Suara Aisyiyah Tahun 1932: Kesetaraan Gender Jangan Hanya Dimaknai Pemenuhan Hak Perempuan di Ruang Publik

Sejarah Wawasan 14 Jun 2021 0 90x
Cover Majalah Suara Aisyiyah Tahun 1932

Cover Majalah Suara Aisyiyah Tahun 1932

Awal abad ke-20 dipenuhi kisah perjuangan perempuan Indonesia untuk meraih posisi dan peran yang sama dengan laki-laki. Kesadaran tersebut di antaranya dapat diamati dengan berdirinya Putri Mardika (1912), Kartini Fonds (1913), Wanita Taman Siswa, ‘Aisyiyah (1917), Wanito Utomo (1921), dan diadakannya Kongres Perempuan Indonesia Pertama (1928).

Di lingkungan ‘Aisyiyah, upaya mengedukasi dan menyadarkan masyarakat tentang kesetaraan gender disalurkan melalui Majalah Suara Aisyiyah. Sejak kali pertama terbit (1926), Suara ‘Aisyiyah gencar menyuarakan pesan keumatan, kebangsaan, kemajuan, dan kesetaraan. Termasuk dalam Suara ‘Aisyiyah edisi Desember tahun 1932 yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Seruan

Edisi ini diawali dengan tulisan berjudul “Seroean” yang ditulis Fathimah Latif, salah seorang kader ‘Aisyiyah dari Pasar Gedang, Padang. Tulisannya berisi seruan bagi kaum perempuan untuk giat belajar dan memajukan diri. “Ingatlah wahai bangsakoe perempoean! Selama kita dalam kedjahilan dan kelalaian tidaklah akan sempoerna kemadjoean jang telah ditjita-tjitakan itoe,” (hlm. 311).

Seruan tersebut ditujukan agar perempuan ikut berperan di atas panggung sejarah bangsa dan pemikiran agama. Perempuan yang terpelajar, menurut Fathimah, akan menjadi perantara lahirnya suatu generasi yang cerdas serta mengantarkan sebuah bangsa menuju kemajuan.

Baca Juga: Suara Aisyiyah: Dari Kita untuk Kita

Fathimah menyadari bahwa perempuan pada masa itu sudah banyak yang mengenyam pendidikan dan mempunyai ilmu yang luas, tetapi pada waktu yang sama ia menegaskan bahwa kemajuan yang dicita-citakan dan diraih harus berlandasan nilai ajaran Islam. “Memang djoega bangsa kita perempoean soedah banjak madjoe dalam kalangan ilmoe, kendatipoen begitoe jang kita maksoedkan disini ijalah madjoe dalam segalanja jang berasaskan kepada agama kita soetji, Islam,” (hlm. 310).

Lebih lanjut, ia menolak anggapan sebagian pihak bahwa Islam menolak kemajuan. Bahkan sebaliknya, Islam sangat menyerukan terwujudnya suatu peradaban yang maju. Yang menjadi titik pangkal permasalahannya, menurut Fathimah, bukan pada ajaran Islamnya, tetapi pada kesadaran, kemauan, dan kemampuan umatnya untuk maju, khususnya kaum perempuan.

Atas dasar itulah ia berseru, “saya seroekan kehadapan sdr-sdr. semoea dengan soeara jang sajoep-sajoep sampai, nah sekarang diantara kita jang telah ada mempoenjai serba sedikit ilmoe itu, marilah silahkan mempertalikan pendapatan kita itoe dengan Agama jang soetji, nistjaja tidak akan saudara-saudarakoe terdapat perlawanannja dengan tjita-tjita jang sebenarnja baik dan soetji itu. Dari sekarang kita tinggalkan lagi perkataan jang mengatakan: Agama itoe menahan kemadjoean,” (hlm. 310-311).

Deradjat Kaoem Poeteri

Menguatnya kesadaran tentang kesetaraan gender pada waktu itu juga diungkapkan oleh St. Chafsoh Moenawir dari Batoerijah, Kendal. Dalam tulisannya yang berjudul “Dapatkah Islam Mendjoendjoeng Deradjat Kaoem Poeteri”, Chafsoh mengawalinya dengan kalimat, “sebagaimana sidang pembatja telah mengetahoei, bahwa soeal terseboet itoe pada dewasa ini, baharoe ramai mendjadi pembitjaraaan” (hlm. 311).

Dalam tulisan itu, Chafsoh menekankan agar kesetaraan antara laki-laki dan perempuan jangan hanya ditandai dengan pemenuhan hak-hak perempuan di ruang publik, tetapi lebih dari itu adalah dengan memberikan hak keperempuanan mereka dan menjaga perempuan agar tidak diperlakukan sewenang-wenang oleh laki-laki. Ia mengingatkan agar jangan sampai perempuan diperlakukan layaknya barang tak berharga, sebagaimana dulu pernah terjadi pada masa pra-Islam.

Baca Juga: Suara Aisyiyah Tahun 1927: Perjuangan Mengangkat Derajat Perempuan

Islam sangat menghargai perempuan. Salah satu wujud penghargaan tersebut adalah dengan menetapkan sebuah ajaran kepada perempuan untuk melindungi diri. Pada waktu yang bersamaan, laki-laki juga diperintahkan untuk menahan diri dari syahwat. Ajaran tersebut misalnya termaktub dalam QS. an-Nur [24]: 31.

Terhadap ayat tersebut, Chafsoh menegaskan, “kalau sidang pembatja soeka memfaham ajat terseboet dengan semasak-masaknja, tentoelah akan mengetahoei, bahwa Igama Islam selaloe menghalang-halangi segala pekerdjaan jang dipandang hina dan meroesak moreel manoesia atau lagi menjakitkan hari perempoean jang dimilikinja. Dengan ini dapatlah sidang pembatja mengetahoei, bahwa Igama Islam dapat atau tidak mendjoendjoeng deradjat koem poeteri,” (hlm. 313).

***

Dua tulisan dalam Suara ‘Aisyiyah edisi Desember tahun 1932 tersebut jelas menunjukkan arah keberpihakan kader-kader ‘Aisyiyah terkait posisi dan peran perempuan. Selain itu juga membuktikan bahwa ‘Aisyiyah terus berkomitmen mencerdaskan dan memajukan kehidupan perempuan, kapan pun dan di mana pun. (brq)

Tinggalkan Balasan