Tuntunan Ibadah Ramadhan: Tidak Berpuasa karena Menyusui, Wajib Qadha’ atau Membayar Fidyah?

Keagamaan Konsultasi 21 Apr 2021 0 83x
Tuntunan Ibadah Ramadhan Muhammadiyah-'Aisyiyah

Tuntunan Ibadah Ramadhan Muhammadiyah-‘Aisyiyah

Pertanyaan:

Bolehkah perempuan yang sedang menyusui tidak berpuasa? Jika boleh, apakah harus mengganti di hari yang lain atau dengan membayar fidyah?

Jawaban:

Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang beriman. Akan tetapi, Islam tidak lantas memberatkan umatnya. Allah memberikan rukhshah (keringanan) bagi beberapa golongan yang memang tidak dapat menjalankan puasa.

Perempuan yang sedang menyusui termasuk salah satu golongan yang mendapatkan rukhshah tersebut. Mereka boleh meninggalkan puasa apabila merasa berat, karena apabila dipaksakan dapat membahayakan dirinya dan anak yang disusuinya. Oleh karena itu, dalam hukum syariah diberi keringanan untuk tidak berpuasa dan sebagai gantinya ia wajib memberi makan seorang miskin (membayar fidyah). Hal ini berdasarkan dalil,

Pertama, firman Allah swt.,

أياما معدودات فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين فمن تطوع خيرا فهو خير له وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون

Artinya, “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. al-Baqarah [2]: 184).

Kedua, hadits Nabi saw.,

عن أنس ابن مالك الكعبي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إن الله عز وجل وضع عن المسافر الصوم وشطر الصلاة وعن الحامل أو المرضع الصوم (رواه الخمسة)

Artinya, “diriwayatkan dari Anas ibn Malik al-Ka’bi bahwa Rasulullah saw. bersabda: sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia telah membebaskan puasa dan separuh salat bagi orang yang bepergian, dan membebaskan pula dari puasa orang hamil dan orang yang menyusui” (HR. al-Khamsah).

عن ابن عباس أنه قال: أثبت للحبلى والمرضع أن يفطرا ويطعما في كل يوم مسكينا (رواه أبو داود)

Artinya, “diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa ia berkata: ditetapkan bagi perempuan yang mengandung dan menyusui berbuka (tidak berpuasa) dan sebagai gantinya memberi makan kepada orang miskin setiap harinya” (HR. Abu Dawud).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, dapat diketahui bahwa perempuan menyusui yang tidak bisa berpuasa secara penuh di bulan Ramadhan, maka sebagai gantinya ia harus membayar fidyah sebanyak hari-hari yang ia tidak berpuasa, yakni memberi makan seorang miskin setiap harinya. Artinya, ia tidak perlu meng-qadha’ puasanya di hari lain di luar bulan Ramadhan.

Adapun besarnya jumlah fidyah yang harus dibayarkan adalah minimal satu mud (sekitar 0.6 kg) atau setara dengan ukuran dan harga makanan yang ia makan sehari-hari. Namun demikian, apabila membayar fidyah tersebut memberatkan karena harus mengeluarkan biaya, sementara perempuan yang menyusui itu termasuk golongan kurang mampu, maka menurut hemat kami ia dapat mengganti puasanya dengan berpuasa di hari lain di luar bulan Ramadhan sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkannya.

Wallahu A’lam bish-Shawab.

Sumber: Majalah Suara Muhammadiyah No. 12, 2014

Baca Juga

Tuntunan Ibadah Ramadhan: Apakah Orang yang Onani Puasanya Batal?

Tinggalkan Balasan