Tantangan dan Peluang Penulisan Sejarah Aisyiyah

Berita 27 Nov 2021 0 121x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Alasan kenapa sejarah ‘Aisyiyah penting ditulis adalah karena ‘Aisyiyah merupakan organisasi perempuan tertua yang sampai saat ini masih eksis. Khusnul Hayati dari Universitas Diponegoro menjelaskan, ‘Aisyiyah memang bukan organisasi perempuan pertama yang eksis di tengah panggung peradaban bangsa Indonesia, tetapi saat ini ‘Aisyiyah adalah yang tertua yang tetap aktif.

Di forum Kongres Sejarawan Muhammadiyah Pertama, Khusnul menyampaikan materi berjudul “Yang Belum Tersentuh dari Kajian Sejarah Perempuan Muhammadiyah (‘Aisyiyah)”. Ia mengatakan, “’Aisyiyah sudah menorehkan sejarah bagi kemajuan perempuan. Tidak hanya kemajuan an sich perempuan saja, tetapi juga bagi laki-laki, bagi bangsa Indonesia”.

Sayangnya, meski sudah meraih sosial-kapital dengan ribuan amal usahanya, penulisan sejarah tentang ‘Aisyiyah belum menyentuh seluruh aktualisasi gerakan ‘Aisyiyah. Sejauh ini, kata Khusnul, lebih banyak tulisan sejarah tentang Muhammadiyah daripada ‘Aisyiyah. Oleh karena itu, merupakan tantangan bagi sejarawan ‘Aisyiyah untuk menuliskan sejarah ‘Aisyiyah agar dapat menjadi medium bagi ‘Aisyiyah untuk melangkah maju.

“Urgensi kita menulis tentang sejarah ‘Aisyiyah itu untuk mengetahui berbagai kebijakan, berbagai ide, berbagai tindakan, berbagai perilaku apa saja yang sudah dilakukan oleh ‘Aisyiyah. Berbagai perjuangan dan sepak terjang yang sudah dilakukan oleh ‘Aisyiyah ini menjadi pedoman bagi arah kebijakan untuk mengembangkan peranan dan aktivitas ‘Aisyiyah pada masa depan. Jadi sifatnya visioner, sifatnya futuristik,” terang Khusnul, Sabtu (27/11).

Baca Juga: Muhammadiyah Berikan Penghargaan ke Peneliti Sejarah Muhammadiyah

Khusnul menjelaskan, kajian dan penulisan tentang sejarah tidak hanya semata untuk membincangkan masa lalu, tetapi juga untuk mengembangkan masa depan supaya menjadi lebih arif, lebih baik, dan lebih mulia.

Sejauh ini, Khusnul mencatat ada beberapa hal terkait historiografi ‘Aisyiyah, yakni: pertama, kiprah ‘Aisyiyah dalam sejarah Indonesia sejak masa pergerakan nasional dan banyaknya jumlah amal usaha yang dimiliki tidak sebanding dengan karya tulis tentang sejarah ‘Aisyiyah. “Ini harus ditulis. Kalau tidak ditulis lama-lama generasi kita akan kehilangan (informasi mengenai peran-peran ‘Aisyiyah, -ed),” terang Khusnul.

Kedua, beberapa akademisi atau intelektual telah menulis berbagai tulisan tentang ‘Aisyiyah, dan sebagiannya merupakan hasil skripsi dan tesis. Ketiga, sejarawan akademisi Muhammadiyah-‘Aisyiyah punya tanggung jawab utama dalam pengembangan historiografi Muhammadiyah-‘Aisyiyah, tetapi harus dengan tetap mengedepankan obyektifitas sejarah.

Keempat, kebanyakan historiografi ‘Aisyiyah adalah berupa skripsi dan tesis, tetapi penelitian tentang ‘Aisyiyah belum ada yang berbentuk disertasi. “Saya cari-cari kok nggak ada ya disertasi tentang ‘Aisyiyah,” terang Khusnul.

Kelima, banyak hasil penelitian yang hanya disimpan di dalam perpustakaan, sehingga isi dari penelitian kurang bisa dipahami karena tidak tersebar di masyarakat. Keenam, soft copy publikasi ilmiah di internet sangat membantu informasi penulisan sejarah ‘Aisyiyah.

Baca Juga: Haedar Nashir Minta Sejarah Muhammadiyah Direkonstruksi secara Jujur

Lebih lanjut, Khusnul mengungkap bahwa ada beberapa masalah metodologis dalam penulisan sejarah, seperti: pertama, unit kajian, misalnya sejarah temporal dan/atau sejarah lokal. Kedua, meliputi permasalahan yang akan diangkat, seperti tentang aktivitas, peranan, dan ide. “Jadi seluruh sepak terjang Muhammadiyah-‘Aisyiyah di berbagai bidang dapat diungkapkan dalam berbagai aspek fenomena historis,” ujarnya.

Ketiga, pendekatan. Konsekuensi ketika menggunakan pendekatan dalam penulisan sejarah adalah menggunakan konsep dan teori sebagai alat analisis untuk menyeleksi data historis dan menganalisis data. Keempat, sumber sejarah. Penulisan sejarah tentu membutuhkan sumber sejarah. Sayangnya, sumber sejarah tentang ‘Aisyiyah, terutama yang lampau, sangat sulit diperoleh. Khusnul mengatakan, beberapa sumber sejarah penting memang ada, misalnya Majalah Suara ‘Aisyiyah, tetapi jumlahnya sangat minim.

Kelima, metode. Yaitu bagaimana mengumpulkan sumber. Keenam, mengungkapkan sejarah dari pernana orang dalam (internal Muhammadiyah-‘Aisyiyah).

Dengan beragam masalah metodologis itu, Khusnul melihat masih ada alternatif peluang bagi penulisan sejarah ‘Aisyiyah, yakni yang berkaitan dengan: (a) sejarah lisan, berupa peristiwa individual dan unik tokoh; (b) sejarah lokal ‘Aisyiyah; (c) sejarah intelektual, seperti transformasi sosial dalam bentuk mindset, sikap hidup, dan karakter; (d) sejarah politik; (e) sejarah kebudayaan; (f) sejarah pendidikan; (g) sejarah lingkungan; (h) sejarah kesehatan, dan; (i) sejarah lembaga yang ada di ‘Aisyiyah.

Sederhananya, kata Khusnul, masih ada banyak alternatif penelitian tentang sejarah dan peran ‘Aisyiyah yang dapat ditulis. Oleh karena itu, kader Muhammadiyah-‘Aisyiyah punya tanggung jawab untuk mengungkap fakta sejarah itu. (sb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *