu dan tuntunan yang sempurna. Konsekuensi dari itu kita harus senantiasa berusaha mengikuti jejak para nabi dan rasul dalam menggerakkan dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, dalam berbagai kondisi dan situasi.

Jalan dakwah yang telah dicontohkan Rasulullah saw., selama ini adalah dakwah yang mengedepankan keteladanan dan nasihat yang baik. Dakwah yang dikedepankan dalam ajaran Islam adalah dakwah yang menyejukkan hati setiap orang. Poin penting yang juga dijalani Rasulullah dalam berdakwah adalah mengedepankan empati.

Konteks penyampaian ayat-ayat Allah swt., berangkat dari persoalan yang dihadapi masyarakat. Rasul juga selalu mampu merasakan persoalan yang dihadapi umatnya. Perasaan empati ini akan membuat dakwah menjadi lebih mengena. Rasa empati juga akan membuat juru dakwah dapat memahami situasi yang sedang dihadapi objek dakwahnya. Pemahaman seperti ini sangatlah penting, supaya materi dakwah yang disampaikan dapat benar-benar menjawab persoalan yang tengah dihadapi publik. Kesalahan dalam memahami situasi dan perasaan audiens dapat membuat dakwah seseorang mengundang resistensi.

Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sebagai ormas Islam yang lahir jauh sebelum kemerdekaan, telah mempraktikkan dakwah baik secara induvidu maupun kolektif, bahkan telah diorganisasi dengan rapi melalui persyarikatan formal. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tidak hanya berdakwah dengan bil-lisan, tetapi diiringi dengan dakwah bil-hal yang diwujudkan dengan berbagai amal usaha sebagai upaya pencerahan dan pemberdayaan, serta sebagai wujud rasa empati kepada masyarakat.

Penggabungan metode dakwah bil-lisan dan bil-hal yang telah dipraktikkan oleh Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dan sebagian ormas Islam lainnya, ternyata terbukti dapat  membantu sebagian besar tugas negara  dalam menghadapi tantangan zaman. Dengan hadirnya ribuan sekolah Muhammadiyah dan ratusan kampus yang dimiliki oleh Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, pemerintah sangat terbantu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Ratusan rumah sakit dan Panti Asuhan Muhammadiyah telah meringankan problem kesehatan dan sosial masyarakat yang pada dasarnya menjadi tugas utama negara. Demikian pula  amal usaha lainnya, seperti ribuan masjid, lembaga keuangan,  dan sebagainya.

Dalam konsep pemikiran yang praktis, M. Amien Rais (dalam Saifullah, 2006) menawarkan lima “Pekerjaan Rumah“ dalam dakwah yang perlu di-selesaikan agar dakwah Islam di era informasi sekarang tetap relevan, efektif, dan produktif, dan berkesinambungan.

Pertama,perlu ada pengkaderan yang serius untuk memproduksi juru-jurudakwah dengan pembagian kerja yang rapi. Ilmu tabligh saja tidak cukup untuk mendukung proses dakwah, melainkan diperlukan pula berbagai penguasaan dalam ilmu-ilmu teknologi informasi yang paling mutakhir.

Kedua, setiap organisasi Islam yang berminat dalam tugas-tugas dakwah perlu membangun laboratorium dakwah. Dari hasil “Labda” ini akan dapat diketahui masalah-masalah riil di lapangan, agar jelas apa yang akan dilakukan.     

Ketiga, proses dakwah tidak boleh lagi terbatas pada dakwah bil-lisan, tetapi harus diperluas dengan dakwah bil-hal, bil-kitaabah (lewat tulisan), bil-hikmah (dalam arti politik), bil-iqtishadiyah (ekonomi), dan sebagainya.

Keempat,media massa cetak dan terutama mediaelektronik harus dipikirkan sekarang juga. Media elek-tronik yang dapat menjadi wahana atau sarana dakwah perlu dimiliki oleh umat Islam. Apabila udara Indonesia di masa depan dipenuhi oleh pesan-pesan agama lain dan sepi dari pesan-pesan Islami, maka sudah tentu keadaan seperti ini tidak menguntungkan bagi peningkatan dakwah Islam di tanah air.

Kelima, merebut remaja Indonesia adalah tugas dakwah Islam jangka panjang. Anak-anak dan para remaja adalah aset yang tidak ternilai. Mereka wajib diselamatkan dari pengikisan akidah yang terjadi akibat “invasi“ nilai-nilai non-Islami ke dalam jantung berbagai komunitas Islam di Indonesia. Apabila anak-anak dan remaja kita memiliki benteng tangguh dalam era globalisasi dan informasi sekarang ini, insya Allah masa depan dakwah kita akan tetap ceria (Saifullah, 2009: 19).

Kelima hal di atas memang harus mendapat perhatian serius oleh para pelaku dan penggerak dakwah dalam rangka menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Umat Islam perlu sesegera mungkin untuk menggerakan ekonomi keumatan berbasis wakaf, zakat, infaq, sedekah, serta hibah. Kebangkitan ekonomi keumatan ini akan dapat menggeser dominasi ekonomi kapitalis di kemudian hari karena cengkraman ekonomi kapitalis selama ini sangat merugikan umat Islam dan mengancam masa depan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 2 Februari 2020

Sumber Ilustrasi : https://muslimobsession.com/islam/

Leave a Reply