Aksara

The Power of Bunda

Oleh: Mohammad Aristo Sadewa

Buku                : Bunda Para Pengubah Dunia

Penulis            : Ahmad al-Jauhari Abdul Jawwad

Penerjemah    : Ummu Kulsum dan tim Zaduna

Penerbit          : Zaduna

Terbitan          : Juli, 2021

ISBN                : 978-623-96471-5-5

Tebal Buku      : 218

***

Salah satu tokoh filsafat, Gadamer, berpendapat bahwa dalam memahami teks, pembaca tidak dapat memahami teks secara menyeluruh terhadap apa yang disampaikan oleh penulis. Pun demikian yang sering kali terjadi pada buku terjemahan. Keterbatasan bahasa dan pemahaman bisa mengubah alur dari buku itu sendiri. Namun, buku yang diresensi ini termasuk dalam pengecualian. Setiap maknanya selaras dengan apa yang dimaksud oleh penulis. Terbukti, di halaman awal ada lisensi pengesahan dari penulis.

Selama ini, posisi perempuan selalu dipinggirkan dan keberadaan mereka tidak diakui. Mereka diberlakukan tidak baik, senonoh, dan dijual-belikan bak barang dagangan. Perlakuan subordinasi terhadap perempuan sampai saat ini masih sering kali terjadi di beberapa tempat. Hal ini bertolak belakangan dengan kodrat mereka yang sudah Allah tetapkan melalui agamanya.

Dalam banyak hal, kepemimpinan menjadi otoritas lelaki, sehingga perempuan dinilai tidak memiliki kesempatan menjadi pemimpin dengan beberapa alasan. Kuasa lelaki terhadap perempuan bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi juga dalam ranah publik. Ini lantaran, kelebihan lelaki atas perempuan adalah membayar maskawin, hadiah, dan penghidupan yang layak.

Mereka (para lelaki) dibuat lupa bahwa kesuksesan mereka tak lepas dari peran perempuan dalam keluarga. Maka, melihat hal demikian penulis menyeleksi beberapa perempuan (bunda) yang mempu mendidik buah hatinya sehingga membawa perubahan pada dunia. Dari sekian banyak bunda, penulis hanya berkutat sejak masa sahabat hingga era tabi’ tabi’in.

Baca Juga: Kampanye Monogami ala Kuntowijoyo

Para pelaku subordinasi terhadap perempuan tidak sadar bahwa madrasah pertama yang mendidik mereka adalah seorang perempuan. Buku ini hadir dengan menawarkan beberapa perempuan yang melahirkan buah hati dan bisa mengubah wajah dunia. Para buah hati ini adalah harapan dan cahaya oleh para ibundanya.

Pertama, perempuan dari kalangan sahabat. Yakni, Ummu Sulaim atau ibunda Anas bin Malik dan ibunda Abdullah bin Zubair bin Awwam. Kedua perempuan ini melahirkan putra yang benar-benar mengabdikan diri terhadap ajaran dan agama yang dibawa Nabi. Di saat orang semua orang Anshar baik laki-laki maupun perempuan memberi hadiah kepada baginda, Ummu Sulaim satu-satunya yang tidak memberi hadiah. Lalu, beliau mempunyai inisiatif untuk memberikan putra semata wayangnya dijadikan hadiah sebagai pelayan Nabi. Sejak itu, bocah berusia 10 tahun menjadi pelayan Nabi.

Kedua, perempuan yang melahirkan tokoh besar di kalangan tabi’in. Yakni ibunda dari Sufyan at-Tsauri. Dalam banyak literatur, at-Tsauri merupakan imam dalam madzhab fikih, amirul mukminin dalam bidang hadits, mufasir yang banyak melahirkan kitab tafsir (hlm. 83). Sufyan selalu berpegang teguh pada pesan ibunya, “Pergilah! Carilah ilmu! Aku akan menanggung kebutuhanku dengan alat tenunku.”

Sejak itu, Sufyan mentahbiskan dirinya sebagai penuntut ilmu. Dia tidak perlu khawatir dengan biaya hidup, sebab ibunya sudah menjamin segala kebutuhannya. Tidak sampai di situ, jika dirinya mencatat hadits dan tidak mendapat perkembangan dalam dirinya, maka cukup sampai disitu biaya dari ibunya.

Ketiga, perempuan yang melahirkan putra sebagai imam madzhab fikih. Ibunda imam Malik bin Anas, ibunda Imam asy-Syafi’i dan Ibunda Imam Ahmad bin Hambal. Mereka adalah para bunda tangguh yang berani mengambil risiko dan berbagai macam cobaan yang harus dihadapi. Mereka tetap bertahan hingga mengantarkan putranya menjadi tokoh besar, ulama yang ahli dalam bidangnya (fikih).

Lain lagi dengan ibunda dari Imam al-Bukhari. Seorang ahli hadits yang karyanya sangat monumental. Siapa yang tidak kenal dengan karyanya. Namun, di balik karya yang monumental itu, ada sosok perempuan (ibu) yang sangat berperan dalam pola hidup dan pendidikan yang dilalui oleh Imam al-Bukhari.

Terakhir, ibunda sultan Muhammad al-Fatih. Beliau menanamkan semangat juang dalam diri Muhammad al-Fatih. Suatu ketika, saat salat subuh, al-Fatih dibawa ke dinding benteng konstatinopel. “Anakku, esok, engkaulah yang akan menaklukkan kota konstantinopel” (hlm. 120). Benar memang, setiap kata adalah doa. Kata tadi menjadi doa diijabah oleh Allah sehingga putranya benar benar mewujudkan doa dan impian ibundanya.

Setiap ibu selalu bekerja ekstra untuk buah hati. Demi masa depan, demi cita-cita, ibunda rela melakukan apa saja demi kebahagiaan buah hati. Doa, perjuangan, dan keringat hanya tertuju pada buah hati. Semoga, hadirnya buku ini dapat menginspirasi para pembaca. Terutama ibu-ibu yang memiliki buah hati.

Related posts
Berita

Jelang Pemilu 2024, Aisyiyah Dorong Akses Partisipasi bagi Semua

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah menegaskan bahwa Pemilu 2024 harus memberikan akses bagi semua elemen…
Liputan

Perempuan dalam Stigma Politik

Sampai saat ini, masih banyak masyarakat yang berpegang pada stereotip bahwa perempuan belum punya kapasitas mumpuni untuk berkiprah di dunia politik. Stereotip…
Konsultasi Keluarga

Dukungan bagi Perempuan untuk Berilmu

Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh Saya seorang guru di suatu Taman Kanak-Kanak di kota kecil. Saya juga ibu rumah tangga yang telah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *