Strategi Pembelajaran Tatap Muka di Masa Pandemi Covid-19

Berita 15 Sep 2021 0 101x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – “Berbagai macam tantangan pada masa pandemi Covid-19 banyak dihadapi oleh berbagai sektor, salah satunya adalah sektor pendidikan. Covid-19 sebagai katalis mendorong perubahan dengan begitu cepat di mana institusi-institusi pendidikan bergerak mencari solusi inovatif,” ujar Alpha Amirracrahman selaku Sekretaris Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah dalam acara Silaturrahim Nasional Forum Guru Muhammadiyah Kota Pekanbaru yang dilakukan secara virtual pada Rabu (15/9).

Sekretaris Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah itu mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi para siswa dalam melakukan pembelajaran jarak jauh salah satunya adalah kepemilikan gadget dan akses internet yang kurang baik, sehingga hal ini membuat mereka tidak dapat mengikuti proses pembelajaran dengan maksimal. “Kepemilikan tablet pribadi sudah merupakan hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari di beberapa negara, namun tidak di negara dengan ekonomi yang belum begitu maju, termasuk Indonesia,” tuturnya.

Alpha menyebut berbagai kendala yang dihadapi selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Pertama, guru. Menurutnya, guru mengalami kesulitan dalam mengelola PJJ dan cenderung fokus pada penuntasan kurikulum; kemudian, waktu pembelajaran berkurang sehingga guru tidak mungkin memenuhi beban jam mengajar; selain itu, guru mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang tua sebagai mitra di rumah.

Kedua, orang tua. Alpha mengatakan, tidak semua orang tua mampu mendampingi anak belajar di rumah karena ada tanggungan lainnya, seperti bekerja dan melakukan pekerjaan rumah, kemudian kendala lain, orang tua mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran dan memotivasi anak saat mendampingi belajar di rumah.

Ketiga, siswa. Kata Alpha, siswa mengalami kesulitan konsentrasi belajar dari rumah dan mengeluhkan beratnya penugasan soal dari guru, siswa juga mengalami rasa stres dan jenuh akibat isolasi yang berkelanjutan. Hal ini, menurutnya, berpotensi menimbulkan rasa cemas dan depresi bagi anak.

Baca Juga: Pro Kontra Pembelajaran Tatap Muka

Meski begitu, lanjut Alpha, pemerintah tidak tinggal diam. Pemerintah mengeluarkan kebijakan kurikulum darurat yang diharapkan dapat membantu mengurangi kendala yang dihadapi guru, orang tua, dan anak selama pembelajaran secara daring, salah satunya memberikan modul pembelajaran yang mencakup uraian pembelajaran untuk guru, orang tua, dan siswa. Modul belajar ini dipergunakan dalam proses pembelajaran agar anak-anak dapat bermain dan belajar.

Selain dengan memberikan modul pembelajaran, tambah Alpha, pemerintah juga telah membolehkan pembelajaran tatap muka, tetapi tetap dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Karena kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.

Alpha menyebutkan, beberapa kebijakan pemerintah dalam penerapan pembelajaran tatap muka di antaranya: (a) harus dilakukan secara bertahap; (b) mempunyai ukuran kelas dengan ukuran yang standar; (c) mempunyai ventilasi udara yang terbuka; (d) mengatur jarak minimal antar peserta didik yaitu dua meter; (e) maksimal pertemuan belajar selama empat jam.

Di akhir penjelasannya, Alpha menyampaikan dua pesan: pertama, keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama; kedua, para siswa harus tetap dipastikan tidak terputus haknya untuk mendapatkan pembelajaran akibat adanya pandemi Covid-19 ini. (rizka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *