Transformative Coaching, Model Pembinaan Pesantren Abad 21

Pendidikan 3 May 2020 0 55x

Oleh : Irfan Amalee, MA (Mudir Peacescantren Welas Asih)

Dre Parker adalah seorang bocah berusia 12 tahun yang ingin belajar bela diri kepada Mr. Han, seorang master kungfu. Bukannya diajari jurus kungfu, Dre Parker justru diminta melakukan gerakan aneh: mengambil jaket yang tergeletak di lantai, menggantungkannya di kayu untuk diambil dan dipakainya lagi, melepaskannya dan menggantungkannya kembali. Gerakan ini ia lakukan secara berulang-ulang, bahkan hingga puluhan kali.

Menariknya, saat pulang ke rumah, ibu Dre Parker begitu takjub menyaksikan putranya menggantungkan pakaian pada tempatnya. Padahal biasanya ia meletakkan pakaiannya di sembarang tempat. Sedikit cerita di atas adalah cuplikan film ‘Karate Kids’ yang diperankan oleh Jacky Chan dan Jaden Smith. Belakangan, diketahui bahwa gerakan menggantungkan jaket merupakan gerakan dasar jurus kungfu yang digunakan dalam pertarungan.

Mungkin kita pernah mendengar cerita tentang santri yang ingin berguru pada seorang kiai. Selama berbulan-bulan, sang kiai tidak mengajarkan kitab. Persis seperti film ‘Karate Kid’, para santri justru dipaksa untuk melakukan hal yang sepertinya tidak berhubungan, seperti menyangkul, menggembala, dan melayani masyarakat.

Hal seperti ini membuat santri merasa yang ia lakukan bukanlah belajar. Padahal sang kiai memiliki visi lain, yakni mengajarinya ilmu yang sesungguhnya yakni khidmat, kerendahan hati, serta adab. Kiai meyakini prinsip al-adab qablal ilmi, mengedepankan karakter sebelum pengetahuan. Itulah tranformative coaching, sebuah metode pendidikan sejati untuk membantu subjek pembelajar bertransformasi membentuk karakter.

Dalam dunia pendidikan dan pengajaran ada tiga pola dan paradigma yang secara umum dipahami. Pertama, pengajaran yang dalam bahasa Inggris disebut teaching atau dalam bahasa Arab disebut ta’liim. Maksudnya, sebuah proses transfer ilmu dari seorang guru (mu’allim) kepada murid (muta’allim). Dalam konsep ini, guru adalah sumber ilmu dan dianggap lebih tahu. Sementara siswa dianggap kertas kosong atau gelas kosong yang perlu diisi. Indikator keberhasilannya adalah kuantitas ilmu yang berhasil diserap oleh siswa. Semakin banyak tahu, maka proses teaching dianggap semakin berhasil.

Kedua, training yaitu proses mentransfer keterampilan. Dalam hal ini, trainer berperan dan bertanggung jawab memastikan siswa menguasai sebuah keterampilan teknis tertentu. Semakin terampil siswa, semakin berhasil pola pendidikan ini.

Ketiga, coaching yaitu proses pendampingan atau pembinaan (tarbiyah). Coach (murabbi) meyakini bahwa siswa punya modal atau potensi baik pengetahuan maupun keterampilan. Coach hanya mendampingi agar siswa mampu mengaktifkan potensinya. Tidak menutup kemungkinan, siswa memiliki kemampuan yang lebih dari coach. Misalnya, atlet juara dunia yang secara teknis memiliki kemampuan lebih tinggi dari coach-nya. Namun, bagaimanapun atlet tetap membutuhkan seorang coach karena ia bisa menemukan blind spot si atlet. Di sisi lain, belum tentu si atlet memiliki kemampuan untuk menemukan kelemahannya sendiri.

Tujuan utama dari coaching adalah transformasi atau perubahan. Bukan hanya berapa banyak ilmu yang didapat atau berapa banyak keterampilan yang diakuisisi, tetapi sejauh mana siswa berubah menjadi menjadi the best version of themselves.

Bagaimana Menerapkan Transformative Coaching?

Beberapa waktu lalu, dua orang santri minta izin kepada saya diperbolehkan untuk tidak mengenakan seragam dengan alasan seragam keduanya masih basah. Apa pun alasannya, ini adalah pelanggaran terhadap kesepakatan bersama tentang penggunaan seragam. Kasus seperti ini sering terjadi dan kita terkadang bingung menyikapinya. Cara paling sederhana adalah menghukum dengan tujuan memberi efek jera atau membiarkannya agar tidak ribet.

Namun, harus kita akui bahwa hukuman belum tentu memberi efek jera. Sebaliknya, membiarkan siswa tidak mengenakan seragam begitu saja juga tidak memberikan kesempatan siswa belajar terhadap pelanggaran. Hal ini justru akan menjadi preseden buruk ke depan bahwa peraturan boleh dilanggar. Kita harus melakukan sesuatu untuk membantu mereka bertransformasi menjadi lebih disiplin dan menghargai peraturan.

Salah satu teknik penting dalam transformative coaching adalah bertanya menggunakan pertanyaan yang disebut curiosity question atau motivational question. Maksudnya, kita mencoba membantu anak untuk menemukan masalah dan solusinya tanpa ia merasa dihakimi. Curiosity question atau motivational question adalah kebalikan dari judgemental statement.

Sebagai contoh, saat kita mendapati siswa yang telat, maka kita mengeluarkan pernyataan, “Dasar tukang telat!” atau, “Kamu selalu telat!” Pernyataan ini keluar dari kekesalan kita, dengan harapan siswa menyadari kesalahannya dan bisa berubah. Namun, kenyataannya kata-kata ini sama sekali tidak akan pernah mengubah anak. Sebaliknya, anak akan mengafirmasi bahwa dirinya sebagai tukang telat sehingga dia akan terus terlambat. Malah, kita mengubah judgemental statement ini menjadi curiosity question untuk bersama-sama menggali akar masalah dan motiva-tional question untuk mendorong anak menemukan solusi. Misalnya dengan pertanyaan “Apa yang bisa Ibu bantu biar kamu besok tidak telat?” Pertanyaan ini lebih memberdayakan anak untuk berpikir tanpa merasa sedang dihakimi.

Kembali ke kasus dua santri yang tidak berseragam tadi. Akhirnya, saya mengajukan curiosity question: “Mengapa bajunya masih basah?” Santri beralasan bahwa hujan membuat bajunya masih dalam kondisi basah. Lalu saya mengejar lagi dengan pertanyaan, “Kapan mencucinya?”. Ia menjawab, “Minggu”. Saya kembali menanyainya, “Setiap hari apa seragam putih dipakai?” Mereka jawab, “Senin dan Selasa”.

Lalu saya susul dengan motivational question, “Apakah mungkin jika pakaian dicuci hari Rabu?” Mereka mengangguk. Untuk menegaskan saya kembali bertanya, “Jika pakaian dicuci hari Rabu, apakah pada hari Senin seragam sudah siap dipakai?” Mereka mengangguk lagi.

Curiosity question membantu anak memikirkan kesalahan dan solusi yang harus dilakukan agar kesalahan tidak terulang. Namun, teknik ini harus dibarengi dengan teknik follow through, yaitu mendampingi siswa melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Pendampingan ini harus dilakukan secara konsisten.

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 1 Januari 2020, hlm.  21-22.

Sumber ilustrasi : https://www.facebook.com/peacesantren

Leave a Reply