Tiga Metode untuk Memperkokoh Iman

Kalam 25 Jun 2021 2 117x
Memperkokoh Iman

Memperkokoh Iman

Oleh: Sirajuddin Bariqi

Al-Quran diturunkan dari bait al-‘izzah kepada Nabi Muhammad saw. secara bertahap. Dalam QS. al-Furqan [25]: 32, turunnya al-Quran secara bertahap ini dipertanyakan oleh kaum kafir Quraisy.

Di ayat yang sama Allah swt. menjelaskan, “kadzālika linutsabbita bihī fu’ādaka wa rattalnāhu tartīlan”. Demikiankah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsung-angsur, perlahan dan benar).

Selama 23 tahun al-Quran diturunkan. Selama itu pula Nabi Muhammad saw. membimbing dan membersamai umat Islam. Tiga belas tahun berdakwah di Makkah, dan sepuluh tahun di Madinah.

Baik di Makkah maupun Madinah, umat Islam silih berganti menghadapi tantangan. Tantangan tersebut berasal dari pihak eksternal (kaum kafir Quraisy, kaum Yahudi dan Nasrani yang membangkang, dan sebagainya) dan pihak internal (orang-orang munafik) yang menyasar urusan akidah, ibadah, sosial, dan ekonomi.

Baca Juga: Islam Rahmatan Lil ‘Alamin: Konsepsi dan Manifestasi

Ketika Nabi masih hidup, para sahabat dapat mengadu dan/atau berkonsultasi dengan beliau ketika ada persoalan yang menimpa mereka. Sementara ketika beliau saw. sudah wafat, sumber pokok yang dapat dijadikan rujukan untuk berkonsultasi adalah al-Quran dan as-Sunnah.

Memperkokoh Iman

Dapatkah iman goyah dan melemah? Tentu saja dapat. Al-īmānu yazīdu wa yanqush, yazīdu bi at-thā’ah wa yanqushu bi al-ma’shiyah. Iman itu bertambah dan berkurang. Ia bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan.

Dalam QS. al-Baqarah [2]: 260, ketika Nabi Ibrahim meminta diperlihatkan bagaimana Allah swt. menghidupkan orang mati, Allah swt. berfirman, “belumkah engkau (Ibrahim) percaya?”. Dengan tegas Nabi Ibrahim menjawab, “balā, wa lakin liyathma’inna qalbī” (aku percaya, tetapi agar hatiku tenang atau mantap).

Itu artinya, iman perlu terus dimantapkan, dikuatkan, dikokohkan. Bagaimana caranya? Yunahar Ilyas dalam Cakrawala Al-Quran menjelaskan ada tiga metode yang digunakan al-Quran untuk memperkokoh keimanan seseorang. Tiga metode tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, menggunakan perantara fenomena alam. Dalam banyak ayat, Allah swt. menjelaskan pentingnya mengamati fenomena alam. Siapakah yang menciptakan langit? Siapa yang menghamparkan bumi? Siapa yang menurunkan air hujan? Bagaimana alam semesta bisa berjalan secara teratur dan tidak saling bertabrakan?

أمن جعل الأرض قرارا وجعل خلالها أنهارا وجعل لها رواسي وجعل بين البحرين حاجزا أءله مع الله بل أكثرهم لا يعلمون

Artinya, “atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui” (QS. an-Naml [27]: 61).

Sumber dari fenomena alam yang menakjubkan tersebut adalah Allah swt. Dialah yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Kepada-Nya lah manusia mesti berserah dan memohon pertolongan.

Baca Juga: Memerdekakan Jiwa dengan Tauhid

Kedua, menggunakan perumpamaan. Ada beragam perumpamaan yang digunakan dalam al-Quran untuk menyindir keimanan seseorang, misalnya; (a) al-Quran mengumpamakan orang yang mendustakan ayat-ayat Tuhan layaknya anjing yang mengulurkan lidahnya (QS. al-A’raf [7]: 176); (b) mengumpamakan orang kafir sebagai orang yang buta dan tuli (QS. Hud [11]: 24); (c) mengumpamakan amal orang yang mengingkari Allah seperti debu yang ditiup angin (QS. Ibrahim [14]: 18); (d) mengumpamakan orang yang mengambil pelindung selain Allah seperti berlindung di sarang laba-laba yang lemah dan mudah hancur (QS. al-‘Ankabut [29]: 41); (e) mengumpamakan kebenaran seperti pohon yang besar, tinggi, kokoh, yang akarnya menghunjam jauh ke tanah dan cabangnya menjulang ke langit, sedangkan kebatilah seperti pohon yang goyah dan tak berbuah (QS. Ibrahim [14]: 24-26).

Dalam QS. al-A’raf [7]: 176 dan QS. Hud [11]: 24, perumpamaan tersebut diiringi dengan anjuran untuk berpikir dan mengambil pelajaran. Yang haq sudah jelas, demikian halnya dengan yang bathil. Tidakkah engkau berpikir? Apakah mata hatimu buta, telinga nuranimu tuli?

Ketiga, menceriterakan kisah para Nabi dan umat terdahulu. Secara periodik, ayat-ayat kisah lebih banyak diturunkan pada periode Makkiyah. Salah satu alasannya adalah untuk menguatkan hati Nabi saw. ketika mengalami situasi-situasi sulit dan berat.

Baca Juga: Pemahaman Pokok-Pokok Ajaran Islam (1)

Kisah para Nabi dapat dijadikan teladan; bagaimana mereka teguh dalam keimanan, sabar menghadapi cobaan dan pertentangan, serta konsisten menyebarkan ajaran Tuhan. Sementara kisah umat yang durhaka dapat menjadi pelajaran; bahwa Tuhan berada dalam barisan orang-orang beriman dan Dia tidak akan membiarkan umatnya terombang-ambing dan tenggelam di samudera kesesatan. Allah swt. menegaskan bahwa orang beriman akan mendapat ganjaran pahala, sedangkan orang yang ingkar akan mendapat balasan siksa.

Demikianlah. Allah swt. telah menunjukkan kepada hamba-Nya jalan keimanan. Selanjutnya merupakan pilihan kita: mau mengikuti jalan tersebut atau menyelisihinya. Semoga kita berada dalam barisan orang-orang beriman dan bertakwa.

2 thoughts on “Tiga Metode untuk Memperkokoh Iman”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *