Suara Aisyiyah Tahun 1927: Perjuangan Mengangkat Derajat Perempuan

Wawasan 3 Jun 2021 4 210x
Majalah Suara Aisyiyah 1927

Majalah Suara Aisyiyah 1927

Pada awal abad ke-20, ‘Aisyiyah turut meramaikan perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak-hak kemanusiaannya. Sebagaimana tertera dalam banyak ayat al-Quran, perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki untuk terlibat dalam aktifitas publik, serta hak untuk ikut serta dalam berlomba-lomba mengerjakan amal saleh. Peran perempuan bukan hanya di dapur, sumur, dan kasur.

Spirit perjuangan itu pada mulanya ditanamkan oleh Kiai Ahmad Dahlan. Sosok yang dikenal sebagai pembaharu Islam di Indonesia itu mengajarkan tafsir progresif dan praksis ke keluarga, murid, dan masyarakat sekitar. Usaha Kiai Dahlan untuk memajukan kehidupan perempuan termanifestasikan dengan berdirinya ‘Aisyiyah pada tahun 1919.

Baca Juga

Sejarah ‘Aisyiyah: Kelahiran Perempuan Muslim Berkemajuan

Tujuh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1926, ‘Aisyiyah mendirikan sebuah media diseminasi informasi organisasi dan keagamaan yang diberi nama Suara ‘Aisjijah. Wacana yang digaungkan Suara ‘Aisyiyah pada masa awal-awal pendiriannya adalah tentang Islam dan perempuan.

Derajat Perempuan dalam Islam

Pada tahun 1927, seorang pengajar di Tajmilul Akhlak ‘Aisyiyah menulis sebuah artikel di Suara ‘Aisyiyah berjudul “Deradjading Tijang Estri Wonten Ing Agami Islam”. Artikel berbahasa Jawa tersebut menjelaskan bahwa Islam sangat menghargai perempuan. Penulisnya mengutip pendapat seorang aktivis hak asasi perempuan kelahiran Inggris Annie Besant yang mengatakan bahwa ajaran Islam menempatkan perempuan dengan adil, “pandjenengane Nabi Moehammad anggone maringi katrangane choekoem sjarak marang wong wadon ikoe adil banget” (hlm. 51).

Islam telah mengangkat derajat perempuan dari posisi yang termarginalisasi. Sebagaimana jamak diketahui, lanjut artikel tersebut, pada masa Arab Jahiliyah, perempuan ditempatkan sebagaimana barang yang tidak punya harga. Dalam beberapa kasus, keluarga yang melahirkan anak perempuan merasa mendapatkan sial atau tidak beruntung, sehingga anak tersebut dibunuh.

Baca Juga

‘Aisyiyah: Pelopor Perempuan Berkemajuan

Kehadiran Nabi Muhammad saw. di tengah marginalisasi kaum perempuan merupakan suatu rahmat dari Allah swt. Beliau mengangkat perempuan ke derajat yang semestinya. Menempatkan mereka layaknya manusia pada umumnya. “Kados sampoen terang, bilih dawoehing agami Islam oetawi piwoetjalipoen K. Nabi poenika boten kok bade ngesoraken tijang estri, poenika boten, nanging malah ngoenggoelaken dateng kita tijang estri” (hlm. 52).

Anjuran Berkerudung

Masih dalam edisi yang sama, terdapat satu artikel yang menjelaskan anjuran bagi perempuan, khususnya anggota ‘Aisyiyah untuk menggunakan kerudung. Artikel tersebut menjelaskan bahwa semasa hidupnya Kiai Dahlan dikenal sebagai ulama yang menyerukan kepada para perempuan untuk menggunakan kerudung atau menutupi aurat.

Dalam al-Quran, salah satu ayat yang memerintahkan perempuan untuk menutup aurat  adalah QS. an-Nur [24]: 31.

وقل للمؤمنت يغضضن من أبصرهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها وليضربن بخمرهن على جيوبهن

Artinya, “dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…”

Voorkomen is beter dan strijden”. Pepatah berbahasa Belanda tersebut berarti “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Dalam konteks ini, pepatah tersebut disampaikan untuk menunjukkan bahwa perintah menutup aurat bertujuan untuk menjaga dan menghindarkan hal-hal yang kurang baik terjadi pada perempuan.

Baca Juga

Spirit Literasi ‘Aisyiyah: Sebuah Analisis Sejarah

Makaten oegi dawoehipun Goesti Allah. Manoesa kadawoehan noetopi ngoerat poenika, sampoen ngantos ngoerat poenika katingal. Katingalipoen ngoerat moeroegaken ngoentapaken hawa nafsoe ingkang mboten sae. Langkoeng-langkoeng ngoeratipoen tijang estri” (hlm. 61).

Diperintahkannya perempuan untuk berkerudung bukan merupakan bentuk pengekangan Islam kepada perempuan, apalagi kekangan untuk beraktifitas di luar rumah atau di ruang publik, tetapi merupakan bentuk kebijaksanaan Allah. Hal itulah yang menjadi alasan Kiai Dahlan menginisiasi gerakan perempuan berkerudung sekaligus mendorong mereka untuk terlibat aktif dan positif dalam ruang-ruang publik.

Hal-Hal Lainnya

Selain dua artikel tersebut, terdapat satu tulisan yang secara eksplisit menunjukkan arah gerak ‘Aisyiyah pada periode awal. Artikel tersebut berisi beberapa anjuran, seperti: (a) mendirikan bagian Wal ‘Ashri; (b) mengadakan Serikat Ibu yang membicarakan dan mengurus pendidikan anak tentang tabiat (moral) dan kesehatan; (c) mengirimkan putri-putrinya untuk belajar di mana saja; (d) mendirikan rumah pondokan khusus perempuan; (e) memberi teladan kepada anak dan anjuran untuk tidak memberi mereka uang jajan; (f) mendirikan musala perempuan, dan; (g) mendiskusikan perihal pekerjaan perempuan, juga tentang perkawinan dan sunat/khitan.

Baca Juga

Noordjannah Djohantini: ‘Aisyiyah Digerakkan oleh Perempuan Muslim Berpengetahuan Luas dan Berpikiran Maju

Melalui Suara ‘Aisyiyah, terbaca jelas bahwa sejak awal ‘Aisyiyah merupakan organisasi Perempuan Muslim Berkemajuan. Organisasi yang maju berasal dari pemikiran yang maju. (brq)

4 thoughts on “Suara Aisyiyah Tahun 1927: Perjuangan Mengangkat Derajat Perempuan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *