Berita

Supriyatiningsih: Kesehatan Perempuan Menentukan Kualitas Generasi Bangsa

Palembang, Suara ‘Aisyiyah Perempuan dan hidup sehat merupakan satu paket yang tidak dapat dipisahkan. Hal itu mengingat peran perempuan yang erat kaitannya dengan penyediaan pangan keluarga. Sehingga, permasalahan nutrisi di Indonesia boleh jadi karena adanya kegagalan dalam membangun kesehatan perempuan.

Pernyataan itu disampaikan oleh Akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Supriyatiningsih dalam Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah-‘Aisyiyah Ke-48 dengan tema “Transformasi Pembangunan Kesehatan Semesta: Tantangan bagi Muhammadiyah”, Kamis (24/3).

Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan bahwa tingginya angka stunting adalah buah dari kegagalan kesehatan perempuan. Di Indonesia, ada 30% anak yang menderita stunting. Beberapa faktor penyebabnya adalah gizi buruk atau kondisi kesehatan yang buruk; infeksi; kurangnya sanitasi dan air bersih, dan; siklus malnutrisi berulang pada ibu muda yang miskin yang mengalami gizi buruk sebelum dan saat hamil.

Atas dasar itu, perempuan yang kerap disapa Upi ini menegaskan bahwa kejayaan suatu bangsa akan bisa dicapai jika perempuannya sehat. Sebab bagaimanapun, perempuan punya potensi untuk menjadi agent of change dalam perbaikan status kesehatan, yang itu menjadi penentu kualitas generasi bangsa.

Baca Juga: Seminar Pra-Muktamar IV: Muhammadiyah Menuju Transformasi Pelayanan Kesehatan

Potensi itu meliputi empat hal, yakni; (a) perempuan lebih banyak menerima tanggung jawab untuk kesehatan lingkungan dan sanitasi di rumah; (b) kecenderungan perempuan untuk terlibat dalam kelompok-kelompok di masyarakat secara rutin; (c) perempuan sebagai pengelola suplai pangan dan pengolah bahan pangan menjadi makanan bergizi seimbang untuk anggota keluarga, dan; (d) status kesehatan perempuan akan mempengaruhi kualitas keturunannya.

“Dalam upaya pelayanan kesehatan, unit terkecil adalah keluarga. Sehingga sesibuk apapun perempuan –dalam konteks perempuan berkemajuan–, maka dia tidak boleh meninggalkan upayanya untuk menjadi agent of change dalam perbaikan status kesehatan,” terangnya dalam seminar yang diadakan oleh Universitas Muhammadiyah Palembang.

Menurut Upi, perempuan harus dibuat sehat sejak dalam kandungan. Alasannya karena dari rahim perempuanlah generasi bangsa akan dilahirkan. Dan untuk mencapai perempuan yang sehat, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah melakukan penundaan usia perkawinan, konseling pra-nikah, penjaminan mutu pemeriksaan kehamilah terpadu, revitalisasi posyandu, jaminan mutu pasca persalinan lengkap, dan revitalisasi UKS. (sb)

Related posts
Berita

Sandiaga Uno Sebut Halal Entrepreneur sebagai Potensi Besar Perekonomian Indonesia

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Menurut data Dinas Kependudukan Catatan Sipil tahun 2022, terdapat 87% masyarakat muslim yang ada di Indonesia. Data tersebut…
Berita

Haedar Nashir: Muhammadiyah Harus Serius Memperkuat Basis Ekonomi Umat

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Memperkuat basis ekonomi umat adalah jihad fii sabilillah. Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam…
Berita

Seminar Pra-Muktamar: Muhammadiyah Mulai Lirik Sektor Industri dan Pariwisata Halal

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Muhammadiyah kembali menggelar Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah-‘Aisyiyah Ke-48, Kamis (12/5). Seminar yang dipandu oleh Universitas Muhammadiyah Bandung sebagai tuan…

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.