Theraplay: Mengelola Emosi dan Perilaku Anak dengan Bermain

Berita 27 Agu 2021 0 70x
theraplay

theraplay

Yogyakarta, Suara `AisyiyahTheraplay merupakan terapi berbasis bermain. Orang tua yang menerapkan terapi ini diharapkan dapat memiliki kualitas bermain lebih kooperatif bersama anak-anak. Begitulah penjelasan mengenai theraplay dari Dhisty Azlia Firnady selaku Psikolog Anak dan Remaja, dalam siaran langsung di akun Instagram @tentanganakofficial pada Selasa (24/8).

Kegiatan yang bertema “Kelola Emosi dan Perilaku Anak Melalui Bermain” ini membahas mengenai pengelolaan emosi dan perilaku anak melalui bermain. Dhisty menjelaskan bahwa theraplay merupakan terapi yang tidak hanya menyasar anak sebagai obyek yang sedang diamati, namun orang tua juga turut berperan serta dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan theraplay dapat dimulai sejak ibu mengandung, namun akan lebih efektif untuk melakukan terapi ini ketika anak berumur 18 bulan sampai dengan remaja. Kegiatan theraplay dapat dimulai dengan permainan sederhana, kemudian sedikit demi sedikit mengajarkan anak kepada permainan yang lebih kompleks.

“Mengenalkan anak pada permainan lempar tangkap, kemudian memperhatikan bagaimana anak bisa mengatur bola tersebut. Selain itu bisa juga dengan mengajarkan anak mengantre, yang bertujuan untuk melatih kesabaran dalam menunggu giliran dan konsekuensi saat ada anak yang menyela antrian,” jelas Dhisty.

Baca Juga: Meski Sibuk Bekerja, Orang Tua harus Tetap Dekat dengan Anak! Begini Tipsnya

Lebih lanjut, Dhisty menjelaskan bahwa theraplay memiliki empat dimensi penting dalam penerapannya, yakni: pertama, pemberian struktur. Orang tua dapat memberikan arahan dan contoh pada saat anak bermain. Pemberian struktur dapat dilakukan ketika orang tua memperkenalkan permainan yang belum dikenal oleh anak.

Kedua, engangement, di mana orang tua berusaha untuk selaras dengan anak, seperti adanya kontak mata, sentuhan, dan berbagi emosi dengan anak. Ketika anak jatuh dan menangis, misalnya, orang tua dapat menunjukkan ekspresi yang sama dengan berpura-pura menangis untuk menyamakan emosi dengan anak.

Ketiga, ungkapan kasih sayang. Dimensi ini lebih banyak memberikan sentuhan kepada anak, seperti pelukan dan ciuman. Keempat, memberikan tantangan kepada anak. Pemberian tantangan kepada anak harus sesuai dengan tahap perkembangan anak. Tidak hanya dengan memberikan tantangan, orang tua juga harus memberikan apresiasi dan dorongan ketika anak berusaha menyelesaikan tantangan tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Dhisty juga mejelaskan bahwa kualitas lebih penting dibandingkan kuantitas, yang berarti bahwa di dalam proses theraplay ini yang dilihat bukan seberapa lama anak dan orang tua berinteraksi dalam bermain, namun lebih pada kualitas yang dibangun anak dan orang tua pada saat bermain. (cheny)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *