Suara Aisyiyah Institut: Yang Tertulis Akan Mengabadi

Berita 14 Agu 2021 0 116x
Suara Aisyiyah Institut

Suara Aisyiyah Institut

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Verba volant scripta manent (yang diucapkan akan berlalu bersama angin, yang tertulis akan abadi). Menulis, sebagaimana disampaikan Hajriyanto Y. Thohari, merupakan upaya untuk mengabadikan gagasan.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam kegiatan Suara ‘Aisyiyah Institut dengan tema “Melintas Batas dengan Produktif Menulis” yang diselenggarakan pada Sabtu (14/8). Kegiatan ini menghadirkan Dubes RI untuk Lebanon Hajriyanto Y. Thohari dan Sekretaris PP ‘Aisyiyah Tri Hastuti Nur R.

Mengawali kegiatan, Pemimpin Perusahaan Suara ‘Aisyiyah Khusnul Hidayah menyampaikan bahwa SA Institut merupakan upaya penguatan literasi kader ‘Aisyiyah, sebagaimana amanat Muktamar ‘Aisyiyah di Makassar pada 2015. Pernyataan senada disampaikan Susilaningsih Kuntowijoyo. Mewakili PP ‘Aisyiyah, Susilaningsih berharap bahwa setelah pelatihan ini, akan lebih banyak lagi kontribusi bagi Suara ‘Aisyiyah, baik untuk majalah maupun website.

Hajriyanto Y. Thohari menyambut baik kegiatan ini. Sebagai pembuka, guna memotivasi peserta kegiatan, ia menceriterakan pengalaman menulisnya sejak berstatus mahasiswa. Pengalaman menulis itu bahkan pernah membawanya berangkat haji.

Baca Juga: Spirit Literasi ‘Aisyiyah: Sebuah Analisis Sejarah

Saat ini, di tengah kesibukannya, Hajriyanto tetap produktif menulis. Terbaru, ia menerbitkan buku Anthropology of the Arabs dan Muhammadiyah dan Orang-Orang Bersahaja. Meski begitu, ia merasa masih belum produktif menulis, apalagi jika dibandingkan dengan penulis-penulis profilik seperti Kuntowijoyo dan Buya Hamka.

Lebih lanjut, baginya, untuk dapat menghasilkan karya tulis, seseorang harus banyak membaca. “Read a lot, write a lot. Membaca dan menulis itu dua aktivitas yang tidak dapat dipisahkan. Orang tidak akan mungkin menjadi penulis kalau tidak membaca. Yang suka membaca saja belum tentu menjadi penulis, apalagi yang tidak membaca,” jelasnya.

Membaca yang dimaksud Hajriyanto mempunyai pengertian yang luas. Tidak sekadar membaca buku saja, tetapi bisa dalam makna membaca realitas, fenomena alam, dan sebagainya. Dari proses membaca itulah karya tulis dibuat.

“Saya yakin betul ibu-ibu ‘Aisyiyah bisa menulis, karena kalau berbicara begitu runtut, begitu sistematis. Menulis itu ya seperti kita berpidato saja, yang ada di pikiran kita, konsep-konsep yang ada di pikiran kita,” ujar Hajriyanto.

Selanjutnya, Sekretaris PP ‘Aisyiyah Tri Hastuti menjelaskan mengenai perspektif perempuan dalam tulisan. Ia mengamati saat ini masih banyak tulisan yang menjadikan perempuan sebagai sebuah obyek. “Dalam liputan Olimpiade Tokyo, misalnya, salah satu media massa di Indonesia menggunakan cara pandang male gaze, misoginis, atau menjadikan perempuan sebagai sebuah obyek,” jelasnya.

Baca Juga: Suara Aisyiyah Tahun 1932: Kesetaraan Gender Jangan Hanya Dimaknai Pemenuhan Hak Perempuan di Ruang Publik

Kesadaran dan kemampuan jurnalis atas perspektif gender, menurutnya, juga masih minim. Padahal di tengah era teknologi digital seperti saat ini, peluang untuk menyuarakan suara perempuan semakin terbuka.

“Perempuan mempunyai peran membumikan dan memviralkan narasi-narasi alternatif yang sarat keadilan, keberagaman, dan kedalaman sebagai upaya menjadi Muslim dan Muslimah rahmatan lil ‘alamin,” pungkas Tri Hastuti. (sb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *