Ta’awun di Akar Rumput

Sosial Budaya 18 Sep 2020 0 73x

Foto : LLHPB PDA Klaten

Kejadian luar biasa telah melanda dunia, yaitu virus pandemic Covid-19. Wabah itu berkembang dengan cepat, mematikan, dan banyak pihak belum sempat mengantisipasi. Penularan antarmanusia sangat mudah. Tanpa disadari jumlah yang terinfeksi hingga ribuan pada suatu negara. Masyarakat dituntut sigap dan siap menghadapi semua itu dan bersatu mengupayakan beberapa hal, antara lain sebagai berikut.

Pertama, sosialisasi secara terus menerus untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya Covid-19. Kedua, pembersihan lingkungan dengan penyemprotan disinfektan pada rumah tinggal dan semua area kegiatan masyarakat, seperti tempat-tempat ibadah, kantor, sekolah, pasar, ruang-ruang pertemuan, dan lain-lain.

Ketiga, mencegah penularan secara pribadi dengan rajin melakukan cuci tangan menggunakan sabun, menjauhi kontak sosial, jaga jarak, dan tetap tinggal di rumah. Jika karena ada kepentingan terpaksa harus keluar rumah menggunakan masker sebagai APD (Alat Pelindung Diri). Keempat, bertawakal dan mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah dan amalan-amalan lainnya. Berdoa kepada Allah agar diselamatkan dari bencana khususnya penyakit Corona. Li kulli daa-in dawaa-un (setiap penyakit itu ada obatnya).

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ

“ …..dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (al-Maidah 5:2)

Dalam al-Qur’an gotong royong itu disebut ta’awun. Sejarah mencatat bahwa bangsa Indonesia memiliki budaya gotong royong yang di masa lalu telah mengakar. Seiring dengan perkembangan zaman dari era agraris ke era industri, yang disusul dengan era globalisasi, telah mempe-ngaruhi budaya adi luhung yang dimiliki bangsa Indonesia sehingga terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat. Potret masyarakat Indonesia yang dahulu memiliki rasa kebersamaan, rela berkorban untuk sesama dan sederhana, berubah menjadi masyarakat yang individualis dan hedonis.

Musibah besar pandemic Covid-19 ini berdampak pada berbagai aspek, misalnya berhentinya kegiatan ekonomi karena banyak masyarakat yang harus berhenti bekerja atau bekerja di dalam rumah sehingga banyak warga masyarakat yang kehilangan pendapatan, keterbatasan gerak untuk mendapatkan kebutuhan hidup, dan fasilitas lainnya. Problem besar sebagai dampak Covid-19 menjadi tanggung jawab bersama.

Oleh karena itu, saatnya menghidupkan kembali budaya ta’awun dalam masyarakat. Pimpinan Cabang dan Ranting
‘Aisyiyah menjadi penggerak dan mengajak masyarakat untuk sigap dan siap menghadapi realitas. ‘Aisyiyah dituntut hadir sebagai problem solver dari kemelut yang dihadapi masyarakat. Beberapa langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut.

Pertama, membantu petugas memberikan perhatian terhadap anggota masyarakat yang dinyatakan ODP (Orang Dalam Pantauan), serta menyediakan tempat untuk isolasi bagi PDP (Pasien Dalam Pantauan) apabila Rumah Sakit terdekat tidak mampu menampungnya dengan tetap memperhatikan dari segi keamanan, kesehatan, dan ancaman penularan. Selain itu, menggerakkan pengrajin dan rumah tangga yang mempunyai mesin jahit untuk membuat APD (alat Pelindung Diri) seperti mantel plastik dan masker.

Kedua, mengusahakan adanya lumbung pangan dan me-ngumpulkan dana, yang diarahkan untuk pengadaan bahan makanan yang dibagikan kepada orang yang menjadi miskin karena kehilangan pekerjaan maupun sakit. Lumbung pangan tersebut untuk mengantisipasi jika diberlakukan lockdown di beberapa kawasan, sehingga warga kesulitan atau tidak adanya akses untuk mendapatkan bahan makanan.

Ketiga, mengadakan lumbung hidup, yaitu dengan menggerakkan masyarakat menanam ubi-ubian (ketela pohon, ketela rambat, kentang dll), dan sayur mayur di halaman, kebun atau media tanam lain seperti pot, kaleng-kaleng bekas, dsb.)

Keempat, memanfaatkan medsos dan media lain untuk membimbing warga mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, kete-rampilan, dan kerajinan yang bermanfaat sehingga dapat dipraktikkan setelah situasi aman dan kondusif.

“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memberinya cobaan” (al-Hadis). Sigap, siap, tidak panik, tetap sabar, dan waspada. (Mahsunah)

Tulisan ini pernah dimuat pada Edisi Mei 2020

Leave a Reply