Tradisi Keilmuan Arab: Dulu dan Kini

Wawasan 31 Agu 2021 0 65x
Tradisi Keilmuan Arab

Tradisi Keilmuan Arab

Oleh: Hajriyanto Y. Thohari

Di Beirut ini saya mempunyai hobi berkunjung ke penerbit-penerbit buku yang jumlahnya lumayan banyak. Jabatan sebagai duta besar memudahkan saya mengunjungi hampir semua penerbit buku atau kitab di Lebanon, bahkan tidak jarang para pemiliknya mengundang saya sebagai tamu kehormatan. Di antara penerbit besar di Beirut adalah Dar l-Kutub l-Ilmiyah (DKI), Dar Ihya l-Turats l-Arabi, Dar l-Fikri, Dar Ibni Hazm, Dar Sadr, Dar al-Farabi, dan lain-lainnya.

Saya selalu penuh antusiasme berkunjung ke penerbit-penerbit buku di Beirut (dan juga ke acara-acara pekan buku [book fair] yang sebelum pandemi Covid-19 banyak digelar di Beirut dan kota-kota besar lainnya) tersebut. Saya dapat berlama-lama berada di tengah-tengah samudera kitab yang menghampar dari satu sudut ke sudut yang lain di empat atau lima lantai bangunan yang masing-masing lantai luasnya ribuan meter persegi, dan mengelilinginya seharian.

Saya pegangi kitab-kitab yang berjilid-jilid itu, membukanya sekilas untuk melihat daftar isinya, dan tidak jarang saya ciumi satu persatu dengan penuh kecintaan serta hati yang membuncah. Inilah khazanah kekayaan intelektual Arab dan Islam yang luar biasa kaya dan mengagumkan. Kadang terbersit dalam benak saya, bagaimana mungkin bangsa yang memiliki kekayaan intelektual sekaya ini tidak kunjung mencapai kemajuan seperti bangsa-bangsa lain?

Tidak sekali dua kali saya diberikan kitab-kitab yang terlihat saya baca sekilas sewaktu mengelilingi tadi sebagai hadiah kehormatan. Tak heran ketika saya pulang ke kediaman, saya membawa setumpuk kitab-kitab penting yang tak ternilai harganya. Betul-betul berkah bagi saya.

Rasanya saya menyesal dalam usia segini saya hanya dapat membaca beberapa gelintir kitab saja. Rasanya saya telah menyia-nyiakan waktu dan kesehatan yang diberikan Tuhan untuk hal-hal yang tidak berguna. Mestinya saya dulu sebaiknya lebih memanfaatkan waktu untuk menekuni membaca kitab-kitab yang tersedia begitu banyak dan beragam itu.

Tradisi Keilmuan Arab Dulu

Di masa lalu, bangsa Arab Islam memegang mercusuar peradaban dunia. Semangat literasi yang disemaikan oleh Rasulullah saw. mulai menunjukkan perkembangan yang luar biasa pada masa Umayyah yang beribukota di Damaskus, kemudian mencapai puncaknya pada masa Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Para sarjana-sarjana Arab pada masa itu tampil sebagai penulis-penulis yang prolific dalam berbagai bidang keilmuan dan kesusasteraan.

Jalan pintas dan instan untuk melihat karya-karya keilmuan pada masa itu, dapat kita lakukan dengan membaca Kitab Al-Fihris karya Abu al-Faraj Mohammad ibn Ishak ibn Muhammad ibn Ishak al-Nadim (935-995 M). Pasalnya, kitab Al-Fihris yang artinya katalog, merupakan buku yang memuat indeks seluruh kitab yang ditulis di masa itu baik oleh para penulis Arab maupun non-Arab dalam Bahasa Arab. Jumlah buku yang dimuat dalam kitab itu mencapai hampir 10.000 kitab. Bayangkan betapa banyaknya judul kitab yang telah ditulis sampai masa ketika Al-Nadhim menulis kitab Al-Fihris itu.

Al-Nadhim adalah seorang pengarang buku, pedagang buku, dan juga ahli kaligrafi, yang tinggal di Baghdad, sempat juga tinggal di Mosul, di masa pertengahan Abbasiyah. Kitab Al-Fihris yang ditulisnya mencakup kitab-kitab keagamaan Islam, Yahudi dan Kristen, hadits, sejarah, hukum, biografi, syair, magi, dan kimia. Hebatnya Al-Nadhim menyebutkan ukuran buku, jumlah halaman, dan salinannya secara ringkas yang dapat dijangkau oleh para pemburu buku. Pokoknya segala informasi tentang ribuan judul buku itu tersedia dalam kitab Al-Fihris tersebut.

Tentu generasi muda sekarang masih memiliki kesempatan untuk membaca khazanah keilmuan Arab yang luar biasa kaya itu. Warisan intelektual masa Abbasiyah tersebut sudah diterbitkan kembali oleh penerbit-penerbit kitab klasik di Beirut, Kairo, dan kota-kota Arab lainnya. Tentu lebih banyak lagi yang belum diterbitkan baik karena jumlahnya yang begitu banyak, juga banyak pula yang hilang atau musnah, akibat penyerbuan Mongol yang sangat biadab atas Baghdad pada 1258.

Tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan bukan hanya membumihanguskan Baghdad melainkan juga membakar perpustakaan-perpustakaan yang menyimpan ribuah kitab dan buku. Kitab-kitab yang tersisa dari keganasan Mongol saja masih sedemikian banyaknya yang belum dapat diterbitkan yang konon jumlahnya masih sangat besar. Semuanya itu menggambarkan betapa hebatnya tradisi keilmuan pada masa Abbasiyah itu.

Baca Juga: Merawat Khazanah Turats: Warisan Muhammad ‘Abduh yang Terlupakan

Dunia Arab beruntung mewarisi khazanah intelektual Arab Islam masa lalu yang luar biasa gemilang itu. Bangsa-bangsa yang berbahasa Arab memiliki modal intelektual yang sangat menguntungkan karena memiliki akses yang lebih luas terhadap warisan intelektual tersebut. Lebih beruntung lagi karena fakta bahwa Bahasa Arab memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa kuat melebihi bahasa dunia manapun. Kitab-kitab yang ditulis dengan Bahasa Arab di masa-masa Abbasiyah itu (baca: lebih dari 1500 tahun yang lalu), masih dapat dibaca dengan mudah di zaman sekarang karena bahasa Arab memang bahasa yang sangat kenyal dan tetap hidup. Berbeda dengan misalnya Bahasa Sansekerta dan Yunani yang sudah mati itu.

Penerbit-penerbit buku dan kitab di Arab pun tidak tinggal diam: mereka dengan penuh antusiasme mencetak dan menerbitkan kembali warisan intelektual lama (turats) tersebut. Penerbit Dar Ihya l-Turats l-Arabi adalah salah satu penerbit di Beirut yang, seperti namanya, memusatkan perhatiannya pada penerbitan kitab-kitab klasik warisan khazanah keilmuan lama. Dar artinya rumah (penerbit); Ihya artinya menghidupkan (kembali); al-Turats artinya warisan (intelektual); dan l-Arabi artinya Arab. Jadi Dar Ihya l-Turats l-Arabi berarti Penerbit yang menghidupkan kembali warisan intelektual Arab.

Demikian juga dengan Dar l-Kutub l-Ilmiyah (Penerbit Kitab-Kitab Intelektual disingkat DKI), Dar l-Fikri (Rumah Penerbit Pemikiran), Dar Ibni Hazm (Penerbit Ibnu Hazm, seorang sarjana dan ulama masa Andalusia Islam), Dar Sadr (Penerbit Sadr), dan sederet lagi penerbit lainnya. Saya rasa mereka itu adalah mujahid-mujahid buku yang luar biasa berdedikasi dalam melestarikan dan mengembangkan khazanah keilmuan lama tersebut. Penerbit-penerbit tersebut bukan hanya sekadar menerbitkan kitab-kitab lama, melainkan juga membiayai para ahli filologi untuk meneliti buku-buku lama yang masih berupa manuskrip atau tulisan tangan, memilih dan memilahnya secara akademis dan metodologis, untuk kemudian siap dicetak dan diterbitkan.

Sebagai pelengkap dan penyedap (bumbu), perlu ditambahkan di sini betapa mereka sangat menghargai kitab-kitab lama adalah dalam kesungguhannya menerbitkan kitab dan buku dalam kemasan dan format yang kuat. Berbicara tentang tradisi keilmuan di dunia Arab secara simbolik dapat dirasakan dari tradisi hardcover dalam penerbitan buku. Lihat saja buku-buku atau tepatnya kitab-kitab Arab, bukan hanya judul bukunya ditulis dengan kaligrafi yang sangat indah dan memesona, me-lainkan juga diterbitkan selalu dalam kemasan hardcover yang tebal dan kuat.

Sepertinya sebuah penerbitan kitab memang dirancang untuk bertahan sampai ratusan tahun, syukur bisa bertahan sampai sehari menjelang kiamat! Tak heran jika kitab-kitab klasik yang ditulis lebih dari seribu lima ratus tahun yang lalu masih banyak yang bertahan sampai sekarang, seperti bertahannya tradisi keilmuan Arab. Walhasil, dilihat dari kemasannya tampak tangguh, demikian juga dilihat dari perspektif isinya: relevan dan aktual. Apalagi jika dipelajari dan diperlakukan secara kritis sebagaimana layaknya dalam dunia akademis.

Kekuatan tradisi keilmuan Arab tidak hanya dapat dilihat dari aspek fisikal, seperti jumlah dan format kitab-kitab yang diterbitkan, melainkan juga tampak dalam kemampuan intelektual para sarjananya dalam menulis kitab/buku dalam satu topik sampai berjilid-jilid. Lihat misalnya kitab Al-Aghani yang ditulis oleh Abul Faraj Al-Isfahani (8970967) yang tebalnya sampai 25 jilid! Buku yang isinya tentang kesenian, nyanyian, syair, cerita, dan anekdot, yang sangat ensiklopedis itu konon ditulis oleh Al-Isfahani selama lima puluh tahun. Apalagi kitab-kitab agama Islam, banyak sekali yang ditulis berjilid-jilid. Juga buku-buku lainnya karya Al-Isfahani.

Lihat juga Al-Thabari (839-923) menulis Tarikh Thabari sebanyak 20 jilid, di samping juga Tafsir Al-Thabari; Ibnu Katsir (1031-1373), sejarawan dan mufasir, menulis Al-Bidayah wa l-Nihayah 25 jilid, di samping juga Tafsir Ibnu Katsir yang sangat terkenal itu; Ibnu Mandzur (1232-1311), ahli leksikograf yang menulis kamus Lisan al-Arab dalam 18 jilid. Ibnu Khalikan (1211-1282) menulis Wafayatu l-A’yan, sebuah kitab yang merupakan ensiklopedia tokoh-tokoh sufi itu sepanjang 12 jilid. Demikian juga dengan sederet lagi sarjana-sarjana Arab Islam lainnya yang sangat prolifik dan produktif.

Tradisi Keilmuan Arab Sekarang

Ternyata bukan hanya sarjana-sarjana lama atau klasik yang menulis buku-buku berjilid-jilid tersebut, melainkan juga sarjana-sarjana Arab sekarang. Meski dibandingkan dulu, disinyalir kualitas intelektualisme sarjana-sarjana yang menulis dalam Bahasa Arab sejak beberapa dasawarsa terakhir ini mengalami penurunan, tetapi tradisi menulis kitab berjilid-jilid itu masih dapat kita temukan di beberapa negara Arab.

Lihat saja Mohammad Imarah (sarjana Mesir kontemporer) yang menulis buku tentang Mohammad Abduh saja sampai empat jilid tebal. Bayangkan, hanya menulis tentang Muhammad Abduh saja perlu empat jilid buku tebal! Juga Hasan Hanafi (pemikir kontemporer Mesir), tokoh pemikiran Islam Kiri (al-Yasar al-Islamy) menulis Mina al-Fana ila l-Baqa’ dalam dua jilid tebal-tebal.

Dunia Arab memang memiliki tradisi keilmuan yang hebat di masa lalu, yakni ketika berada di bawah haribaan peradaban Islam. Sisa-sisa kehebatan tersebut masih tampak sampai sekarang melalui tradisi literasi yang oleh para sarjana Arab kontemporer coba terus tekuni melalui penulisan buku-buku sebagaimana tersebut di atas. Tradisi keilmuan suatu bangsa tak ayal lagi memang harus dilihat dari perjalanan bangsa tersebut dalam menulis dan menerbitkan buku-buku.

Baca Juga: Spirit Literasi ‘Aisyiyah: Sebuah Analisis Sejarah

Mengapa jumlah penerbitan buku? Jawabannya adalah karena bagaimanapun juga berbicara tentang tradisi keilmuan suatu bangsa, pada akhirnya tidak dapat lepas dari produksi buku yang dihasilkan oleh bangsa tersebut. Walhasil, angka-angka yang akan berbicara: berapa jumlah buku yang diterbitkan oleh suatu negara per tahun, berapa judul buku dan jurnal, berapa eksemplar, berapa jumlah orang yang membaca, dan buku-buku tersebut mencakup dalam bidang apa saja. Bahkan juga adakah buku-buku dalam bidang kesusasteraan. Pasalnya, cara melihat kualitas suatu bangsa seringkali harus dilihat dari tulisan-tulisan sastranya. Singkatnya bagaimana kehidupan kesusasteraan dari bangsa tersebut.

Tradisi keilmuan suatu bangsa dan negara pada akhirnya memang hanya dapat dilihat dengan ukuran-ukuran kuantitatif, yaitu berapa jumlah buku yang diterbitkan per tahun. Jika produksi buku per tahun tinggi maka artinya tradisi keilmuan di negara tersebut cukup baik. Baru kemudian dilihat aspek kualitas dari buku-buku yang diterbitkan itu, seperti bahasa yang digunakan: internasional ataukah lokal; kemudian juga tingkat penyebaran buku-buku tersebut: apakah cuma berdaya edar lokal, nasional, regional ataukah internasional. Tingginya jumlah buku yang diterbitkan oleh setiap negara biasanya paralel dengan budaya membaca dan tradisi literasi dari bangsanya tersebut.

Bagaimana peta perbukuan dunia sekarang ini? Sebuah organisasi non-profit yang berbasis di Jenewa, Swiss, International Publishers Association (IPA), setiap tahun menginformasikan jumlah total buku baru yang diterbitkan di seluruh dunia dan sekaligus berapa kontribusi masing-masing negara dalam penerbitan buku-buku baru tersebut. Kita dapat dengan mudah melihat angka-angka tersebut di sana dan sekaligus mengetahui di titik sebelah mana posisi negara kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *