Stres Parenting saat Pandemi COVID-19

Parenting 23 Oct 2020 0 50x

Oleh : Dr. Eva Latipah, S.Ag., S.Psi., M.Si (Dosen UIN Sunan Kalijaga)

Pandemi COVID-19 yang melanda hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, membuat banyak peraturan baru diberlakukan. Misalnya, pada 15 Maret 2020 lalu, Presiden RI mengimbau rakyat Indonesia untuk belajar, bekerja, dan ibadah dari rumah. Imbauan ini ditindaklanjut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan melalui surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan pendidikan dalam masa darurat pandemi COVID-19 pada 24 Maret 2020. Salah satunya adalah proses pelaksanaan belajar-mengajar yang dilaksanakan dengan model jarak jauh, yakni siswa belajar dari rumah. 

Bersamaan dengan itu, dikeluarkan pula aturan bekerja dari rumah/tempat tinggal (Work from Home/WfH) melalui Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 19 Tahun 2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara. Dalam implementasinya, aturan ini tidak berlaku hanya untuk ASN, melainkan juga untuk seluruh karyawan perusahaan/lembaga swasta.

Dengan demikian, selama masa pandemi COVID-19, orang tua harus terlibat mendampingi belajar jarak jauh anaknya, dan dalam waktu bersamaan orang tua harus tetap WfH. Tak hanya itu, orang tua juga disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan domestik yang tentunya sangat menguras pikiran dan tenaga. Keterbatasan pikiran, tenaga, dan situasi yang tidak menentu menjadikan orang tua merasa tertekan secara fisik dan psikis (stres).

Problematika Pembelajaran Jarak Jauh

Belajar jarak jauh berarti belajar dari rumah, di mana siswa dan guru berada di lokasi terpisah, sehingga memerlukan sistem komunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dan berbagai sumber daya yang diperlukan di dalamnya. Pembelajaran daring (online) ini menggabungkan teknologi elektronika dan internet. 

Dalam prosesnya, siswa tidak dituntut untuk menuntaskan capaian kurikulum agar dapat naik kelas atau lulus. Materi belajar dari rumah difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup yang relevan dengan kondisi saat ini, misalnya apa pengertian dan dampak pandemi COVID-19. 

Meskipun begitu, banyak masalah menyusul diberlakukannya aturan sekolah dari rumah. Pertama, akses atau fasilitas belajar yang dimiliki siswa di rumah tidaklah sama. Ada yang memiliki akses perangkat teknologi dan internet yang mumpuni. Ada pula yang bahkan tak memiliki telepon genggam.

Kedua, banyak siswa yang tidak mengerti materi pelajaran tetapi ter-kendala memahaminya karena tidak adanya pendampingan guru secara fisik. Ketiga, terkadang murid mengerjakan terlalu banyak soal dari beberapa guru pengampu pelajaran. 

Terakhir, keterbatasan infrastruktur pendukung jaringan internet di wilayah pinggiran. Sekolah-sekolah yang tidak memiliki fasilitas pembelajaran online mengalami kesulitan dalam mengejar ketertinggalan materi pembelajaran. Ketiadaan infrastruktur menjadi hambatan mendasar untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh. 

Respons dan Tahapan Stres Pendampingan Belajar Jarak Jauh

Tak bisa dimungkiri, proses belajar jarak jauh menjadikan anak stres. Hal ini secara tidak langsung membuat orang tua ikut tertekan, terlebih adanya tuntutan WfH dan pekerjaan domestik yang juga harus diselesaikan. Orang tua merespons situasi ini dengan berbagai perasaan yang dialami seperti merasa tertekan, mudah tersinggung, tidak dapat berpikir dengan tenang, sulit tidur, sering mengalami gangguan pencernaan seperti kembung, diare, dan sembelit, nafsu makan berkurang, mudah sakit seperti sakit kepala, mudah lelah, dan pegal-pegal, serta letih dan lesu.

Gejala stres tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui beberapa tahapan. Pada awalnya orang tua merasa lebih semangat mendampingi anak belajar. Orang tua juga mengalami peningkatan energi, merasa puas dan senang karena dapat mengerjakan WfH dan pendampingan sekaligus. Muncul rasa gugup saat WfH dan pendampingan, namun mudah diatasi, misal dengan melakukan selingan menarik napas atau sekadar mengucapkan “Alhamdulillah dapat teratasi”. Inilah gejala stres tahap pertama. 

Melakukan banyak tugas berat secara rutin dan bersamaan, akhirnya
membuat orang tua mengalami kele-tihan. Otot-otot menegang karena pikiran dan tenaga dikerahkan secara terus menerus. Keletihan yang tak berujung menyebabkan adanya gangguan pencernaan. Dalam situasi ini orang tua telah mengalami stres tahap kedua.

Tahap selanjutnya, orang tua menunjukkan gejala seperti tegang, sulit tidur, badan terasa lemas, dan lesu. Tahapan ini menunjukkan adanya gangguan psiksomatis pada orang tua.

Pada saat orang tua tidak mampu menanggapi situasi dan konsentrasi menurun, serta mengalami insomnia, pada saat itulah orang tua telah mengalami tahap keempat dan kelima dari stres. Tahap puncaknya (tahap keenam) terjadi saat orang tua mengalami detak jantung meningkat, gemetar sehingga dapat menyebabkan pingsan. 

Tahapan-tahapan di atas terjadi secara alami. Jika orang tua melalui tahapan-tahapan ini dengan baik, itu menunjukkan orang tua dapat bertoleransi terhadap stres. Sebaliknya, jika orang tua melalui tahapan-tahapan stres dengan tidak baik, misal orang tua jatuh sakit, itu menunjukkan orang tua tidak toleran terhadap stres dan perlu intervensi medis-psikologis.

Mengatasi Stres 

Kunci utama dalam menghadapi stres saat WfH dan mendampingi belajar anak saat pandemi corona adalah sikap toleran terhadap situasi-situasi yang dirasa tidak menyenangkan. Terdapat dua langkah besar yaitu menyadari situasi sulit yang sedang dihadapi dan mengatur strategi mengatasi kesulitan tersebut.

Langkah pertama dapat dilakukan dengan cara menjelaskan kepada seluruh anggota keluarga untuk menyadari dan menerima situasi sulit ini. Hal ini bertujuan agar semua anggota keluarga mengambil peran untuk bertanggung jawab atas situasi sulit ini. Hal yang tidak kalah penting adalah memberikan penjelasan mengapa situasi sulit ini terjadi dari berbagai perspektif, seperti perspektif sains, teknologi, psikologi, pendidikan, hukum, dan bahkan agama. 

Baca selengkapnya di Rubrik Edukasiana, Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 5, Mei 2020

 

Leave a Reply