Kesehatan

Tips Berpuasa bagi Ibu Menyusui

Oleh: Nurul Kurniati*

Bagi ibu menyusui, berpuasa merupakan sebuah tantangan untuk dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bagi bayinya dan peluang untuk dapat menjalankan ibadah di bulan yang dilipatgandakan pahala oleh Allah swt. Dalam tuntunan agama Islam, ibu hamil dan berpuasa diberi keringanan: apabila merasa tidak mampu maka disarankan untuk mengganti puasa di hari yang lainnya atau bisa dengan membayar fidyah. Namun apabila dirasa memiliki kemampuan untuk berpuasa dan bayi dalam kondisi bugar, sang ibu boleh lanjut berpuasa.

Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) PP Muhammadiyah, disebutkan dalam riwayat Abu Dawud dari Ibnu Abbas bahwa, “ditetapkan bagi orang yang mengandung (hamil) dan menyusui untuk berbuka (tidak berpuasa) dan sebagai gantinya, memberi makan kepada orang miskin setiap harinya”. Demikian agama Islam memberikan kemudahan bagi umatnya agar tetap dapat beribadah kepada Allah swt. sesuai ketentuan dalam al-Quran dan hadits.

Puasa merupakan perintah wajib bagi setiap mukmin, termasuk ibu menyusui. Apabila ibu menyusui masih dalam rentang masa nifas (di mana masa nifas belum selesai), maka ia tidak diperbolehkan untuk berpuasa, sama halnya seperti perempuan ketika sedang haid (menstruasi). Sebagai gantinya ia harus mengganti hari puasa yang ditinggalkan di hari lain di luar bulan Ramadhan.

Namun bagi ibu nifas yang sudah selesai masa nifasnya dan melanjutkan menyusui bayi dengan memberikan ASI Eksklusif selama 0-6 bulan seperti yang sudah ditetapkan oleh WHO (World Health Organization) atau ibu yang akan menyempurnakan penyusuan kepada bayinya selama 2 tahun penuh seperti yang tertera pada Q.S. al-Baqarah [2]: 233, ibu menyusui diperbolehkan menjalankan ibadah puasa dengan beberapa pertimbangan, yakni prioritas kesehatan ibu dan bayi.

Baca Juga: Ini Keutamaan Ramadhan, Bulan Terbaik dalam Satu Tahun

Bagi ibu menyusui yang akan berpuasa dan memberikan ASI secara optimal kepada bayinya, ada beberapa hal atau syarat berkaitan kesehatan yang harus diperhatikan.

Bagi ibu, hal itu menyangkut: pertama, ibu harus memastikan asupan nutrisi yang dikonsumsi bergizi seimbang dan dapat memenuhi kebutuhan gizi ibu dan bayinya. Kebutuhan kalori ibu menyusui 2-3 kali lipat lebih banyak daripada ibu dalam keadaan normal atau tidak menyusui.

Ibu tetap makan 3x sehari, yaitu saat berbuka, saat malam hari sebelum tidur, dan saat sahur untuk menjaga kebutuhan kalori ibu. Asupan nutrisi yang dibutuhkan berupa karbohidrat kompleks yang tinggi serat, cukup kalsium, tinggi protein hewani, berbagai buah dan sayuran untuk mendapatkan asupan vitamin dan mineral beragam, dan cukup hidrasi demi menjaga status hidrasi seharian.

Kedua, ibu harus mencukupi kebutuhan cairan (minum air mineral) selama masa berbuka dan sahur (minimal 10 gelas/hari) untuk memastikan kecukupan hidrasi ibu agar ASI tetap produksi dengan baik dan ibu tidak mengalami dehidrasi.

Ketiga, ibu juga menjaga pola aktivitas untuk tidak terlalu kelelahan dalam kegiatan sehari-harinya dan cukup waktu untuk istirahat agar ibu tetap bugar selama berpuasa dan menyusui, karena kondisi ibu yang terlalu lelah dan kurang istirahat dapat memacu kondisi fisik dan psikologis kurang baik yang dapat berdampak pada produksi ASI.

Keempat, apabila ibu merasa produksi ASI berkurang atau bahkan ASI tidak keluar lagi dan kebutuhan nutrisi bayi tidak mencukupi, maka ibu dapat segera berbuka dan memenuhi kebutuhan gizi ibu dan bayi.

Kelima, ibu tidak memiliki gangguan kesehatan atau penyakit yang dapat memperparah kondisinya jika memaksakan diri untuk berpuasa.

Keenam, ibu memperoleh dukungan dari tenaga kesehatan dan keluarga dalam ikhtiar berpuasa dan tetap menyusui bayinya.

Ketujuh, ibu menyusui yang bekerja dan ingin tetap memberikan ASI selama berpuasa tetap dapat memberikan ASI dengan manajemen ASI Perah yang tepat, dan dapat ditambah dengan konsumsi vitamin dan suplemen penambah ASI.

Adapun bagi bayi, syarat yang berkaitan kesehatan meliputi: pertama, ibu yang akan berpuasa dan tetap menyusui optimal disarankan pada bayi yang telah berusia 6 bulan ke atas, karena bayi sudah memperoleh MPASI (makanan pendamping ASI), sehingga ketika bayi membutuhkan nutrisi, ASI dapat diberikan MP ASI terlebih dahulu.

Kedua, bayi tetap menunjukkan status kesehatan yang baik, seperti bayi tetap bergerak aktif, tidak lemas dan tetap bugar, bayi buang air kecil (BAK) dengan frekuensi yang sesuai tidak terjadi pengurangan frekuensi BAK, dan bayi terlihat puas setelah menyusui dan tidak terlihat tanda-tanda dehidrasi pada bayi.

Ketiga, bayi tidak memiliki penyakit atau gangguan kesehatan yang menyebabkan bayi harus selalu dipantau kecukupan nutrisi dan status kesehatannya.

Keempat, ibu memahami kebutuhan cairan bayi yang dapat dilihat dari frekuensi dan durasi menyusui. Apabila ibu menggunakan ASI perah kebutuhan cairan ASI untuk bayi tidak mengalami perubahan, karena produksi ASI sangat dipengaruhi nutrisi yang ibu konsumsi dan frekuensi ASI diberikan, semakin sering ASI diisap oleh bayi maka semakin tinggi produksi ASI.

Mapaware (2020) dalam review-nya pada UMI Medical Journal menyebutkan puasa pada ibu hamil dan menyusui tergantung pada kesehatan sang ibu saat itu, serta ada tidaknya izin dan pengawasan dari dokter. Oleh karena itu, hukum Islam yang mengatur tentang puasa tidak mewajibkan ibu hamil dan menyusui untuk berpuasa dan meng-qadha dengan berpuasa di hari lain ataupun dapat diganti dengan membayar fidyah.

Hal ini menunjukkan bahwa ibu diberikan pilihan untuk menyusui saat berpuasa, tetapi dengan tetap memprioritaskan kesehatan ibu dan bayinya. Semoga ibu dan bayi tetap bugar selama ikhtiar menjalankan ibadah puasa walaupun masih dalam periode pemberian ASI.

* Dosen Kebidanan Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta

Related posts
Kesehatan

Tips Puasa Ramadhan bagi Penderita Diabetes

Oleh: Anjar Nurrohmah* Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang wajib dilakukan bagi orang-orang beriman. Bila tidak ada hambatan dari sisi fisik, tentunya setiap…
Gaya Hidup

Olahraga yang Cocok Saat Puasa

Oleh: Dika Rizki Imania* Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim, bulan yang penuh berkah dan rahmah. Semua umat…
Sains dan Tekno

Abdul Mu’ti: Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai Sarana Penyempurna Ibadah

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Ada banyak hikmah yang terkandung dalam setiap ibadah. Di antara hikmah itu ialah bagaimana ibadah dijelaskan dengan kaca…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.