Sumur-Dapur-Kasur dan Kematian

Aksara 25 Jul 2020 0 150x

Aku bosan, Mas!” kataku suatu malam ketika menikmati waktu santai bersama suami. 

Kenapa? Kok tiba-tiba bicara seperti itu?” jawab suami sambil menyeruput kopi hitamnya.

“Sebenarnya aku ingin kembali seperti dulu, sibuk dengan aktivitas di luar. Rapat, koordinasi, aksi, dan berbuat sesuatu. Tidak melulu berputar-putar dengan sumur, dapur, dan kasur” 

“Beginilah hidup di kampung, Dik, tidak banyak yang bisa kita lakukan. Bukannya kamu sendiri yang bersedia kuajak ke kaki gunung ini?” ujar suamiku  mengi-ngatkan. 

“Aku tidak kuat melihat keadaan kampung ini, Mas. Di sini satu hari saja anak perempuan tamat SD, sudah langsung dinikahkan. Bagi orang tua, buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh, akhirnya akan jadi ibu yang mengurus sumur, dapur, dan kasur. Yang dijadikan contoh oleh mereka adalah aku, Mas,” paparku gusar.

“Jangan terlalu dipikirkan,” jawab suamiku. “Tapi ‘kan Mas tahu, sejak dulu aku ini orang yang tidak bisa berdiam diri kalau ada yang tidak beres dengan masyarakat di sekelilingku. Aku akan merasa tersiksa kalau tidak bisa berbuat sesuatu, Mas. Kalau tidak bisa memberi solusi, aku ingin memilih berhenti bernafas saja, Mas,” kataku gusar.

“Mas paham apa yang kamu rasakan, tetapi kita bisa apa, Dik?” Hanya itu jawaban suami atas kegusaranku.  “Istrimu ini adalah kader persyarikatan, Mas. Aku terlahir dari ‘rahim’ kampus. Dalam diri ini mengalir ‘sel-sel’ darah Siti Walidah. Ada banyak masalah di sini, gadis-gadis banyak yang hamil di luar nikah. Sementara, bagi masyarakat, kalau yang menghamili mau bertanggung jawab, maka persoalan dianggap selesai. Ada pula sejumlah pemuda yang pada malam-malam tertentu mengadakan ritual kuda lumping dengan mengawali minum oplosan dengan dalih agar bisa menyatu dengan gerakan dan   mengundang kehadiran makhluk astral. Seperti itu parahnya masyarakat sini, Mas,” paparku panjang-lebar dengan nada frustasi.

“Dik, itu sudah biasa di kampung ini. Yang penting bukan kita, bukan keluarga kita,” jawabnya datar. 

***

Satu minggu setelah itu, aku mendapat telepon dari salah seorang sahabat waktu di kampus dulu. Aku ceritakan kepadanya bahwa aku ingin mati. Ingin sekali. Yang akan menjadi saksi kematianku nanti adalah sumur, dapur, dan kasur. 

Dia tertawa. Lantas bertanya apa sebabnya. Aku pun menceritakan secara singkat kegalauan dan deritaku. 

“Eh, orang seperti kamu aneh sekali tidak bisa menyelesaikan masalah seperti itu,” katanya menantang.

“Maksudmu?” tanyaku penuh selidik.

“Akar permasalahan di kampung suamimu itu bisa jadi karena kepedulian terhadap pendidikan sangat minim. Lebih-lebih pendidikan agama. Kamu mungkin bisa mengawali dengan menyapa anak-anak,” ujarnya.

“Maksudmu?” aku masih penasaran.

“Anak-anak kampung suamimu itu mungkin masih bisa diselamatkan dengan memasukkan nilai-nilai agama lewat bermain. Atau mungkin bisa juga dengan membuat taman bermain dan pelan-pelan kamu memasukkan kisah-kisah teladan para Nabi, sahabat, dan orang-orang saleh,” jelas temanku panjang-lebar. 

Aku terdiam cukup lama. Mengapa aku tidak terpikir seperti yang ia katakan, ya? 

“Kamu aneh sekarang, tidak seperti dulu waktu masih kuliah. Ingat, kita ini kader persyarikatan. Anak kandung dari perjuangan. Jangan sampai kita berlepas diri dari keadaan sekitar,” katanya lagi.

“Iya, terima kasih ya, sudah menelepon”

Rupanya telepon teman itu telah membuatku sedikit bisa bernafas. 

***

Aku mencoba mendiskusikan dengan suami tentang hal ini. Teras kami cukup untuk membuat perpustakaan kecil. Aku berencana membuat taman bermain untuk anak-anak. Membayangkan hal ini rasanya gairah hidup itu membaik. Aku tidak jadi ingin mati.

Pada Hari-H pembukaan taman bermain, beberapa orang tua penasaran dengan niatku ini. Kuberi mereka pengertian bahwa taman ini tidak dipungut biaya sama sekali. Dengan anak-anak bersamaku, berarti meringankan beban ketika mereka pergi ke kebun. Akhirnya, para orang tua itu pun mengerti. 

Usahaku ini memang berat. Akan tetapi, dengan memasukkan nilai-nilai agama sambil bermain setidaknya itu melegakanku. Hal itu bisa menjadi bekal dan fondasi yang bagus buat anak-anak.

Satu bulan berlalu, anak-anak taman bermain mulai terbiasa dengan dongeng dan buku-buku bergambar. Beberapa sudah ada yang tertarik belajar Iqra’ dan menghafal bacaan shalat. 

Satu tahun berikutnya, akhirnya resmi sudah pengajuan untuk mendirikan TK ABA. Dampaknya ternyata luar biasa. Dari TK ABA ini akhirnya ketertarikan para orang tua untuk mencari lebih tahu tentang agama mulai terlihat. Mereka merasa malu anak-anak mereka lebih bersemangat untuk beribadah diban-dingkan orang tuanya. 

Memang ini masih awal, tetapi aku telah memulai. Aku tidak jadi ingin mati!

Cerpen ini pernah dimuat pada Majalah ‘Aisyiyah Edisi 2, Februari 2020

 

 

Leave a Reply