Kalam

Tilawah dan Qiraah: Literasi Pemahaman Ajaran Islam

Al-Quran
Al-Quran

Al-Quran (foto: pixabay)

Oleh: Ustadzi Hamzah

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenung sejenak tentang diri kita dan umat Islam. Secara spesifik, mari kita kaji perkembangan zaman akhir-akhir ini, khususnya terkait tsunami informasi yang melanda serta bagaimana umat Islam merespons berbagai perkembangan tersebut. Ragam informasi ini bisa menyangkut hal yang serius semacam kepemimpinan non-muslim, legalisasi miras, urusan keberadaan tuhan, persoalan toleransi antar agama, atau pun hal lain yang lebih ringan, seperti gaya hidup (life style), kesenangan (leisure), persoalan ghibah melalui infotainment, drama Korea, dan lain sebagainya.

Beragam informasi yang dihadapi oleh umat Islam ini telah melahirkan berbagai respons untuk menanggapi maupun memberi jawaban atas persoalan yang dihadapi. Ada figur yang merujuk pada cara pandang proporsional, ada juga yang sedikit nyleneh. Ketika figur tersebut mengemukakan pendapat dengan mengutip ayat, hadis, atau pendapat ulama, seringkali diakui sebagai sebuah kebenaran walaupun kita belum membandingkan dengan pendapat lainnya. Kita sudah puas, seakan mendapatkan siraman rohani dan tidak ada yang lainnya.

Ini memang terkait dengan persepsi kita juga. Bagaimanapun, merasa cocok dengan salah satu ustadz, dan kurang atau tidak cocok dengan ustadz lain adalah bagian dari hak pribadi. Hal ini kadang membuat kita lupa melakukan penyaringan, sehingga lupa pula melakukan evaluasi dan membuka kesempatan dialog karena bahkan menganggap bahwa ajaran ustadz ini sudah memenuhi segala-galanya. Tidak perlu dikritisi.

Untuk itu, pertanyaan besar yang kita hadapi adalah pendapat mana yang perlu kita ikuti di antara berbagai pendapat yang disampaikan oleh para figur yang menjadi tokoh itu? Lalu, bagaimana respons kita sebagai umat Islam untuk dapat menyikapi berbagai pendapat tersebut, larut begitu saja atau kita berupaya menyaringnya? Jangan sampai kita terlanjur larut dalam arus dunia maya di media sosial, padahal kita pun telah diingatkan untuk melakukan tabayyun dulu sebelum menyimpulkan sesuatu.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu” (Q.S. al-Hujurat: 6).

Upaya tabayyun dilakukan untuk menghindarkan diri dari persekusi (menghakimi sebelum ada alat bukti), atau bahkan menganggap apa yang telah dilakukan sebagai kebenaran juga. Betapa kelirunya jika terlanjur menjatuhkan penilaian atau menghakimi setelah mengetahui bahwa ternyata penilaian kita salah di belakang hari.

Dengan demikian, apa yang kita terima dari orang lain perlu disaring dahulu, terlebih jika yang menyampaikan dan yang disampaikan belum kita ketahui secara baik. Kebenaran yang hanya didasarkan pada anggapan ini tentu tidak bisa dijadikan pegangan untuk berbuat. Terkait dengan hal ini, Allah mengingatkan,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلً ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Artinya, “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah perlu kami beri tahukan orangorang yang paling rugi perbuatannya kepadamu?” (Yaitu) orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya (Q.S. al-Kahfi: 103-104).

Memahai Islam dengan Tilawah

Untuk mengantisipasi kondisi seperti ini, apa yang selayaknya kita lakukan? Ajaran Islam merupakan ajaran yang terbuka, siapapun dapat mempelajari dan memahaminya. Keterbukaan itu tercermin langsung dalam kitab suci al-Quran. Di dalamnya, Allah mengisyaratkan bahwa untuk mengakses ajaran Islam ini dapat dilakukan dengan dua model, tilâwah dan qirâ’ah.

Model tilâwah merupakan cara membaca dan mempelajari ajaran Islam dengan langsung membaca teks-teks ayat dalam al-Quran untuk dipahami, dihayati, disyiarkan, lalu dikerjakan. Hal ini sesuai dengan pesan al-Quran,

ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Artinya, “Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (al-Quran) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S. al-Ankabut: 45).

Ayat ini mengandung perintah untuk tilawah, yakni membaca langsung bunyi teks ayat al-Quran. Secara metodologis, konsep ini akhirnya menjadi acuan model tilawah dalam memahami ajaran Islam dengan cara mencukupkan diri pada bunyi teks. Setelah itu, menyampaikannya juga dari bunyi teks itu dengan sedikit penafsiran. Model ini dilakukan oleh sebagian umat Islam atau mungkin para pengkaji Islam untuk memahami ajaran Islam langsung dari bunyi teks ayat al-Quran.

Baca Juga: Tren Keilmuan Agama Era Kontemporer: Bergerak dari Multidisiplin ke Interdisiplin dan Transdisiplin

Bunyi teks diposisikan sebagai makna asli dari apa yang dikandung pada ayat tersebut. Apabila ada sebuah persoalan, lalu saat dicarikan rujukan dari bunyi teks al-Quran tidak ditemukan, akan dicari dari bunyi teks di dalam hadis. Jika ini pun tidak ditemukan maka akan mencarinya pada bunyi teks kitab tulisan para ulama. Dengan demikian, pemahahaman terhadap ajaran Islam semata-mata didasarkan pada bunyi teks. Ironisnya lagi, bunyi teks tulisan para ulama “disucikan” menjadi rujukan yang tidak boleh dikritisi lagi.

Memahai Islam dengan Qiraah

Model kedua yakni qiraah. Model ini merupakan cara untuk mempelajari ajaran Islam dengan cara membaca secara lebih luas. Allah berfirman,

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (Q.S. al-‘Alaq: 1-5)

Ayat ini, dan masih banyak ayat-ayat serupa sebagai perintah untuk membaca, mengajak kita untuk membaca apa saja dalam rangka memahami ajaran Islam. Dengan model ini, siapapun dapat membaca dan mempelajari ajaran Islam melalui isyarat yang terdapat pada bunyi teks.

Kemudian, aktivitas itu dilanjutkan dengan membaca dan mempelajarinya melalui isyarat-isyarat yang ada di lingkungan sosial manusia ataupun di alam semesta. Selanjutnya, sumber-sumber pengetahuan yang diperoleh dari hasil membaca bunyi teks, membaca keadaan, membaca konteks sosial-budaya, termasuk juga membaca perkembangan ilmu pengetahuan, dijadikan rujukan dalam memahami ajaran Islam.

Model qiraah ini akhirnya dikembangkan menjadi qiraah jadidah (qiraah mu’ashirah). Qiraah jadidah adalah cara mempelajari ajaran Islam dengan alur seperti yang telah disebutkan di atas pada uraian tentang model qiraah. Akan tetapi, ada upaya mengaitkan antara bunyi teks, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kondisi sosial-budaya. Kemudian menyatukan berbagai cara pandang dari berbagai sumber pengetahuan untuk menjelaskan ajaran Islam tertentu secara mendetail.

Selanjutnya, tidak terjebak pada pensucian pendapat seseorang seakan-akan pendapatnya tersebut setara dengan firman Allah, atau mengkultuskan tokoh tertentu. Qiraah jadidah (qiraah mu’ashirah) hendak menampilkan ajaran Islam secara terbuka dan selalu membuka dialog dan ijtihad-ijtihad yang lebih luas.

Tabayun

Itulah tadi model-model untuk memahami ajaran Islam. Dengan cara ini, seseorang akan mengerti dan memahami ajaran Islam secara baik. Pemahaman yang baik pada gilirannya akan tercermin dalam cara memahamkannya kepada orang lain pula.

Sebagai umat atau jamaah, setelah dapat mengerti cara-cara di atas, tentu kita akan dapat menilai mana seseorang yang menyampaikan ajaran Islam berdasarkan hasil pembacaan secara tilawah atau qiraah bahkan qiraah jadidah. Dengan mengetahui cara memahami model yang digunakan seseorang tersebut, kita akhirnya dapat menempatkan diri untuk memutuskan apakah menerima atau menggali kembali ajaran yang disampaikan seseorang tersebut. Kita pun juga bisa menilai diri kita sendiri apakah selama ini kita menerima ajaran Islam dengan model tilawah atau qiraah bahkan qiraah jadidah?

Inilah cara tabayyun kita ketika menghadapi penyampaian-penyampaian ajaran Islam oleh seseorang. Kita tidak mengatakan salah atau benar dari model itu. Namun, kita akan bisa menilai dampak dari penyampaian ajaran Islam yang didasarkan pada kedua model tersebut. Mana dampak yang lebih membawa maslahat yang lebih luas, dan mana yang justru membawa pada syak wasangka bahkan saling benci sesama umat Islam dan sesama bangsa.

Baca Juga: Melahirkan Ulama Penggerak

Akhirnya, marilah kita renungkan satu firman Allah dalam Q.S. al-Hujurat: 1-2 (yang artinya),

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Wahai orangorang yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain. Hal itu dikhawatirkan akan membuat (pahala) segala amalmu terhapus, sedangkan kamu tidak menyadarinya.

Ayat ini mengajak kita untuk menjadi “seperti Nabi”, yakni selalu membawa kemaslahatan dan kebaikan bagi semuanya. Nabi melarang mengkuduskan dirinya, mengkultuskan pribadinya. Allah melarang kita untuk melampaui posisi Nabi. Hanya Nabi yang mempunyai otoritas ajaran Islam, sedangkan para penceramah, ustadz, pemimpin agama, dan kita tidak. Kita hanya membaca, mempelajari, menghayati, menyampaikan, dan mengamalkannya dengan penuh rahmah dan keterbukaan.

Ajaran yang disampaikan beliau penuh rahmah (kasih sayang pada semuanya), dan membiarkan umat memaknainya secara rahmah pula. Hal tersebut dicapai dengan memperdalam dan memperluas cakrawala pandang kita. Inilah literasi pemahaman ajaran Islam. Allâh a’lam bishawwâb.

Related posts
Kalam

Larangan Menjadikan Hawa Nafsu sebagai Tuhan

Islam adalah agama tauhid. Dalam Q.S. al-Ikhlas Allah swt. menegaskan bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan, tempat segala sesuatu bergantung, tidak beranak dan tidak…
Kalam

Cara Memilih Jodoh Menurut Islam

Di dalam al-Quran, Allah swt. menjelaskan bahwa segala sesuatu, termasuk manusia, diciptakan saling berpasang-pasangan. Tujuan dari penciptaan yang berpasang-pasangan itu adalah agar…
Kalam

Amalan Sunnah di Bulan Muharram

Ada dua belas bulan dalam satu tahun hitungan kalender Islam/Hijriyah, yakni: Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab,…

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.