Tokoh

Tafsir, Mujahid Kebudayaan dari Jawa Tengah

Tafsir
Tafsir

Tafsir (foto: pwmjateng.com)

Oleh: Ahimsa W. Swadeshi

Tahun memang sudah berganti, tetapi bagi warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah kenangan tahun 2022 lalu tidak mungkin begitu saja pergi. Sebab, pada tahun itu, muktamar yang terpaksa ditunda karena pandemi Covid-19 dapat diselenggarakan. Jateng alias Jawa Tengah, provinsi yang menjadi tuan rumah Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, tentu memiliki banyak kenangan di momen itu.

Di antara berbagai wajah yang ditampilkan selama muktamar, stan pameran milik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) di Colomadu mungkin menjadi yang paling unik. Pasalnya, stan yang dinamai “Panji Surya Jateng” itu berhasil menyuguhkan sebuah pameran keris. Hah, keris? Betul, keris, yang sering dianggap benda keramat dan terasa aneh jika dimiliki oleh seorang warga Muhammadiyah, kini oleh PWM Jawa Tengah, benda itu dibawa bahkan dipamerkan dalam sebuah helatan besar milik persyarikatan. Untuk apa? Dr. Tafsir, M.Ag., Ketua PWM Jawa Tengah, menjelaskan bahwa ini dalam rangka mengapresiasi karya budaya. “Keris adalah karya budaya. Menjadi sirik kalau kita menyakralkan keris. Tapi, kalau kita mengharamkan keris, itu artinya kita tidak berbudaya,” ungkapnya.

Jihad Budaya

Sejak awal, Kiai Ahmad Dahlan dengan biolanya telah mencontohkan betapa berkesannya sebuah pesan dakwah ketika disampaikan dengan cara yang indah dan menyenangkan. Hal ini yang juga menjadi sumber inspirasi Tafsir dan pimpinan Muhammadiyah di Jawa Tengah untuk mendorong dakwah yang tidak antipati terhadap budaya. Di tengah arus yang mengesankan bahwa Muhammadiyah cenderung asing terhadap budaya, laki-laki kelahiran 16 Januari 1964 itu justru berupaya untuk merajut hubungan baik antara dakwah Islam dan budaya.

Meskipun tidak berlatar belakang ilmu sosial humaniora atau ilmu budaya, Tafsir yang adalah seorang doktor studi Pemikiran Islam lulusan UIN Walisongo Semarang itu memiliki semangat besar untuk membangun dakwah berbasis budaya. Menurut Tafsir, kehidupan beragama itu mustahil terlepas dari tiga hal, yakni syariah, fikih, serta budaya, yang semuanya melingkupi kehidupan sehari-hari seseorang.

“Hanya saja, kita sering tidak bisa membedakan mana yang syariah, mana yang fikih, mana yang budaya. Kadang semuanya kita anggap sebagai syariah, sehingga sering menyalahkan satu dengan yang lain,” jelasnya.

Seringkali ketika membicarakan budaya di antara orang-orang Islam, diskusi yang muncul adalah soal halal dan haram. Padahal, menurut Tafsir, budaya memiliki peran penting, yakni untuk mensyiarkan agama serta untuk membuat masyarakat mudah menerima ajaran agama.

Baca Juga: Pemikiran Siti Baroroh Baried tentang Dakwah Kebudayaan

Inilah yang menurutnya disebut “jihad budaya”. Contohnya, seperti apa yang dilakukan Walisongo ketika berdakwah. Apalagi Muhammadiyah sendiri, disebut oleh Tafsir, memiliki spirit “Dakwah yang menggembirakan, bukan dakwah yang menakutkan.” Dengan demikian, perlu untuk memahami cara apa yang disenangi oleh sasaran dakwahnya. “Jadi, dakwah tidak cukup memahami al-Quran dan hadis, tetapi budaya masyarakat juga butuh dipahami,” tegasnya.

Cara pandang yang luas dan terbuka terhadap budaya masyarakat membawa Jawa Tengah jeli melihat potensi-potensi dakwah. Beberapa kali pimpinan wilayah ini juga mengadakan kegiatan Jateng Bersalawat dan Jateng Bermunajat yang berhasil menarik puluhan ribu jamaah.

Mengenai Jateng Bermunajat yang dilaksanakan di Simpang Lima Semarang tepat menjelang Covid-19, Tafsir menceritakan bahwa Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, kala itu pun turut hadir. “Se-Jawa Tengah berbondong-bondong kayak muktamar kemarin. Satu daerah bisa sampai 10-15 bus,” tuturnya.

Apresiasi dan Wadahi

Pada dasarnya, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tidaklah antibudaya. Nyatanya, disampaikan oleh Tafsir, bahwa organisasi ini memiliki landasan ideologis yang dituangkan dalam buku Dakwah Kultural Muhammadiyah dan Seni Budaya Islam. Kedua buku itu sama-sama diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, tetapi buku kedua diterbitkan melalui kerja sama dengan Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah.

Didorong kesadaran bahwa dakwah Muhammadiyah adalah dakwah budaya, Tafsir melalui PWM Jawa Tengah berupaya mendorong para kader dan warga persyarikatan untuk turut serta mengembangkan kebudayaan, khususnya bidang kesenian. “Kita kasih panggung untuk tampil para seniman-seniman yang ada,” ujar laki-laki yang pada tahun 2021 itu mendapatkan penghargaan apresiasi budaya dari Paguyuban Pasinaon Jawi.

Untuk itu, berbagai kegiatan menjadi ruang ekspresi budaya bagi warga Muhammadiyah di Jawa Tengah. Di antaranya, hal yang menjadi rutinitas di provinsi itu adalah pengadaan pagelaran wayang kulit setiap musyawarah wilayah (Musywil) dilaksanakan.

Pada Musywil tahun 2015 di Kudus misalnya, sebanyak 11 dalang dari berbagai daerah di Jawa Tengah menampilkan pagelaran wayang. Menariknya lagi, pada Musywil 2010 yang dilaksanakan di Purworejo, terdapat pula seorang dalang perempuan yang dihadirkan. “Namanya Dwi Puspita Ningrum dari Purworejo. Waktu itu dia sebagai mahasiswi Universitas Muhammadiyah Purworejo,” ungkap Tafsir.

Di samping agenda Musywil, berbagai pagelaran wayang juga pernah dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), serta Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Meskipun banyak kader dan warga Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah yang menyimpan sejuta potensi kesenian, tetapi belum kesemuanya mendapatkan kesempatan untuk berkembang di persyarikatan. Sehingga pemberian apresiasi dan dorongan lewat berbagai ruang ekspresi perlu terus dilakukan.

Bagi Tafsir, ini perlu terus diupayakan agar nantinya mereka tidak hanya diundang mengisi acara seremonial persyarikatan, bahkan juga bisa dikenal publik. Ia membayangkan nantinya di masa depan, musik yang kerap didengarkan dan disimak masyarakat adalah lagu-lagu yang diciptakan dan dibawakan oleh para kader persyarikatan.

Apresiasi melalui berbagai ruang dan panggung terus diupayakan oleh PWM Jateng. Kelompok Serambi Bagelen milik Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Purworejo mungkin menjadi contoh yang menarik. Ya, itulah kelompok musik yang pada saat pembukaan muktamar di Lapangan Manahan berhasil menggugah penonton dengan membawakan lagu “Panggilan Jihad” karya Buya Hamka.

Itu bukan tampilan perdana kelompok yang dipimpin oleh Dandung Danadi (Ketua PDM Purworejo) itu. Sebelumnya, mereka juga sudah pernah manggung saat Muktamar ke-47 di Makassar, bahkan beberapa kali juga diundang mengisi acara oleh ormas lain.

Selain itu, ia juga menyebut pentingnya membangun komunitas. “Grup-grup seni budaya juga dibutuhkan di masyarakat,” ungkapnya. Ini juga yang menjadikannya merasa enteng bahkan mendukung ketika seusai muktamar beberapa warga Muhammadiyah yang punya andil dalam pameran keris di stan Panji Surya Jateng mencetuskan ide membuat komunitas pencinta keris.

Hingga saat ini, ide tersebut masih dalam proses pembahasan. Menurut Tafsir, bila minat para pencinta karya-karya budaya itu dapat terwadahi, maka mereka juga akan beraktivitas di persyarikatan dengan perasaan gembira. [1/23]

Related posts
Hikmah

Agama dan Budaya dalam Islam: Perspektif Muhammadiyah

Oleh: Mohammad Damami Zain* Dalam pembicaraan sehari-hari, baik di kalangan masyarakat awam maupun di kalangan kaum terpelajar, khususnya di kalangan umat Islam,…
Liputan

Kebudayaan Muhammadiyah di Tengah Arus Zaman

“Muhammadiyah perlu menghias diri dengan kebudayaan, dengan pelestarian dan pewarisan, tidak saja dengan kemajuan dan kreativitas. Tidak ada untungnya untuk menanggalkan warisan…
SejarahWawasan

Muhammadiyah Tidak Anti Budaya

Benarkah Muhammadiyah anti kebudayaan? Benarkah Muhammadiyah anti takhayul, bidah, dan khurafat? Benarkah Muhammadiyah identik dengan gerakan Wahabi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih saja menggema,…

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *