Sosial Budaya

Teologi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Pengolahan Sampah

lingkungan

Oleh: Dian Ardiyani*

Manusia dalam penciptannya memiliki konsep trilogi yang menunjukkan hubungan erat dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam yang terpola menjadi tiga arah. Hubungan dengan Tuhan sebagai makhluk ciptaan-Nya, hubungan dengan sesama manusia sebagai makhluk sosial, dan hubungan dengan alam semesta sebagai khalifah Allah swt. yang menjaga, mengelola, dan sekaligus memanfaatkannya. Oleh karenanya, nilai-nilai ketauhidan harus menjadi dasar agar dalam menjaga, mengelola, dan memanfaatkan alam senantiasa terkendali dan tidak melakukan perusakan.

Perilaku manusia yang kurang bertanggungjawab terhadap lingkungannya mengakibatkan terjadinya berbagai kerusakan di muka bumi, di samping orientasi kehidupan manusia modern yang cenderung materialistik dan hedonistik. Kondisi ini hanya bisa diatasi dengan mengubah secara fundamental dan radikal terhadap sudut pandang dan perilaku manusia terhadap lingkungannya. Dengan demikian dibutuhkan perubahan perilaku dan gaya hidup tidak hanya dilakukan oleh individu, namun menjadi kesadaran bersama untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggungjawab.

Salah satu penyebab kerusakan lingkungan yang terjadi adalah kerusakan yang diakibatkan oleh limbah rumah tangga berupa sampah. Banyak kasus yang sudah terjadi dari menggunungnya sampah rumah tangga di tempat pembuangan akhir yang tidak ada tindak lanjut pengolahannya. Gunungan sampah itu pada akhirnya menyebabkan berbagai macam penyakit dan bencana alam. Sebagai contoh adalah banjir, longsor, dan pencemaran lingkungan akibat sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang tidak terurus.

Kondisi di atas merupakan peringatan bagi manusia yang bertindak sebagai khalifah di muka bumi. Khalifah bertugas untuk menjaga kelestarian dan kelangsungan pengelolaannya. Pengelolaan sampah harus menjadi perhatian, agar keberadaannya tidak selalu menimbulkan masalah, tetapi justru memberikan berkah yang bermanfaat. Caranya adalah dengan berpikir keras dan bekerja secara serius menemukan solusi yang tepat.

Secara doktrinal disebutkan dalam al-Quran (yang artinya), “Manusia memiliki peran dan posisi khusus di antara komponen alam dan makhluk ciptaan Tuhan yang lain yakni sebagai khalifah, wakil Tuhan dan pemimpin bumi” (Q.S. al-An’am: 165). Peran manusia dalam mengemban tugas dari Allah swt. untuk menjaga alam semesta ini harus dilakukan dengan penuh tanggungjawab, serta diterjemahkan dengan dilakukan secara kolektif dan berkesinambungan.

Kolektivitas dapat diwujudkan dengan dibentuk sebuah wadah yang dikelola bersama untuk memberdayakan masyarakat agar peduli terhadap lingkungan. Berkesinambungan berarti kegiatan yang dilakukan berjalan kontinyu sehingga dilakukan secara terus menerus dalam jangka waktu lama, dan sebaliknya kegiatan tidak bersifat temporal yang dilakukan sementara waktu atau pada momen tertentu saja. Dengan demikian, kegiatan yang dirancang ini sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat yang diimplementasikan dalam bentuk pendampingan kontinyu.

Bijak Sampah

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan dibentuk komunitas bijak sampah. Kegiatan ini bertujuan mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi sampah. Sampah merupakan material sisa yang tidak lagi berguna bisa berupa sampah organik dan non-organik. Keduanya dianggap tidak berguna dan bahkan dinilai merusak pemandangan lingkungan. Perubahan mindset harus dilakukan agar masyarakat tidak lagi memandang sampah sebelah mata. Meskipun berupa material sisa, namun jika diolah dengan baik akan memberikan kebermanfaatan yang tidak hanya ramah kepada lingkungan tetapi juga berpotensi mendatangkan keuntungan ekonomi.

Melakukan pemisahan antara sampah organik dan sampah non-organik merupakan langkah awal untuk mempermudah mengidentifikasi pengelolaannya. Sampah organik bermanfaat untuk dijadikan pupuk yang lebih aman bagi lingkungan. Sedangkan sampah non-organik dapat olah kembali menjadi barang yang bermanfaat dan bernilai jual. Seperti kerajinan tangan tas dari bungkus plastik sablon, bunga dari plastik kresek, hiasan dindin, souvenir, dan lain-lain.

Baca Juga: Peran Ibu dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan dan Menghadapi Bencana

Memang tidak mudah untuk membujuk masyarakat di lingkungan sekitar agar bisa memahami dan menyadarkan mereka, dan bahkan untuk mengikuti program bijak sampah. Apalagi jika di daerah perumahan yang notabene tidak memiliki lahan untuk menampung dan mensortir sampah. Seiring berjalannya waktu, dengan sosialisasi yang menarik, masyarakat akan tergugah hatinya untuk mengikuti kegiatan ini, secara mandiri mengemasi sampah rumah tangga, dan mengelolanya dengan baik sesuai dengan arahan.

Sampah organik bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan yang sampah non-organik untuk dilakukan proses pengolahaan lebih lanjut dengan langkah 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle). Reduce yaitu pengurangan sampah dengan cara miminimalisir sampah yang berasal dari rumah tangga, lebih memilik menggunakan sampah organik daripada sampah non-organik. Sampah organik bisa dengan mudah terurai oleh tanah daripada sampah non-organik. Reuse, yaitu penggunaan kembali sampah yang masih bisa dimanfaatkan dan bisa digunakan untuk kreativitas kerajian tangan yang lebih bermanfaat dan bernilai seni tinggi. Recycle, yaitu mendaur ulang sampah yang masih bisa di daur ulang seperti sampah kertas, kardus, plastik, besi, dan lain sebagainya.

Pemberdayaan Masyarakat

Dengan sedikit langkah dalam pengelolaan sampah pun sudah bisa mendatangkan pundi-pundi pemasukan bagi ibu rumah tangga. Kalaupun hanya bisa memilah sampah dan menyetorkan kepengepul untuk didaur ulang oleh pengepul, pendapatan dari sampah itupun sudah lumayan. Namun jika bisa digirap dengan sunguh-sungguh dan menuangkan kreativitas yang dimiliki justru akan lebih mendatangkan aset yang lebih banyak untuk dirinya dan lingkungan sekitarnya. Karena dalam pengelolaan sampah ini bisa dilakukan secara individu maupun kelompok.

Bagi Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA), Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA), maupun Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) yang memiliki Desa Binaan jauh lebih mudah dalam mengkoordinir kegiatan ibu-ibu di desa binaan tersebut dengan memanfaatkan sampah menjadi barang yang lebih bermanfaat dengan melalui pelatihan untuk pembuatan kerajinan tangan. Kemudian pengarahan pada preses kewirausahaannya (proses pemasarannya) dan membuat ikon-ikon yang menarik untuk setiap produknya sehingga memiliki branded tersendiri bagi kelompok ibu-ibu desa binaan ‘Aisyiyah tersebut.

Program bijak sampah dan pemberdayaan masyarakat ini tidak hanya mendatangkan manfaat untuk individu namun lebih bisa dirasakan oleh masyarakat sekitar dengan membuka peluang usaha dan peluang kreativitas sebesar-besarnya. Sehingga bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain sebagaimana terdapat dalam hadits, “kairunnas anfa’uhum lin-nas”.

Melalui progam bijak sampah dan pemberdayaan masyarakat, sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga tidak menjadi gunung sampah yang lambat laun akan menghabiskan pemukiman masyarakat dan berdampak bagi bencana alam seperti banjir, tanah longsor karena timbunan sampah yang terus menggunug di TPA, dan akhirnya berkurangnya kesuburan tanah yang berakibat pada berkuarangnya kualitas lahan pertanian.

Dengan berkaca bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi ini untuk memakmurkan bumi, manusia bisa berbuat lebih bijak untuk pemanfaatan alam dengan melakukan bijak sampah dan pemberdayaan masyarakat sehingga akan membawa manfaat lebih tidak hanya bagi manusia itu sendiri dan masyarakat sekitar namun juga untuk menjaga kelestarian alam. Dengan demikian, terjadilah keterkaitan yang harmonis antara manusia sebagai khalifah yang menjalakan peran dari Allah untuk memakmurkan alam sehingga lebih bermanfaat untuk orang banyak dengan nilai-nilai ketauhidan.

*Fasilitator LPPIK-UMS, Bendahara MPK-PDA Surakarta, Ketua PCNA Colomadu

Related posts
Berita

LLHPB PP Aisyiyah dan Diet Kantong Plastik Kampanyekan Pelarangan Plastik Sekali Pakai di Pasar Tradisional

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) sedang bekerja sama dengan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan…
Berita

Aksi Keluarga Peduli Lingkungan PWNA Aceh, Merawat Damai Menggelorakan Semesta

Banda Aceh, Suara ‘Aisyiyah – Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Aceh pada Ahad (7/8) mengadakan Aksi Keluarga Peduli Lingkungan dalam rangka memperingati…
Berita

PPNA Gelar Workshop Pengembangan Materi Kampanye Eco Bhinneka di Media Sosial

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Bertempat di Yogyakarta, Tim Eco Bhinneka Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah menggelar Workshop bertajuk “Pengembangan Materi Kampanye Eco Bhinneka…

7 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.