Berita

Tanwir Muhammadiyah: Haidar Nashir Ingatkan Peran Proaktif Muhammadiyah di Tengah Masyarakat

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah Kamis (30/6), PP Muhammadiyah dan PP ‘Aisyiyah menggelar Tanwir 3 dengan tema “Optimis Hadapi Covid-19 Menuju Sukses Muktamar”. Haedar Nashir menjelaskan, agenda utama tanwir kali ini adalah menentukan format pelaksanaan muktamar. Merujuk keputusan tanwir sebelumnya, muktamar rencananya akan digelar secara hybrid. Mempertimbangan kondisi terkini, tanwir kali ini akan membahas kemungkinan pelaksanaan muktamar secara offline, sehingga dapat diikuti oleh seluruh anggota muktamar.

Covid-19 memang melandai, tapi belum sepenuhnya berakhir. “Karenanya, perubahan keputusan dalam tanwir ini tentang pelaksanaan muktamar, maka ‘illat dan manath al-hukmi-nya secara utama ialah kondisi pandemi itu sendiri,” ujar Haedar. Kecermatan dan kearifan, katanya melanjutkan, harus menjadi pertimbangan utama dalam membuat keputusan, sehingga keputusan yang lahir dari tanwir ini sifatnya mencerahkan untuk kepentingan Muhammadiyah dan kemaslahatan umum.

Dalam kesempatan tersebut, Haedar juga menyinggung soal peran Muhammadiyah di ruang publik. Meskipun sebagian kalangan menilai Muhammadiyah kurang progresif di dalam mempublikasikan gerakannya di ruang publik, namun karya nyata Muhammadiyah yang bermanfaat luas sejatinya merupakan syiar dan cerminan dari wajah Muhammadiyah itu sendiri. “Sikap tengahan Muhammadiyah ialah menyebarluaskan kebaikan kata-kata yang berbanding lurus dengan perbuatan baik di dunia nyata,” imbuhnya.

Sejauh ini, Muhammadiyah juga telah menjalin hubungan dengan berbagai pihak. Hubungan tersebut berjalan baik dan positif, dengan segala dinamikanya. Kata Haedar, semuanya dijalin dengan elegan, bertartabat, independen, serta menjunjung tinggi marwah Muhammadiyah. Peran dan hubungan proaktif-konstruktif itu dijiwai oleh 10 sifat Kepribadian Muhammadiyah, yakni: pertama, beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan; kedua, memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah.

Ketiga, lapang dada, luas pandangan, dengan memegang teguh ajaran Islam; keempat, bersifat keagamaan dan kemasyarakatan; kelima, mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara yang sah; keenam, amar makruf nahi mungkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang baik.

Ketujuh, aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ishlah dan pembangunan, sesuai dengan ajaran Islam; kedelapan, kerja sama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya; kesembilan, membantu pemerintah serta bekerja sama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun negara untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah swt., dan; kesepuluh, bersifat adil serta kolektif ke dalam dan keluar dengan bijaksana.

Baca Juga: Tanwir Aisyiyah: Mantapkan Peran Dakwah Aisyiyah Memajukan Kehidupan Bangsa dan Kemanusiaan Semesta

Di balik capaian kemajuan dan perkembangan positif Muhammadiyah itu, Haedar melanjutkan, saat ini ada agenda yang tidak kalah penting untuk mendapat perhatian pimpinan dan warga Muhammadiyah, yakni keberadaan dan peran Muhammadiyah di basis umat dan masyarakat.

“Bagaimana agar Muhammadiyah makin kuat kehadirannya dan makin luas di tengah dinamika sosial kemasyarakat di kawasan kota, desa, dan di seluruh penjuru Indonesia. Bagaimana Muhammadiyah berperan lebih proaktif di tengah keragaman praktik hidup beragama, hubungan antarwarga, perubahan sosial yang makin masif, kehadiran media sosial dan era dunia digital, serta dalam menghadapi persoalan-persoalan kongkret masyarakat di akar rumput,” terangnya.

Pesan utama yang ingin disampaikan Haedar adalah agar gerak dakwah Muhammadiyah di seluruh tingkatan melakukan reaktualisasi gerakan di basis umat dan masyarakat luas untuk memastikan kehadirannya sebagai gerakan Islam berkemajuan yang menampilkan watak moderat untuk mewujudkan khairu ummah.

“Jika Muhammadiyah mengakar di basis umat dan masyarakat, maka eksistensinya sebagai gerakan dakwah kemasyarakatan sangatlah kuat. Sebaliknya bila gerakan Islam modernis ini renggang atau jauh dari lingkaran umat dan masyarakat, maka tentu akan mengalami ketercerabutan seperti pohon yang tercerabut dari akarnya,” tegasnya. (sb)

Related posts
Sosial Budaya

Peran Kebangsaan Muhammadiyah di Era Pra Kemerdekaan dan Era Digital

17 Agustus 2022 merupakan tahun ketiga Indonesia merayakan hari kemerdekaan di tengah pandemi Covid-19. Saat ini, Indonesia memasuki usia 77 tahun. Di…
Perempuan

Fatwa dan Perhatian Muhammadiyah tentang Perempuan

Oleh: Niki Alma Febriana Fauzi Fatwa adalah suatu penjelasan atau jawaban yang diberikan oleh mufti kepada mustafti (orang yang bertanya) tentang suatu…
Berita

Cerahkan Peradaban Bangsa, RSIJ Cempaka Putih dan Muhammadiyah-Aisyiyah Gelar Semiloknas

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – Muhammadiyah-‘Aisyiyah melalui Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, MPKU PP Muhammadiyah, dan RSIJ Cempaka Putih mengadakan kegiatan Seminar dan Lokakarya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.