PendidikanWawasan

Tantangan Guru di Masa Pandemi Covid-19, Bagaimana Menghadapinya?

Pembelajaran Masa Pandemi
Pembelajaran Masa Pandemi

Pembelajaran Masa Pandemi (foto: pixabay)

Oleh: Mutmainah Purbalingga

Pandemi Covid-19 telah menjangkit hampir ke seluruh pelosok bumi. Tak terbendung, menyebar mulai dari ibu kota sampai ke pelosok Nusantara. Untuk memutus rantai penyebarannya, berbagai upaya telah dilakukan. Sebab, wabah tersebut telah berdampak pada seluruh sektor kehidupan, salah satunya dunia pendidikan.

Pandemi Covid-19 telah mengubah dunia pendidikan. Sistem pembelajaran berubah dari klasik menjadi pembelajaran berbasis online. Pembelajaran yang biasanya di kelas kini pindah ke rumah. Semula tatap muka kini dilakukan secara daring (dalam jaringan). Dulu buku cetak semula sebagai sumber belajar kini internet sebagai sumber informasi. Dari sinilah peran dan tanggung jawab guru akan diuji. Meskipun pendidikan mengalami perubahan, guru tetap sosok yang berperan penting dalam pendidikan. Mereka memiliki tanggung jawab besar dalam mencetak kader penerus bangsa.

Mengajar dan mendidik adalah pekerjaan mulia. Oleh karenanya, pahala kebaikan akan diberikan Allah semenjak yang bersangkutan berada di dalam kuburnya (sebelum datang hari kiamat).

Nabi SAW. bersabda:

عن أنس رَ ضِيَ اللهُ عَنْهُ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: سبعٌ يجري للعبد أجرها بعد موته وهو في قبره: من علّم علما، أو أجرى نهرا، أو حفر بئرا، أو غرس نخلا، أو بنى مسجدا، أو ورّث مصحفا، أو ترك ولدا يستغفر له بعد موته

Artinya, “Anas bin Malik menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ada 7 hal yang pahalanya terus mengalir kepada seorang hamba setelah kematiannya dan ia berada di kuburnya, yaitu: orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali/membuat sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf al-Quran, dan meninggalkan anak yang memohonkan ampunan baginya setelah kematiannya”” (Riwayat al-Bazzar).

Hadits di atas memberi kita pelajaran bahwa kebaikan yang menyangkut kepentingan orang lain lebih baik daripada kebaikan individual atau kebaikan yang dilakukan untuk dirinya sendiri. Sebab, mengajar ibarat menyalurkan air untuk kepentingan umum, menanam kurma untuk generasi berikutnya, membangun masjid untuk tempat peribadatan umum, serta mewariskan al-Quran untuk dibaca dan diamalkan banyak orang. Semuanya itu merupakan amal sosial yang kemaslahatannya dapat dinikmati orang lain.

Baca Juga: Tantangan Ibu dalam Sukses Belajar Anak di Masa Pandemi

Tidak dapat dimungkiri bahwa pada awalnya banyak masyarakat yang beranggapan bahwa masa pandemi Covid-19 adalah masa yang menyulitkan umat manusia. Akan tetapi, tanpa kita sadari banyak sisi-sisi positif yang dapat kita petik dari pandemi ini. Bagi guru, masa ini dapat dijadikan sebagai evaluasi, sejauh mana kapasitas kita di bidang pendidikan? Seberapa besar sumbangsih kita terhadap dunia pendidikan? Pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab manakala kita benar-benar memahami tugas dan tanggung jawab sebagai guru.

Pandemi Covid-19 telah memberikan gambaran atas kelangsungan dunia pendidikan di masa depan. Pendidikan dengan teknologi sebagai fasilitas lebih dan serba canggih. Namun, teknologi tetap tidak dapat menggantikan peran guru. Tapi guru yang tidak menggunakan teknologi akan tergantikan oleh mereka yang menguasai teknologi. Karena itu, guru harus senantiasa belajar sepanjang hayat. Jika guru berhenti belajar, dia sejatinya sudah berhenti menjadi guru. Guru harus memberikan motivasi, empati, dan mengeluarkan potensi terbaik peserta didiknya. Hal inilah yang tidak bisa dilakukan oleh mesin dan teknologi.

Situasi pandemi saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi kreativitas guru. Guru harus dapat beradaptasi dengan peradaban baru yang begitu dahsyat. Proses pendidikan sudah mengarah pada digitalisasi. Maka, guru harus dapat memunculkan ide-ide baru. Mencoba melakukan eksperimen untuk menemukan kreativitas baru dan menghadirkan proses pembelajaran yang afektif dan efisien. Sehingga dapat melaksanakan proses pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan meskipun dilaksanakan secara daring.

Pembelajaran daring sebenarnya telah lama diperkenalkan, meskipun belum menyentuh seluruh level pendidikan. Berbagai teknologi serta media pendukung digunakan untuk pembelajaran daring, seperti video, audio, animasi, dll. Sedangkan kendala yang sering muncul, antara lain: kesiapan teknologi, sumber daya, kemampuan pembelajar, dll. Oleh karenanya, berbagai inisiatif dilakukan untuk dapat meminimalkan kendala yang dihadapi.

Allah swt. telah mengatur alam semesta dan isinya. Termasuk takdir dari umat-Nya beserta ujian yang mengiringinya. Jalan tidak selalu lurus. Begitu pula kehidupan, tidak selalu mulus. Hambatan demi hambatan pasti akan datang. Namun kita harus percaya bahwa Allah memberikan ujian kepada hambanya sesaui dengan batas kemampuan kita.

Demikian pula dalam dunia pendidikan. Sebagai guru, kita berusaha menghadapi semua tantangan/hambatan tersebut meskipun dari hal terkecil. Firman Allah swt dalam Q.S. al-Baqarah: 286 (yang artinya),

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Tantangan-tantangan guru pada masa pandemi ini dapat dihadapi dengan beberapa langkah berikut:

Pertama, menjalin komunikasi, kolaborasi, dan kerja sama dengan wali murid. Sinergi antara guru dan orang tua peserta didik sangat diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Orang tua peserta didik wajib mengetahui perkembangan anaknya dalam melaksanakan pembelajaran daring dalam mendukung pendidikan anaknya. Karena sesungguhnya pendidikan yang pertama dan utama diberikan oleh orang tua terutama ibu (Aisyah, D. 1983).

Kedua, berinovasi dan berkreaasi. Untuk menghasilkan pembelajaran yang efektif, maka guru harus berinovasi dan berkreasi. Sebab jika tidak, maka peran guru akan semakin tersingkirkan. Apalagi di era revolusi teknologi ini guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar dan sumber pengetahuan. Peserta didik kini dapat mengakses berbagai macam pembelajaran dan pengetahuan yang tersebar di dunia maya melalui teknologi digital. Penggunaan teknologi digital juga sebagai bentuk pembaharuan dalam menuju pendidikan Islam yang berkualitas.

Baca Juga: Peran Guru Tak Sekadar Transfer Ilmu

Ketiga, pemberian tugas yang mendorong siswa aktif. Guru tidak boleh semata-mata memberikan tugas, tetapi harus memperhitungkan secara matang. Bentuk tugas yang monoton, seperti membuat ringkasan, mengerjakan soal, dll. membuat peserta didik jenuh dan tidak tertarik, bahkan bisa jadi mengabaikannya. Dalam hal ini, guru harus dapat menggunakan kesempatan ini dengan membuat tugas lebih menarik. Bentuk permainan akan lebih disukai peserta didik, misalnya dengan bentuk game atau teka-teki silang. Tentunya guru tidak boleh lupa untuk mengapresiasi capaian peserta didik.

Keempat, kompetensi guru menjadi penentu utama keberhasilan proses pembelajaran daring. Mengingat sistem pembelajaran berbasis teknologi, maka guru juga harus pandai dalam pemanfaatannya. Ledakan teknologi yang hadir di muka bumi ini untuk memberikan kemudahan dalam segala hal. Meskipun harus belajar dan belajar menemukan sesuatu untuk bisa dijadikan modal menuju pendidikan yang bermutu. Hal Ini akan mempercepat transformasi teknologi pendidikan. Sehingga pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan sejalan dengan era Revolusi Industri 4.0 akan terus berkembang.

Tantangan guru dimasa pandemi Covid-19 sebagai ujian hidup yang harus tetap dijalani. Laju teknologi yang terus berkembang tidak bisa kita hindari, justru harus kita hadapi. Masa pandemi kita jadikan ladang untuk berpikir dan berkarya, agar tercipta pembelajaran yang lebih bermakna. Pendidikan jaya, sukses generasi muda harapan bangsa.

Related posts
Pendidikan

Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran

Oleh: Muhammad Ragil Kurniawan* Kemajuan teknologi selalu hadir dengan wajah ganda, membawa manfaat sekaligus mudarat. Kemajuan teknologi membawa dampak positif pada kerja…
Berita

PP Muhammadiyah dan DPP PGMI Sepakat Desak Revisi UU Sisdiknas

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – PP Muhammadiyah mendapat kunjungan dari DPP Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI), Kamis (15/9). Pertemuan itu berlangsung di Gedung…
Berita

Terima Kunjungan Dewan Keamanan Thailand, PP Muhammadiyah Sampaikan Urgensi Pendidikan

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – PP Muhammadiyah menerima kunjungan dari Dewan Keamanan Nasional Thailand, Rabu (15/9). Dalam kunjungan tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *