Tiga Dampak yang Terjadi pada Anak Jika Orang Tua Marah

Berita 1 Sep 2021 0 62x
orang tua marah

orang tua marah

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Masa kanak-kanak merupakan masa di mana anak mulai aktif dengan kegiatannya, baik saat bermain maupun belajar. Perilaku anak cukup banyak, ada yang dapat diterima dan ada juga yang tidak. Hal tersebut disampaikan Reti Oktania pada siaran langsung di akun Instagram @tentang anak official pada Jumat (27/8) dengan tema “Pahami dan Kelola Emosi Orang Tua”.

Reti menyampaikan, terdapat dua sudut pandang dalam pengendalian emosi orang tua, yakni: pertama, keadaan sekarang. Maksudnya, emosi itu ada saat kejadian itu terjadi. Kedua, masa lalu. Contohnya adalah orang tua yang membandingkan keadaan anak dengan keadaan dirinya saat di masa lalu. Kondisi anak yang tidak sesuai dengan pengalaman orang tua seringkali akan menimbulkan ketidakpuasan pada perilaku anak.

Reti juga menyampaikan bagaimana orang tua dapat mengedalikan ekspresi marah pada anak, misalnya dengan validasi (pengujian kebenaran) saat mengekspresikan kemarahan kepada anak dengan menanyakan kepada diri sendiri, apakah emosi yang dikeluarkan itu benar atau salah.

Selanjutnya berempati pada diri, seperti memberikan kata-kata yang bisa menenangkan untuk mengikat emosi marah tadi dan mengendalikan diri kembali. Kemudian memberikan support (dukungan) kepada diri sendiri, mengenai apa yang dibutuhkan untuk lebih tenang, misalnya dengan meminum minuman dingin atau sekadar mengambil nafas panjang.

Baca Juga: Efek Negatif Kekerasan Pada Otak Anak

Apabila anak sudah beranjak remaja, orang tua dapat menyampaikan dalam suasana tenang bahwa perilakunya salah. Selain itu, jangan berekspektasi kepada anak, misalnya anak wajib untuk mendapatkan nilai yang memuaskan pada setiap mata pelajaran, sedangkan anak memiliki kemampuan di bidang kompetensi non-akademik.

Lebih lanjut, Reti menjelaskan bahwa orang tua harus bekerja sama dalam memperhatikan setiap tumbuh kembang anak, termasuk tentang perilaku anak. Orang tua dapat berdiskusi satu sama lain untuk mengatasi berbagai perilaku anak yang dianggap tidak sesuai.

“Berdiskusi santai mengenai perilaku anak. Misalnya terhadap anak yang sedang marah kemudian sering membanting pintu. Nah, orang tua mulai mencari solusi bersama mengenai apa yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan tersebut,” tutur Reti.

Reti menyebutkan terdapat tiga dampak kemarahan orang tua yang terjadi pada anak, yakni: (a) kebutuhan emosi anak belum terpenuhi karena mereka ingin orang tua mengetahui titik permasalahan yang saat ini sedang mereka hadapi; (b) termanifestasi dalam bentuk perilaku. Amarah anak yang tidak tersampaikan akan terekspresikan dalam bentuk perilaku; dan (c) terbawa sampai anak beranjak remaja, bahkan dewasa. Emosi yang menumpuk tadi akhirnya menjadi trauma tersendiri saat mulai beranjak remaja, bahkan dewasa. (cheny)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *