Tauhid sebagai Sistem Kepercayaan Etis

Berita 23 Sep 2021 0 51x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah pada Rabu (22/9) mengadakan Pengajian Tarjih Muhammadiyah bertema “Tauhid dalam Muhammadiyah: Keyakinan untuk Mewujudkan Perdamaian dan Kesejahteraan”. Pengajian yang dilaksanakan secara virtual ini diisi oleh Hamim Ilyas selaku Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Hamim Ilyas menjelaskan, akidah tauhid dalam ilmu kalam dapat dibedakan menjadi lima sistem kepercayaan, yakni spiritual, konservatif, ideologis (tertutup dan terbuka), semi etis, dan etis. Di Muhammadiyah, lanjutnya, akidah tauhid diajarkan dalam kerangka al-urwatul wutsqa dan diimplementasikan dalam Muqaddimah Anggaran Dasar (Al-Ushul as-Sab’ah atau Tujuh Ajaran Dasar Muhammadiyah); Masalah Lima (an-Namadzij ad-Diniyyah al-Khamsah atau Lima Paradigma Keagamaan); Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (Al-Mabadi’ al-istirajiyah al-Khamsah atau Lima Prinsip Strategis Agama Islam); dan Kepribadian Muhammadiyah (Syakhsiyyatul Ummah al-islamiyah ‘ind Muhammadiyah atau Sepuluh Kepribadian Umat Muslim).

Menurutnya, kerangka al-urwatul wutsqo adalah pegangan paling kuat dalam memeluk Islam sehingga menjadi pedoman penghayatan dan pengamalan agama Islam. Adapun urutan unsur-unsur al-urwatul wutsqo adalah: pertama, Islam. Islam bermakna ketundukan kepada Allah untuk mewujudkan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Islam, kata Hamim, dalam pengertian ketundukan dengan ibadah disebut sebagai rukun Islam, yang meliputi syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji.

Baca Juga: Islam Rahmatan Lil ‘Alamin: Konsepsi dan Manifestasi

Kedua, iman. Iman adalah keyakinan untuk mewujudkan hidup, di dunia dan di akhirat. Hamim menjelaskan, pengertian iman secara bahasa adalah kepercayaan yang potensial membuat aman, damai, dan aktual, membuat manusia memiliki amanah atau trust dalam kehidupan pribadi, kehidupan sosial, dan kehidupan dengan alam. Dalam al-Baqarah ayat 256 dijelaskan, iman kepada Allah dilawankan dengan pengingkaran kepada thaghut. Iman terdiri atas enam rukun, yakni iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab suci, iman kepada rasul, iman kepada hari kiamat, dan iman kepada qada’ dan qadr.

Ketiga, ihsan. Hamim menjelaskan bahwa ihsan adalah pengabdian untuk mewujudkan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Artinya, ibadah yang penghambaan atau pengabdiannya bisa dilakukan kepada Allah dan kepada yang lain, misalnya manusia, negara, dan lain-lain. Ihsan dalam pengertian pengabdian ini adalah dengan memperhatikan kedudukan manusia di bumi sebagai hamba dan khalifah Allah yang harus menyelenggarakan kehidupan dengan atas nama-Nya, membawa nama-Nya dan dengan memohon berkat-Nya.

Hamim menegaskan  ada perbedaan dalam perumusan akidah tauhid sebagai sistem kepercayaan dalam Asy’ariyah dan Muhammadiyah. Dalam Asy’ariyah, akidah tauhid menjadi sistem kepercayaan spiritual, sedangkan dalam Muhammadiyah menjadi sistem kepercayaan etis. Karena itu, ahlilhaqqi was-sunnah dalam Muhammadiyah adalah penganut kebenaran yang membebaskan dari ketidaksejahteraan, ketidakdamaian, dan ketidakbahagiaan, dan pengikut sunnah generasi salaf yang mengembangkan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. (rizka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *