Tiga Peran Perempuan di Era Globalisasi

Perempuan Wawasan 3 Feb 2021 6 202x

Oleh: Kun Zachrun Istanti

Membicarakan perempuan ibarat membicarakan sayur di meja makan. Perannya bisa sangat bervariasi, tergantung pada pemilik meja makan tersebut.

Bagi orang Sunda, sayur wajib hadir di meja makan dan baru akan merasa puas kalau meja makannya seperti kebun yang pindah tempat. Bagi orang Padang, sayur hanyalah embel-embel saja yang boleh hadir tetapi tak perlu diupayakan kehadirannya. Sementara di jawa, sayur bisa menjadi hal yang pokok apabila dimasak dengan bumbu yang komplet tetapi dapat juga hanya menjadi tambahan saja. Semua itu tergantung selera, yang semua itu dibentuk oleh ada dan kebiasaan di masing-masing daerah.

Kedudukan perempuan yang muncul di permukaan tergantung pada persepsi seseorang atas perempuan. Di sini tampak bahwa unsur subjektivitas memegang peranan yang tidak kecil karena persepsi setiap orang bisa berbeda-beda.

Demikian juga, kedudukan perempuan dalam suatu kelompok masyarakat bisa berbeda dengan kelompok masyarakat yang lain. Bahkan di dalam suatu kelompok masyarakat yang sama, karakter orang per-orang bisa berbeda, walaupun sedikit-banyak masih tampak ciri khas kedaerahannya.

Perempuan dalam Perjalanan Sejarah Bangsa

Sumber-sumber sejarah bangsa Indonesia itu ada tiga pokok, yaitu nilai-nilai etnisitas (kesukuan), agama, dan budaya modern. Perjalanan sejarah bangsa ini dibentuk oleh percampuran dari ketiga sumber itu, dengan variasi dan transformasi masing-masing nilai. Nilai-nilai inilah yang menjadikan bangsa Indonesia seperti sekarang ini.

Untuk menelusuri potensi perempuan Indonesia, haruslah dirunut dari ketiga sisi sumber sejarah di atas. Dengan begitu akan tampak bahwa sebenarnya tidak ada keragu-raguan bahwa nilai-nilai yang dihayati oleh bangsa Indonesia itu wajar bagi perempuan, dalam arti tidak ada diskriminasi.

Dalam sejarah agama, ada suatu pandangan terhadap perempuan yang dapat disebut sebagai ‘gerhana’. Yakni suatu kondisi yang kadangkala mengalami penampakan dan pemudaran/penghilangan.

Jika dikaji dari aspek asasi agama, sebenarnya tidak ada ajaran yang menganjurkan suatu tindak diskriminatif terhadap perempuan. Tidak ada ayat dari kitab suci manapun yang membedakan antara perempuan dan laki-laki. Namun, akibat dari adanya sisi pandangan ‘gerhana’ itu, muncul penafsiran-penafsiran yang terkadang memanfaatkan legitimasi agama untuk memposisikan perempuan secara subordinatif.

Menurut data sejarah, bangsa Indonesia telah mengenal emansipasi sejak masa lampau. Hal ini tampak bahwa sejak abad ke-7 hingga berakhirnya zaman Majapahit, beberapa periode tahta kerajaan diduduki oleh kaum perempuan.

Kerajaan Kalingga, sebuah kerajaan tertua di Jawa yang pusat pemerintahannya di Jawa Tengah. Kerajaan Kalingga menampilkan sosok seorang perempuan yang memegang pemerintahan. Dia adalah Putri Shimo, yang memerintah sejak tahun 674 M. Pada abad ke-10, Bali diperintah oleh seorang perempuan bergelar Ganapriyadharmapadni, yang merupakan keturunan Makuthawangsawardana, raja Jawa Timur.

Majapahit, selama dua periode, diperintah oleh perempuan. Tahun 1328-1350 M, Tri Buwana Tunggadewi menduduki tahta kerajaan menggantikan ayahnya (Jayanegara). Tahun 1429-1477 M, Suhita memegang pemerintahan menggantikan ayahnya (Wikramawardana).

Dalam babakan periode sejarah berikutnya, muncul tokoh-tokoh perempuan dari berbagai daerah yang namanya harum hingga kini. Sebut misalnya Cut Nyak Din (Aceh), Kartini (Jawa Tengah), dan Dewi Sartika (Jawa Barat).

Emansipasi Perempuan

Dewasa ini, peran perempuan Indonesia semakin marak dan menduduki posisi penting, baik dalam masyarakat maupun dalam pembangunan yang meliputi berbagai bidang. Dari sisi nilai-nilai modern pandangan terhadap perempuan memang lebih terbuka kepada pendekatan yang non-diskriminatif antara perempuan dan laki-laki. Hampir tidak diragukan bahwa kultur masyarakatnya selalu mengedepankan konsep emansipasi, kesetaraan, dan demokrasi.

Lahirnya politik demokrasi serta munculnya sistem ekonomi sosialis dan kapitalis memberikan kesadaran baru terhadap hak-hak kaum perempuan. Mereka tak sudi ditindas lebih lama lagi, sebagaimana yang mereka alami di tengah masyarakat feodal. Mereka menolak dianggap rendah status sosialnya dibanding dengan laki-laki. Kaum perempuan menuntut hak-haknya agar sejajar dan mendapat penghormatan yang sama.

Akan tetapi, dalam kehidupan di masyarakat, nyatanya masih terdapat berbagai ketimpangan tentang peran perempuan yang disebabkan berbagai macam kendala. Oleh karena terlalu banyak tugas di rumah, secara emosional perempuan itu lemah. Kelemahan itu sesungguhnya dapat ditutupi dengan kelebihan dan potensi yang ada di dalam diri masing-masing perempuan.

Peran Perempuan di Era Globalisasi

Di era globalisasi ini, perempuan bukan hanya berperan ganda, melainkan punya tiga  peran aktif, yakni normatif, substantif, dan prestatif. Pertama, peran normatif, yakni sebagai ibu rumah tangga, pendidik anak, dan pendamping suami. Di dalam suatu keluarga, kebahagiaan dalam perkawinan adalah adanya saling pengertian antara suami dan istri, saling menerima kekurangan dan kelebihannya. Tidak ada keharusan bagi suami ataupun istri.

Kebahagiaan sebuah keluarga tidak terlepas dari kepandaian dan kegigihan istri dalam mengurus keluarga. Seorang perempuan, sebagai istri, berkewajiban mengurus keluarga, merawat anak-anaknya, dan mengurus kebutuhan suami dengan penuh kasih sayang.

Kedua, peran substantif. Yakni peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam kegiatan sosial. Kehidupan bermasyarakat pada masa sekarang sangat kompleks, yang kadangkala menyita waktu untuk para ibu (perempuan).

Ketiga, peran prestatif. Yakni peran untuk mengembangkan prestasi dan karir sesuai dengan keahlian masing-masing. Bila kita perhatikan dewasa ini, perempuan Indonesia memiliki berbagai peluang untuk mengembangkan peran prestatif sejajar dengan kaum laki-laki. Banyak perempuan yang bekerja di luar rumah sebagai guru, dokter, pengusaha, menteri, dan profesi-profesi lain.

Bekerja di luar rumah adalah sebuah pilihan bagi perempuan. Jika seorang istri bekerja di luar rumah, artinya pasti sudah ada kesepakatan dalam keluarga. Kesepakatan inilah yang membuat ringan pekerjaan karena adanya pembagian tugas bagi masing-masing anggota keluarga.

Ketiga peran itu akan dapat berjalan dengan baik asal sang perempuan tersebut dapat mengatur waktu, tidak menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan oleh keluarga, dan tetap memegang teguh kodratnya sebagai ibu rumah tangga dan pendidik anak.

Sumber: Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 04 Tahun 2008

6 thoughts on “Tiga Peran Perempuan di Era Globalisasi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *