Tantangan dan Strategi Keluarga di Era Teknologi Informasi

Keluarga Sakinah 24 Apr 2021 1 49x
Tantangan dan Strategi Keluarga di Era Teknologi Informasi

Tantangan dan Strategi Keluarga di Era Teknologi Informasi (foto: shutterstock)

Oleh: Susilaningsih Kuntowijoyo

Era global ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara pesat di segala bidang, termasuk perkembangan teknologi informasi. Mobilitas manusia menjadi semakin luas, mudah, dan cepat. Segala macam informasi baik yang bersifat global dan nasional dapat diperoleh dengan mudah dan cepat. Keberhasilan hidup manusia sangat terbantu oleh kemajuan teknologi informasi itu.

Namun kemudian manusia menjadi cenderung ingin yang bersifat gampang, pragmatis. Mereka juga semakin konsumtif dan materialistik. Pikiran dikuasai  dengan dorongan untuk memenuhi tawaran-tawaran yang menawan itu, sehingga sehari-hari menjadi semakin sibuk bekerja untuk menambah penghasilan. Hubungan antar manusia menjadi semakin renggang dan formalistik.

Sisi Lain

Kemajuan teknologi informasi menjadikan dunia terasa semakin sempit dan waktu juga terasa bergulir secara cepat. Segala bentuk informasi, baik positif maupun negatif, dapat diakses secara mudah oleh setiap individu dari segala lapisan dan segala umur.

Bagi orang-orang yang memang memerlukan informasi sebanyak-banyaknya dan secara cepat untuk kepentingan kegiatan positif, keberadaan alat-alat informasi sejenis handpone, tablet, dan laptop memang sangat menguntungkan. Tetapi bagi orang-orang yang kepribadiannya kurang kuat, kemudahan penggunaan alat-alat komunikasi dapat mengarahkan kepada tumbuhnya sifat dan perilaku negatif.

Banyak penipuan, perselingkuhan, pemerasan, dan kejahatan terjadi karena penggunaan alat-alat tersebut. Berseliwerannya informasi pornografi dan pornoaksi secara mudah juga semakin meningkatkan tindak seks bebas, baik di kalangan dewasa, remaja, bahkan anak-anak usia sekolah dasar. Apabila penggunaan alat-alat komunikasi tidak disertai dengan pembentukan pribadi berakhlak mulia serta pemahaman tentang penggunaan alat komunikasi secara tepat, maka dampaknya juga bisa ke keutuhan dan kesejahteraan keluarga.

Baca Juga

Beginilah Makna Keluarga Sakinah Menurut ‘Aisyiyah

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era global memang memberikan banyak keuntungan bagi kemajuan manusia, namun dampak negatifnya ternyata juga banyak dan mengancam eksistensi kemanusiaan serta kesejahteraan keluarga. Oleh karena itu, diperlukan adanya strategi untuk antisipasi dan penanganannya, dan pada paparan berikut ini akan disampaikan beberapa strategi alternatif itu.

Strategi Penguatan Keluarga

Ada dua (2) strategi yang ditawarkan dalam tulisan ini, agar suatu keluarga dapat menghadapi tantangan di era global, yaitu strategi persiapan berkeluarga dan strategi penguatan keluarga. Pertama, strategi persiapan berkeluarga. Di Indonesia tidak ada sekolah berkeluarga. Pada dasarnya orang membangun hubungan suami-istri, pengasuhan anak, dan pengelolaan ekonomi keluarga, mengalir begitu saja dan seperti bersifat coba-coba.

Keadaan tersebut mungkin tidak begitu menimbulkan masalah bagi pernikahan yang terjadi pada dekade 60-an dan 70-an karena pengaruh lingkungan relatif belum dominan. Orang tua masih menjadi figur idola utama bagi anak-anaknya dalam mengelola keluarga, dan nilai-nilai agama masih mempunyai pengaruh dominan.

Akan tetapi, semenjak memasuki abad ke-21 ketika arus pengaruh budaya global mengalir dengan bebas, kompetisi antar manusia semakin tinggi, manusia menjadi materialistik dan pragmatis, tawaran kenikmatan hedonistik lebih menarik daripada nilai moral dan agama. Maka untuk berkeluarga pun tampaknya perlu ada sekolahnya, baik secara informal melalui keluarga, secara non-formal melalui peran masyarakat, maupun secara formal melalui sekolah.

Keluarga, khususnya orang tua punya peran sentral dalam menyiapkan anak-anaknya untuk berkeluarga nantinya. Melalui pola asuh yang diterapkan dalam keluarga, orang tua harus menjadi figur idola. Hubungan harmonis dalam keluarga yang dibangun oleh orang tua akan menjadi model bagi anak-anaknya kelak; untuk menjadi manusia yang relijius, kreatif, dan produktif, serta memiliki rasa penuh kasih sayang.

Baca Juga

Hamim Ilyas: Perkawinan Harus Punya Tujuan Etis, Spiritual, dan Eskatologis

Dalam melaksanakan pengasuhan pada anak-anaknya orang tua dapat menerapkan “9 Jurus Menjadi Orangtua Bijak” sebagai berikut; 1) pentingnya bermain dan ‘waktu kita’; 2) memuji anak, membangun sikap positif; 3) keseimbangan, disiplin, dan cinta; 4) mendengar aktif, mendengar dengan hati; 5) ritual keluarga hadapi perubahan; 6) pikir dulu sebelum berkata ‘tidak’; 7) stabilkan emosi dan komunikasi, kuatkan cinta; 8) waktu rehat, waktu berfikir; 9) waktu untuk menjadi (Anggraini Dewi, 2016).

Di samping itu, orang tua juga perlu merancang pendidikan berkeluarga melalui proses pengasuhan anak-anaknya, baik semasa masih anak-anak maupun remaja. Melalui model pendidikan seksual yang tepat maka diharapkan anak-anak dapat terhindar dari perilaku penyimpangan seksual. Dengan perhatian dan kasih sayang yang penuh dari orangtuanya, anak dapat terhindar dari tindak kekerasan.

Kedua, strategi penguatan keluarga. Keluarga yang sudah terbentuk juga memerlukan penguatan, khususnya dalam hal hubungan suami istri dan strategi pengasuhan anak. Karena mungkin pasangan suami istri memerlukan bantuan pemahaman dan keterampilan berkeluarga, atau mungkin suatu keluarga sedang menghadapi masalah yang memerlukan bantuan untuk pemecahannya. Maka diperlukan adanya suatu lembaga atau sejenisnya untuk menyiapkan suatu forum yang dapat memberi bantuan. Forum itu dapat berbentuk biro konsultasi atau berbentuk lembaga kursus keluarga.

Biro konsultasi dan lembaga kursus dapat didirikan oleh lembaga pemerintah terbawah, yaitu tingkat kelurahan, RW, atau RT. Biro konsultasi dapat berbentuk sederhana, misalnya suatu kelompok kecil di sebuah komunitas yang terdiri dari beberapa orang yang peduli terhadap permasalahan keluarga di lingkungannya. Biro konsultasi dapat menangani permasalahan yang dihadapi oleh keluarga, baik yang bersifat konsultatif maupun kuratif.

Lembaga kursus keluarga diperuntukkan bagi keluarga dan sebaiknya pasangan suami istri. Materi-materi yang diberikan di antaranya tentang komunikasi efektif dalam keluarga, komunikasi seksual suami istri, pola pengasuhan anak, strategi pengelolaan ekonomi keluarga, dan strategi kewirausahaan. Materi-materi tersebut dapat membantu untuk memecahkan masalah-masalah krusial dalam keluarga.

***

Mengelola keluarga di era global memang penuh tantangan yang seringkali dapat menggelincirkan perjalanan suatu keluarga. Namun dengan berpedoman pada nilai-nilai Islam dalam tatanan berkeluarga, menerapkan strategi-strategi baru dalam pengelolaan keluarga, serta diiringi komitmen tinggi dan kepasrahan kepada Allah Swt., insya Allah suatu keluarga dapat mencapai terminal hidup berkeluarga yang penuh nikmat dan barakah.

One thought on “Tantangan dan Strategi Keluarga di Era Teknologi Informasi”

Tinggalkan Balasan