Tafsir Hunna Hartsul Lakum: Istri adalah Ibu Generasi dan “Kekayaan” Paling Berharga (Bagian 2)

Kalam 31 Mar 2021 1 41x
Istri adalah Ibu Generasi

Istri adalah Ibu Generasi

Perlakuan Sekehendak Hati

Isi pembahasan kedua dalam QS. al-Baqarah [2]: 223, memberi perlakuan sekehendak hati, tidak dapat dipisahkan dari pembicaraan pertama. Hal ini secara nyata sebenarnya ditunjukkan dengan diulangnya kata har dalam bagian awal ayat tersebut, “datangilah ladangmu”, bukan “datangilah ia” (menunjuk ke har) atau “datangilah mereka” (menunjuk ke nisa’ukum). Pengulangan ini menunjukkan bahwa mendatangi istri harus benar-benar sebagai har yang menjadi persemaian anak-keturunan dan “kekayaan” yang paling berharga dengan tidak membolehkan sama sekali memperlakukannya sebagai  objek seks dan murahan.

Dengan demikian, persepsi yang berkembang di kalangan umat yang disinggung di awal tulisan ini tidak benar. Terkait dengan ini perlu disampaikan bahwa ada asbabun nuzul mikro riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang selintas mendukung persepsi di atas. Riwayat dimaksud menyebutkan bahwa ayat itu turun berkenaan dengan adanya kepercayaan di kalangan kaum Yahudi bahwa menyebadani istri dari arah belakang akan menyebabkan anak yang dilahirkannya menjadi juling.

Kepercayaan itu diikuti oleh orang-orang Madinah yang kemudian masuk Islam. Mengetahui adanya mitos itu, Umar bin Khatab menanyakannya kepada Nabi dan sebagai jawabannya  adalah ayat itu. Dengan demikian, ayat itu diturunkan untuk membantah mitos itu, tidak untuk melegalkan kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap istri.

Di samping itu, persepsi tersebut secara selintas juga didukung oleh hadis Nabi, “Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur dan dia menolak sehingga semalaman sang suami marah, maka istri itu dilaknat oleh para malaikat sampai pagi “ (H.R. Imam Bukhari dari Abu Hurairah).

Sabda Nabi ini disampaikan sehubungan dengan  budaya pantang ghilah yang ada di kalangan bangsa Arab sebelum Islam. Ghilah adalah menyebadani istri yang sedang hamil atau menyusui. Mereka memandang ghilah sebagai tabu (Hamid al-Faqi, t.t.: 214). Budaya itu tampaknya begitu kuat sampai-sampai Nabi pernah bermaksud untuk melarangnya. Beliau baru membatalkan maksudnya setelah mengetahui bahwa ghilah yang dilakukan bangsa Persia dan Romawi ternyata tidak menimbulkan akibat buruk bagi anak-anak mereka (H.R Muslim dari Judzamah binti Wahb).

Pantang ghilah bagi mereka di zaman Jahiliyah tidak menimbulkan masalah karena mereka diperbolehkan melakukan poligami dengan tanpa ada pembatasan jumlah maksimal istri yang boleh dinikahi. Aturan atau praktik poligami yang seperti itu kemudian diubah oleh Islam dalam QS. an-Nisa’ [4]: 3 sebagai berikut.

وَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تُقۡسِطُواْ فِي ٱلۡيَتَٰمَىٰ فَٱنكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۖ فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُواْ فَوَٰحِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُواْ

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Ditegaskan dalam ayat tersebut bahwa poligami itu hanya boleh maksimal dengan empat istri, dan untuk pelaksanaannya suami disyaratkan harus bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya. Dengan adanya pembatasan poligami ini,  ghilah dirasakan berat oleh umat Islam ketika itu.

Surat an-Nisa’ yang mengatur pembatasan poligami itu merupakan surat Madaniyah yang turun pada awal tahun ke-4 H. Dengan mengabaikan kemungkinan hadis di atas sebagai mursal shahabi, sabda Nabi itu paling awal dikemukakan pada tahun ke-7 H. Hal ini karena Abu Hurairah, periwayat hadis tersebut, baru masuk Islam pada tahun itu, yakni antara Perjanjian Hudaibiyah dan Perang Khaibar (M. as-Siba’i, 1978: 292).

Dengan sabdanya itu, Nabi ketika itu bermaksud untuk mengatasi “kesulitan” yang dirasakan oleh lelaki Arab Muslim dan untuk menghilangkan budaya pantang ghilah yang masih diikuti oleh perempuan Arab. Dengan demikian, lagi-lagi tidak untuk melegalkan kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap istri.

Pemaknaan dua isi pembicaraan QS. al-Baqarah [2]: 223 di atas sejalan
dengan empat isi pembicaraan berikutnya. Maksudnya, memperlakukan istri sebagai ibu generasi dan “kekayaan” paling berharga tanpa kekerasan dan eksploitasi seksual merupakan prioritas (taqdim) usaha untuk memperoleh  kebaikan diri, usaha memperoleh ketakwaan, ekspresi kesadaran bertemu Allah dengan tanggung jawab, dan merupakan kabar gembira yang disampaikan Nabi.

Siapa yang tidak bahagia dengan perlakuan mulia kepada istri di atas?

 

(Bagian 1: Benarkah Istri adalah Ladang Suami?)

One thought on “Tafsir Hunna Hartsul Lakum: Istri adalah Ibu Generasi dan “Kekayaan” Paling Berharga (Bagian 2)”

Leave a Reply