Sejarah

Suara Aisyiyah dalam Arus Zaman

Buya Syafii Maarif

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dalam Kongres ‘Aisyiyah ke-21 tahun 1938 di Medan, salah seorang tokoh puncaknya Siti Hajinah (1906-1991), sosok intelektual perempuan, melontarkan ungkapan ini: “Marilah Soeara ‘Aisjijah itu kita hidupi betul-betul… Kalau tidak, baiklah kita bunuh saja mati-mati dan kita tanam dalam-dalam.” Pada tahun itu SA (Suara ‘Aisyiyah) sudah berusia 12 tahun dihitung sejak terbit pertama kali tahun 1926, sembilan tahun sesudah pembentukan organisasi induknya ‘Aisyiyah pada 19 Mei 1917.

Sosok intelektual Siti Hajinah saat itu berusia 32 tahun. Tokoh ini merupakan salah seorang bidan utama bagi kelahiran SA. Oleh sebab itu perlu dibicarakan untuk menyegarkan ingatan siapa tokoh ini agar generasi sekarang tidak hanyut dalam amnesia (pelupa). Siti Hajinah adalah putri pedagang batik Muhammad Nardju yang kaya. Maka tidak mengherankan Hajinah dimasukkan ke sekolah Belanda yang pada waktu itu menuai kritik yang tajam dari masyarakat. Nardju tidak peduli, karena saudagar ini punya pemikiran modern: perempuan wajib bersekolah.

Demikianlah Hajinah masuk HIS (Hollandsch Inlandsche School), setingkat SD sekarang, dengan bahasa Belanda sebagai pengantar. Rampung HIS, Hajinah meneruskan pendidikannya ke FHS (Fur Huischouds School), sekolah kepandaian putri. Dengan latar belakang pendidikan ini, Hajinah bukan saja bintang di lingkungan ‘Aisyiyah, tetapi juga disegani oleh organisasi semasa, seperti Taman Siswa, Budi Utomo, Wanita Katolik, dan lain—lain.

Dalam kongres perempuan pertama pada 22-25 Desember 1928, Hajinah menyampaikan pidato dengan judul: “Persatuan Manusia,” padahal usianya waktu itu baru 22 tahun. Karena sadar akan kemampuan Hajinah, maka tahun 1930 pimpinan ‘Aisyiyah telah mengutusnya ke berbagai daerah nusantara: Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain. Mungkin karena kesibukannya yang luar biasa dalam organisasi, Hajinah sedikit terlambat menikah dengan Mh. Mawardi Mufti (dari Banjarnegara) tahun 1935 saat usianya 29 tahun.

Baca Juga: Diplomasi Aisyiyah: Sisi Lain Siti Hayinah

Dari sumber-sumber yang sempat saya baca, ketika berkunjung ke suatu daerah yang tidak faham bahasa Indonesia, Hajinah dibantu oleh penerjemah. Tetapi, ini hebatnya, kunjungan ke Manado dan Gorontalo yang masyarakatnya banyak yang paham bahasa Belanda, Hajinah menyampaikan pidatonya tentang Islam dan masalah pemberdayaan perempuan dalam bahasa Belanda.Buya Syafii Maarif

Dia benar-benar bintang ‘Aisyiyah dan salah seorang bintang perempuan terdidik di Indonesia. Saya berharap agar SA mengumpulkan pidato-pidatonya itu untuk diterbitkan dalam bentuk buku. Dokumen semacam ini sangat penting, sesuatu yang kurang terawat oleh Muhammadiyah selama sekian puluh tahun.

Saya sendiri beruntung sebab sempat bertemu dengan tokoh ini tahun 1950-an, karena suaminya Mh. Mawardi adalah pimpinan Madrasah Mu’allimin, tempat saya pernah belajar. Saya pada waktu itu, saya tidak sadar akan kehebatan Siti Hajinah ini. Maka tidaklah mengada-ada, sekiranya Hajinah diusulkan jadi pahlawan nasional karena perannya yang begitu penting dalam gerakan kemajuan perempuan untuk Indonesia.

Pidato Medan dan SA dalam Arus Zaman

Dalam pidatonya di Medan seperti tersebut di atas, keadaan internal SA waktu itu lagi mati suri. Sedang lesu darah oleh beberapa penyebab, antara lain, karena kebiasaan membaca di kalangan perempuan sangatlah lemah dan rendah. Pidato itu adalah tanda keprihatinan yang amat dalam dari seorang Hajinah yang benar-benar paham akan fungsi literatur bagi kemajuan manusia, terutama perempuan yang di era itu lebih 90 % buta huruf. Tidak sia-sia Muhammad Nardju memasukkannya ke sekolah modern model Barat. Itulah sebabnya, pernyataan Hajinah menjadi sangat penting untuk direnungkan. Sebagaimana kita ketahui SA semula memakai bahasa Jawa, tetapi pada tahun 1927 sudah menggunakan bahasa Melayu, setahun mendahului Sumpah Pemuda, Oktober 1928.

Siti Hajinah tidak hanya berkutat di lingkungan ‘Aisyiyah, tetapi dia juga diminta mengajar di sekolah-sekolah negeri di Yogyakarta dan Magelang. Dengan fakta tersebut, tokoh ‘Aisyiyah ini telah menjadi milik masyarakat luas, sesuatu yang perlu ditiru oleh generasi yang datang kemudian dengan syarat bekal ilmu dan bahasa asing yang memadai. Sebagian besar angkatan penerus yang lahir pasca proklamasi punya kekurangan dalam penguasaan bahasa asing ini, sehingga literatur yang dibaca menjadi terbatas dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah.

Baca Juga: Suara Aisyiyah Raih Rekor MURI Majalah Perempuan Tertua yang Berkesinambungan Terbit

Pada tahun 2021 ini, SA telah menapaki usianya yang ke-95, nyaris satu abad. Dengan segala suka duka perjalanan yang telah dilampauinya, nafas hidupnya yang tidak selalu lega, kemampuan bertahan SA patut disyukuri. Dengan oplag sekitar 7000 sekarang, SA memang masih perlu terus berbenah diri tanpa henti. Mitranya SM (Suara Muhammadiyah) baru sejak lima tahun terakhir ditangani dan dikembangkan secara sungguh-sungguh dengan mendirikan anak-anak perusahaan yang alhamdulillah menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Tokoh utama di belakang kemajuan ini bukan seorang ekonom, tetapi tamatan S2 UIN Sunan Kalijaga, Bung Deny Asy’ari, M.A.

Di tangan dingin Deny, SM sekarang sudah boleh berbangga, sekalipun oplagnya masih di bawah angka 30.000. Saya sebagai pemimpin umum SM sejak 2002 manjadi terheran-heran mengikuti kiprah dan langkah Deny ini yang tak terbayangkan sebelumnya. SA bisa belajar kepada SM untuk mengembangkan diri lebih jauh. Manajemen SA perlu selalu dievaluasi. Para pengelola tidak perlu mewah, tetapi karyawan kecil tidak boleh kurang gizi. Dalam proses evaluasi itu, ilmu manajemen modern perlu dijadikan acuan. Untuk kualitas isi, para penulis muda perlu diundang.

Tantangan ke depan untuk semua media cetak sungguh dahsyat. Budaya serba digital telah semakin menyulitkan media cetak untuk berkembang. Ini berbeda dengan nasib radio yang bisa bersaing dengan TV. Keunggulan radio terutama terletak pada organ telinga manusia sebagai satu-satunya sahabat setianya. Berita radio bisa didengar dalam kegelapan, sedangkan media cetak memerlukan cahaya dan mata yang sehat. Begitu juga media digital.

Akhirnya, SA selama 95 tahun telah menunjukkan elan vital-nya untuk bertahan sebagai satu-satunya majalah perempuan di Indonesia yang berumur panjang dalam arus lintasan zaman. Sekalipun tidak perlu terlalu prihatin sebagaimana Siti Hajinah pada tahun 1938, SA mesti berani mengkritik dirinya setajam-tajamnya dalam menghadapi serba kemungkinan masa depan yang sukar diperkirakan. Selamat milad yang ke-95!

Related posts
Berita

Semarak Pekan ASI Sedunia, Suami Diminta Memberikan Bantual Moril dan Materil

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Suara ‘Aisyiyah menggelar diskusi online melalui siaran langsung Instagram bersama dengan Mita Wulansari, salah satu dokter di RS…
Tokoh

Siti Hayinah di Mata Keluarga: Teguh dalam Pendirian, Bijak dalam Keputusan

Oleh: Sirajuddin Bariqi Rumah di jalan Agus Salim No. 30, Kelurahan Notoprajan, Kecamatan Ngampilan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta itu masih…
Tokoh

Siti Hayinah: Sang Penggerak Organisasi

Oleh: Ahimsa W. Swadeshi/HNS Sejak berdiri pada tahun 1917, melalui tangan-tangan perempuan yang ikhlas beramal dan berdarma bakti, ‘Aisyiyah berkomitmen untuk berperan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.