Terapkan Protokol Isolasi Mandiri, di Tengah Pandemi

Berita 30 Mar 2020 0 429x

Oleh dr Tjatur Priabodo Mkes (Direktur Rumah Sakit Aisyiyah Siti Fatimah Tulungan Sidoarjo)

Jumlah pasien yang terinfeksi Virus Corona (Covid-19) di Indonesia, terus bertambah. Untuk itu, pemerintah menyarankan masyakarat untuk tetap berada di rumah dan menerapkan protokol isolasi mandiri, agar mengurangi tingkat penyebarannya.

Anjuran tersebut, utamanya bagi yang mengalami gejala Covid-19. Pasalnya, Virus Corona mudah sekali menyebar. Bahkan dari orang yang tidak mengalami gejala dan dapat menyebabkan gejala yang berat dan berakibat fatal.

Jadi, seseorang bisa saja tertular atau menularkan virus ini tanpa menyadarinya. Agar orang lain tidak tertular, disarankan untuk tetap berada di rumah.

Isolasi mandiri di rumah bisa menjadi hal yang berat bagi sebagian orang. Namun, cara sederhana ini efektif untuk melindungi keluarga dan orang-orang di sekitar kita, bahkan seluruh masyarakat Indonesia.

Terlepas dari ada atau tidaknya gejala dan kontak dengan orang yang menderita atau dicurigai menderita Covid-19, setiap orang disarankan untuk tinggal di rumah dan membatasi aktivitas di luar rumah, terutama yang melibatkan banyak orang. Bila memungkinkan, mintalah pilihan untuk bekerja atau belajar dari rumah.

Saat wabah Covid-19, kita banyak mendengar istilah orang dalam pemantauan (ODP). Disebut ODP, jika: Demam (suhu ≥38°C) atau riwayat demam, batuk atau pilek, memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di daerah dengan transmisi lokal di Indonesia dalam 14 hari terakhir sebelum timbul gejala.

Selain ODP, isolasi mandiri, dilakukan pada orang: memiliki salah satu dari gejala Covid-19 ringan, seperti: batuk, demam, atau sakit tenggorokan yang bisa diatasi di rumah, dan tidak memiliki penyakit penyerta, seperti penyakit jantung, diabetes, hipertensi, atau penyakit paru yang kronis. Tinggal dengan orang yang memiliki gejala Covid-19. Telah menjalani rapid test COVID 19 dan hasilnya positif, namun tidak mengalami gejala. Baru tiba dari daerah Zona Merah Covid 19. Maka mereka ini, harus bertanggung jawab untuk melakukan isolasi mandiri di rumah, setidaknya selama 14 hari.

Maka, bagaimana protokol isolasi mandiri, sesuai anjuran pemerintah ? Pertama, tidak beraktivitas di luar rumah. Apabila sedang dalam isolasi, tidak boleh keluar rumah atau pergi ke tempat umum walaupun untuk bekerja.

Jika memungkinkan, bekerjalah dari rumah selama isolasi. Sebisa mungkin, hindari menerima tamu. Apabila selama masa isolasi ada keperluan ke luar rumah, seperti membeli makanan ataupun obat-obatan, mintalah orang lain yang tidak sedang menjalani isolasi untuk melakukannya.

Kedua, hindari kontak dekat dengan orang yang tinggal serumah. Selama di rumah, disarankan untuk berada di kamar yang terpisah dengan penghuni rumah lainnya. Kamar disarankan memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik. Meski begitu, bukan berarti harus selalu berada di dalam kamar tersebut dan orang lain tidak boleh masuk (dikurung).

Hal ini diperbolehkan, asalkan tetap dalam batasan tertentu. Saat sedang berada dalam satu ruangan dengan penghuni rumah lainnya. Jaga jarak atau lakukan physical distancing, terutama dengan orang yang rentan terhadap Covid-19, seperti lansia, pemilik penyakit kronis, dan ibu hamil.

Jaga jarak setidaknya sejauh satu meter dan hindari bicara berhadap-hadapan dengan orang lain lebih dari 15 menit.

Ketiga, pakai masker. Meski di rumah, tetap mengenakan masker, yaitu masker jenis surgical mask (biasa dipakai saat operasi), guna mencegah penularan kepada keluarga atau orang yang berada dalam satu rumah.

Apabila tidak ada masker, disarankan untuk tidak berlama-lama dalam satu ruangan dengan penghuni rumah yang lain. Bila salah satu penghuni rumah masuk ke dalam kamar isolasi, misalnya untuk mengantarkan makanan, disarankan untuk memakai masker untuk mengurangi risiko penularan.

Keempat, gunakan perlengkapan terpisah. Selama menjalani isolasi mandiri, gunakan piring, sendok, garpu, dan gelas terpisah. Perlengkapan mandi, seperti handuk dan sikat gigi, juga harus terpisah dari penghuni rumah lainnya.

Selain itu, sediakan tempat sampah atau kantung plastik khusus untuk membuang tisu yang digunakan untuk batuk, bersin, dan membersihkan mulut atau hidung.

Disarankan untuk rutin membersihkan permukaan benda yang sering disentuh, seperti wastafel, gagang pintu, atau telepon, dengan cairan disinfektan.

Kelima, terapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Cuci tangan dengan air dan sabun secara rutin. Jangan lupa minum banyak air, setidaknya 8 gelas sehari, serta konsumsi makanan yang bergizi. Bila diperlukan bisa mengkonsumsi multivitan.

Disarankan untuk berjemur dan melakukan olahraga ringan di bawah sinar matahari setiap pagi selama 15–30 menit agar tubuh lebih bugar dan meningkatkan sistem imunitas.

Pantau kesehatan secara mandiri, yaitu dengan mengukur suhu tubuh setiap hari dan mengamati gejala yang muncul. Selain itu, tetaplah menjalin hubungan dengan anggota keluarga dan teman melalui telepon, video call, atau media sosial. Jangan sampai isolasi di rumah membuat merasa tersisih dan kesepian.

Keenam, hubungi rumah sakit. Apabila di tengah masa isolasi muncul keluhan yang memberat, misalnya demam tinggi disertai batuk terus-menerus dan sulit bernapas, segera hubungi rumah sakit atau hotline Covid 19 untuk mendapatkan perawatan.

Sumber berita :https://pwmu.co/140621/03/30/isolasi-mandiri-bukan-berarti-kurungan/

Sumber Ilustrasi : https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/ObzMBneN-resep-jokowi-mencegah-korona

Leave a Reply