Tim PKM Fakultas Psikologi Unmuha Tingkatkan Kreativitas Warga Binaan di Masa Pandemi

Berita 24 Sep 2021 0 56x

Banda Aceh, Suara ‘Aisyiyah – Kamis (23/9), Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) mengadakan serangkaian kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di masa pandemi dengan melibatkan 24 ibu-ibu pengrajin rotan yang berasal dari empat gampong di kawasan Lhoknga, Aceh Besar.

Empat gampong tersebut adalah Gampong Kueh, Gampong Lamgaboh, Gampong Aneuk Paya, dan Gampong Lamcok. Ibu-ibu itu diperkenalkan seni menghias dengan tehnik Basic Decoupage Art.

Kegiatan pelatihan ini dibuka oleh Ruslaidi selaku Geuchik Gampong Desa Kueh. Dalam kata sambutannya ia mengucapkan terima kasih dan mengapreasiasi kegiatan pengabdian yang dilakukan Fakultas Psikologi Unmuha ini. Kegiatan ini, menurutnya, adalah sesuatu yang baru bagi masyarakat gampong. Oleh karenanya, ia mengajak seluruh peserta pelatihan untuk mengambil ilmu dari kegiatan ini dan kemudian menerapkannya.

Ketua pelaksana kegiatan PKM Winda Putri Diah Restya mengatakan, “Decoupage adalah cara yang menyenangkan untuk memberikan nilai tambah pada suatu produk, serta sebuah cara yang mudah untuk mendekorasi ulang berbagai media, seperti telenan, perabotan lama, piring, nampan, gelas, dan lain sebagainya. Selain memiliki nilai estetika yang tinggi, tehnik decoupage juga dapat meningkatkan harga jual suatu produk”.

Baca Juga: Inovasi dan Kreativitas, Jalan Dakwah ‘Aisyiyah

Acara ini merupakan salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni melakukan pengabdian kepada masyarakat. “Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat meningkatkan keterampilan, menumbuhkan kreativitas, dan dapat membantu ibu-ibu dalam meningkatkan nilai jual produknya. Jika selama ini produk yang dipasarkan terbatas pada kerajinan berbahan dasar rotan, maka melalui pelatihan ini para pengrajin diharapkan memiliki alternatif produk baru untuk dipasarkan,” paparnya saat ditemui di Balai DesaGampong Keuh, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar.

Winda dan Nur Hasmalawati (tim pelaksana PKM), yang berprofesi sebagai dosen tetap di Fakultas Psikologi Unmuha menjelaskan bahwa decoupage adalah seni yang telah dimulai sejak abad ke-12 silam. Kata decoupage sendiri berasal dari Bahasa Perancis yang berarti memotong, menggunting, dan kemudian menempelkan potongan-potongan bahan (biasanya berupa napkin atau tisu khusus decoupage) pada media tertentu.

Proses pelatihan basic decoupage art dimulai dengan kegiatan mengamplas media seni (telenan), mengecatnya dengan cat khusus decoupage (cat acrylic), menggunting/memotong napkin sesuai dengan pola yang dikehendaki, kemudian menempelkannya pada media seni dan diberi sentuhan akhir berupa varnish agar pola atau gambar dari napkin dapat terlihat seperti seolah-olah dilukis pada objek.

Dalam pelatihan dan pendampingan ini, para peserta mendapatkan keahlian baru (new skill), terutama dalam hal tehnik pembuatan produk seni melalui basic decoupage art. Selain itu, dihasilkan juga 26 telenan yang telah dihias dengan tehnik decoupage dan 5 clucth anyaman yang siap untuk dipasarkan. Kegiatan ini ditutup dengan pemberian feed back dari para peserta pelatihan, rencana tindak lanjut program, dan foto bersama. (Agusnaidi B/sb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *