Suara Aisyiyah Tahun 1930: Sedia Payung Sebelum Hujan

Sejarah Wawasan 7 Jun 2021 0 302x
Majalah Suara Aisyiyah Tahun 1930

Majalah Suara Aisyiyah Tahun 1930

Pada edisi Oktober tahun 1930, Majalah Suara ‘Aisyiyah menggunakan dua bahasa, Jawa dan Melayu. Penggunaan bahasa Melayu ini tidak dapat dilepaskan dari peristiwa Sumpah Pemuda yang berkomitmen pada Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.

Pengelola majalah pada edisi ini adalah sebagai berikut: commisie van redactie dipegang Siti Marchamah, administrasi dipegang Siti Wakirah, dan surat menyurat dipegang Sitti Asminah Hasjim.

Terdapat sebuah pesan (permintaan) menarik di halaman sampul pada edisi ini. Pesan tersebut berbunyi, “rawatlah Soeara ‘Aisjijah ini baik-baik dan ratakanlah kepada sanak saudara dan teman sedjawat. Dengan ini tentoe tambah banjak faedahnja”.

Baca Juga: Suara Aisyiyah Tahun 1927: Perjuangan Mengangkat Derajat Perempuan

Pesan tersebut dapat dipahami mengingat Suara ‘Aisyiyah terbit dan berkembang dengan asas keikhlasan dan suka rela (diterbitkan dengan “pertjoema” dan hanya mengandalkan derma). Apalagi pada tahun sebelumnya (1929), Suara ‘Aisyiyah sempat tidak terbit lantaran mengalami kendala pendanaan. Syukur alhamdulillah, dengan segala keterbatasan dan lika-liku yang mengiringi, Suara ‘Aisyiyah tetap eksis hingga saat ini.

Sedia Payung Sebelum Hujan

“Apatah soedah tjoekoep kiranja bagi kita bangsa Moeslimin kewadjibannja, kalau soedah kendjalankan Arkanoel Islam jang kelima itoe?” Pertanyaan tersebut mengawali sebuah artikel berjudul “Bersedia Pajoeng Sebeloemnja Hoedjan”. Penulisnya menggunakan inisial nama M. A.

Sebagaimana jamak diketahui, Islam dibangun di atas lima hal, yakni mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan puasa Ramadhan, dan menjalankan haji. Dengan keterangan tersebut, M. A. menganalogikan ber-Islam adalah membangun rumah yang layak dan nyaman ditempati. Tidak cukup fondasinya saja atau tiangnya saja, tapi juga mencakup berbagai macam perkakasnya.

“Demikian poela Agama Islam, masih banjak sekali perkakasnja (bahagiannja) jang kita beloem memakainja (mendjalankannja). Seperti bertablig, berboedi pekerti, beladjar, dll. Ada poela jang ta’ dapat kita mengerdjakannja atau mendjalankannja alias tinggal mempertjajainja dengan adanja,” (hlm. 229).

Satu di antara hal yang harus dipercayai –yang menjadi penekanan dalam artikel tersebut—adalah kepercayaan atas adanya yaumul hisab (hari penghitungan). Dengan sifat Maha Adil-Nya, tulis M. A., Allah swt. mengabarkan dan memperingati manusia tentang adanya hari pembalasan. Peringatan tersebut memberikan peluang atau kesempatan pada manusia uantuk berjaga-jaga dan memperbaiki kualitas hidupnya di dunia.

Baca Juga: Suara Aisyiyah: Dari Kita untuk Kita

Dalam sebuah hadits disebutkan, hāsibū anfusakum qabla an tuhāsabū (hitunglah dirimu sebelum engkau dihitung pada hari kiamat). M. A. menjelaskan, “hitoenglah perboeatanmoe berapa jang baik dan berapa poela jang boeroek, serta perbanjaklah perboeatan jang baik poepong (mumpung, -ed) masih dapat menghitoeng,” (hlm. 229).

Lebih lanjut, M. A. mengutip sebuah hadits Nabi saw. yang menjelaskan bahwa setiap Muslim berada di antara dua kekhawatiran, yakni tentang apa yang sudah terjadi dan apa yang belum terjadi. Dalam konteks tersebut, sebelum manusia menghadapi kematian –di mana kesempatan untuk berbuat baik sudah hilang–, maka perlu untuk memperbenyak bekal amal saleh.

“Artinja, ketika kamoe masih ada dalam doenia (hidoep) dan ketika kamoe masih moeda berboeatlah kebaikan, kerdjakanlah amalan saleh, soepaja kamoe dapat beroentoeng pada hari Qiamat atau kamoe soedah mati atau kalau kamoe sampai beroesia pandjang (toewa). Sebab pada hari achirat itoe kamoe ta’ dapat menambah atau mengoerangi lagi kelakoeanmoe jang baik maoepoen jang djahat,” (hlm. 230).

Artikel ini diakhir dengan sebuah pesan tegas, “Ingatah toean-toean!!! Soewarga lega, neraka tjelaka”.

Iklan dan Kabar

Terdapat satu halaman penuh berisi iklan dan kabar. Pertama tentang iklan Majalah Soeara Moehammadijah yang terbit 10 hari sekali. Iklan ini memuat keterangan tentang ukuran majalah (27 x 18 cm), jumlah halaman (kisaran 24 sampai 32 halaman), dan harga (f 1.75 sekwartaal).

Kedua tentang kabar telah diterbitkannya kitab Nailoessangadah. Kitab tersebut ditulis dalam bahasa Jawa berhuruf Arab (pegon). Isinya tentang nasihat bagi perempuan. Yang menarik adalah adanya keterangan, “jang telah diadjarkan dalam pengadjaran Wal ‘Ashri”. Kitab ini dibanderol dengan harga f 0.20 (belum termasuk ongkos kirim).

Baca Juga: Sejarah ‘Aisyiyah: Kelahiran Perempuan Muslim Berkemajuan

Masih dalam “Kabar Penting” ini, tertulis keterangan, “bagi saudara-saudara pembatja, djika mengirimkan derma sedikitnja f 1 kepada S. A. dapat djoega 1 boeah kitab itoe dengan pertjoema”. Keterangan tersebut secara implisit menunjukkan jejak perjuangan Suara ‘Aisyiyah untuk terus menebar ilmu dan manfaat, baik melalui majalah maupun kitab-kitab yang menjelaskan perihal agama Islam. (brq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *