Berita

Tiga Makna Kemenangan Idulfitri

Shoimah Kastolani
Shoimah Kastolani

Shoimah Kastolani

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Hakikat Idulfitri yang sesungguhnya adalah kembali kepada fitri, meraih kemenangan dengan prestasi takwa, serta mempertahankan kemenangan tersebut pada masa yang akan datang. Pernyataan tersebut disampaikan Ketua ‘Aisyiyah Shoimah Kastolani dalam kegiatan Halalbihalal Silaturahmi Idulfitri 1442 H Keluarga Besar Muhammadiyah yang diselenggarakan pada Ahad (23/5).

Menurut Shoimah, kemenangan yang dimaksud mencakup tiga hal. Pertama, kemenangan spiritual. Dalam QS. asy-Syams: 9, Allah swt. berfirman (yang artinya), “sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya”. Maka sungguh beruntung orang-orang yang setelah Ramadhan berhasil meraih kemenangan spiritual, yakni terjauhkan dari penyakit hati, syirik, sombong, hasad, dengki, dan sebagainya.

Baca Juga

Peran Perempuan Muslim dalam Memakmurkan Dunia

Kedua, kemenangan emosional. Puasa mengajarkan umat Islam untuk menahan diri dari lapar, dahaga, perilaku tidak senonoh, dan segala hal yang dapat mengurangi pahala puasa. Mengutip sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Shoimah menjelaskan bahwa puasa adalah benteng diri. “Seseorang yang sedang berpuasa akan dapat menahan emosinya agar tidak membalas cacian dan dendam dengan perbuatan yang sama. Nafsu dikendalikan dengan cara dzikir dan syukur kepada Allah swt.,” jelasnya.

Ketiga, kemenangan intelektual. menurut Shoimah, kemenangan intelektual ditandai dengan kemampuan seseorang untuk memahami realitas yang dapat memberikan keseimbangan pada diri dan pemikiran. Seseorang yang meraih kemenangan intelektual, menurutnya, akan mampu membedakan mana yang halal dan haram, mana yang manfaat dan mudharat, mana yang hak dan kewajiban, dan tahu kepada siapa semestinya ia berpihak.

Tiga kemenangan tersebut, lanjutnya, hanya bisa dicapai dengan cara mempertahankan dan/atau lebih-lebih meningkatkan kualitasnya selama 11 bulan pasca Ramadhan. “Semoga kita dapat meningkatkan kualitas iman dan amalan yaumiyah sebagai bekal menghadap Sang Khaliq,” ujar Shoimah. (siraj)

Related posts
Sejarah

Sekolah Bidan Aisjijah, Kontribusi Aisyiyah Lahirkan Tenaga Kesehatan Islam di Indonesia

Isu kesehatan sudah menjadi perhatian ‘Aisyiyah sejak awal. Pada 1930, misalnya, di tengah kongres Muhammadiyah ke-19 di Minangkabau, ‘Aisyiyah mengadakan Kongres Bayi…
Tokoh

Siti Aisyah dalam Riwayat Kepemimpinan Aisyiyah

Oleh: Muarif “…bukan Muhammadijah jang menghadjatkan kepada kita, tetapi kitalah jang menghadjatkan akan hidup suburnja Muhammadijah…” (Siti Aisyah). Pesan Siti Aisyah, salah…
Liputan

Perluas Segmen Jamaah Pengajian untuk Menebar Kebermanfaatan Aisyiyah

Chalifah, Ketua Majelis Tabligh PP ‘Aisyiyah, mengakui tidak mudah merangkul semua segmen dalam satu pengajian. Oleh karena itu, ungkapnya saat diwawancara Suara…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.