Konsultasi Agama

Tuntunan Salat Iduladha

ilustrasi salat
ilustrasi salat

ilustrasi salat

Berikut kami rangkumkan tuntunan dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

***

Rasulullah saw. menganjurkan agar umat Islam menahan diri untuk tidak makan sebelum pelaksanaan salat Id. Anjuran tersebut termaktub dalam sebuah hadits,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ

Artinya, “dari Abdullah ibn Buraidah dari ayahnya (yaitu Buraidah bin al-Husaib) (diriwayatkan) ia berkata: Rasulullah saw. pada hari Idul fitri tidak keluar sebelum makan, dan pada hari Idul adha tidak makan sehingga selesai salat (HR. at-Tirmidzi).

Kapan Salat Id Dilaksanakan?

Waktu salat Id adalah pagi hari, dimulai dari matahari setinggi tombak sampai waktu zawāl (matahari bergeser ke barat). Ibn Qayyim al-Jauziyah mengatakan, “Nabi saw. biasa mengakhirkan salat Idul fitri dan mempercepat pelaksanaan salat Idul adha” (Ibn Qayyim al-Jauziyah, Zād al- Ma’ād fī Hadyi Khair al-‘Ibād, 1:425).

Tujuan salat Idulfitri agak diundur adalah agar kaum muslimin masih punya kesempatan untuk menunaikan zakat fitri. Sedangkan salat Iduladha dikerjakan lebih awal adalah agar orang-orang dapat segera menyembelih kurban (Abu Bakr Jābir al-Jazāiri, Minhāj al-Muslim, hlm. 201). Hal ini sejalan dengan pendapat Ibn Qudamah, yaitu karena pada hari Adha, umat Islam akan sibuk melakukan pemotongan hewan kurban (al-Mughnī:  II/280).

Pelaksanaan salat hendaknya disegerakan, ini dapat dipahami dari hadis,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ صَاحِبُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ خَرَجَ مَعَ النَّاسِ يَوْمَ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى فَأَنْكَرَ إِبْطَاءَ الْإِمَامِ وَقَالَ إِنْ كُنَّا لَقَدْ فَرَغْنَا سَاعَتَنَا هَذِهِ وَذَلِكَ حِينَ التَّسْبِيحِ

Artinya, “dari ‘Abdullāh ibn Busr –seorang sahabat Rasulullah- (diriwayatkan) bahwasanya ia  bersama orang-orang berangkat pada hari raya Idul fitri, atau Idul adha, kemudian ia keberatan dengan keterlambatan imam seraya mengatakan, seharusnya kita telah selesai pada saat ini, dan itu tatkala tasbih (duha) (HR. Abū Dāwūd, Ibn Mājah dan aṭ-Ṭabrānī).

Dikerjakan Dua Rakaat

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا

Artinya, “dari Ibn ‘Abbās (diriwayatkan) bahwasanya Rasulullah saw. pada hari Idul adlha atau Idul fitri keluar, lalu salat dua rakaat, dan tidak mengerjakan salat apa pun sebelum maupun sesudahnya (HR. Muslim).

Tanpa Adzan dan Iqamah

عَنْ جَابِرٍ ابْنِ سَمُرَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ

Artinya, “dari Jābir ibn Samurah (diriwayatkan) ia berkata: Aku pernah melaksanakan salat Id (Idul fitri dan Idul adha) bersama Rasulullah saw. bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada azan maupun iqamah (HR. Muslim).

Ibn Qayyim mengatakan: Jika Nabi saw. sampai ke tempat salat, beliau pun mengerjakan salat Id tanpa ada azan dan iqamah. Juga ketika itu untuk menyeru jemaah tidak ada ucapan “aṣ-ṣalātu jāmi‘ah (Ibn Qayyim al-Jauziyah, Zād al-Ma’ād, I: 425).

Tatacara Salat Iduladha

Berikut tatacara melaksanakan salat Iduladha:

(a) Sebagaimana salat-salat lainnya, salat Id dimulai dengan takbiratul ihram dan diiringi niat ikhlas karena Allah

(b) Membaca doa Iftitah

(c) Takbir (takbīr al-zawāid/takbir tambahan) sebanyak 7 (tujuh) kali pada rakaat pertama setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, serta 5 (lima) kali pada rakaat kedua setelah takbir intiqāl (bangkit dari sujud), dengan mengangkat tangan

عَنْ عَائِشَة أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيدَيْنِ فِي الْأُولَى سَبْعًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ وَفِي الْآخِرَةِ خَمْسًا قَبْلَ الْقِرَاءَة

Artinya, “dari ‘Aisyah (diriwayatkan bahwa) Rasulullah saw. pada salat dua hari raya bertakbir tujuh kali dan lima kali sebelum membaca (al-Fatihah dan surah) (HR. Aḥmad).

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ الْحَضْرَمِيِّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ التَّكْبِيرِ

Artinya, “dari Wā’il ibn Ḥujr al-Ḥaḍramī (diriwayatkan) bahwa ia berkata: saya melihat Rasulullah saw. mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir (HR. Aḥmad dan Abū Dāwūd).

Di antara takbir-takbir (takbīr al-zawāid) tidak ada bacaan zikir tertentu.  Belum didapatkan hadis ṣaḥīh marfū’ yang menerangkan bacaan Rasulullah saw. di antara takbir-takbir tersebut.

(d) Membaca surah al-Fatihah, diawali dengan bacaan ta‘āwuż dan basmalah.

(e) Setelah membaca al-Fatihah membaca surah yang dianjurkan, yaitu antara lain surat al-Aʻla dan al-Gāsyiyah berdasarkan hadis,

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ

Artinya, “Dari an-Nu‘mān ibn Basyīr (diriwayatkan) ia berkata: Rasulullah saw biasa membaca dalam salat Id maupun salat Jumat “Sabbiḥisma rabbikal-a`lā” dan “Hal atāka hadīṡul-ghāsyiyah.”An-Nu`mān mengatakan begitu pula ketika Id bertepatan dengan hari Jumat, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing salat (HR. Muslim).

Membaca kedua surah dalam hadis di atas merupakan anjuran, tetapi juga dibolehkan membaca surat lain karena suatu atau lain alasan semisal tidak hafal. Hal ini sesuai firman,

… فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ …

Artinya, … karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari alQuran (QS. al-Muzzammil [73]: 20).

(f) Rukuk, sujud, dan seterusnya sampai salam sebagaimana dalam salat biasa.

Khutbah Setelah Salat Iduladha

Setelah selesai salat hendaklah imam berkhutbah satu kali, dimulai dengan “alḥamdulillāh” kemudian menyampaikan nasihat kepada para hadirin dan menganjurkan untuk berbuat baik. Hal ini berdasarkan dalil,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوصِيهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ

Artinya, “dari Abū Sa’īd al-Khudrī (diriwayatkan) ia berkata: Nabi saw. pada hari raya Fitri dan Adha Rasulullah saw. pergi ke tempat salat. Hal pertama yang beliau kerjakan adalah salat, kemudian apabila telah selesai beliau bangkit menghadap orang banyak ketika mereka masih duduk pada saf-saf mereka. Lalu beliau menyampaikan peringatan dan wejangan kepada mereka dan mengumumkan perintah-perintah pada mereka dan jika beliau hendak memberangkatkan angkatan atau mengumumkan tentang sesuatu beliau laksanakan kemudian pulang (HR. al-Bukhari dan Muslim, lafal al-Bukhari).

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيدِ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلاَلٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ

Artinya, “dari Jābir ibn ‘Abdillāh (diriwayatkan) ia berkata, pernah aku mengalami salat hari raya bersama Rasulullah saw., lalu dimulai salat sebelum khutbah tanpa azan dan iqamah. Kemudian beliau bangkit bersandar pada Bilal, lalu beliau menganjurkan orang tentang takwa kepada Allah dan menyuruh patuh kepada-Nya dan menyampaikan nasihat dan peringatan kepada mereka. Lalu beliau mendatangi para perempuan dan menyampaikan nasihat dan peringatan kepada mereka … dan seterusnya hadis (HR. Muslim dan an-Nasā’i). Dalam riwayat Muslim dengan kalimat: Setelah Nabi saw selesai, beliau turun dan mendatangi para perempuan dan menyampaikan peringatan-peringatan kepada mereka … dan seterusnya hadis.

Oleh karena dalam hadis-hadis itu tidak disebutkan khutbah Id dimulai dengan takbir, maka digunakan dalil yang menjelaskan praktik Rasulullah saw. dalam memulai khutbah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis,

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ…

Artinya, “dari Jābir (diriwayatkan) ia berkata Rasulullah saw. berkhutbah di hadapan manusia memuji Allah dan memujinya kemudian bersabda: siapa saja yang mendapat petunjuk  dari Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan siapa saja yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk (HR. Muslim).

Meskipun tidak ada keterangan tentang memulai khutbah Id dengan takbir, namun ada anjuran untuk memperbanyak bacaan takbir dalam berkhutbah, berdasarkan dalil,

عَنْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عَمَّارِ بْنِ سَعْدٍ الْمُؤَذِّنِ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَبِّرُ بَيْنَ أَضْعَافِ الْخُطْبَةِ يُكْثِرُ التَّكْبِيرَ فِي خُطْبَةِ الْعِيدَيْنِ

Artinya, “dari ‘Abdurraḥmān bin Sa‘d bin ‘Ammār bin Sa‘d, seorang muazin (diriwayatkan) ia berkata, telah memberitahukan padaku ayahku, dari ayahnya dari kakeknya ia berkata: Nabi saw. pernah bertakbir di tengah-tengah khutbah, beliau memperbanyak takbir dalam khutbah dua Id (HR. Ibn Mājah).

Hadis ini oleh al-Albani dinilai lemah, namun diamalkan oleh kebanyakan ulama fikih sebagai bagian dari hal yang dianjurkan ketika berkhutbah, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Qudamah dalam al-Mughni.

Dalam hadis-hadis di atas, tidak ada pula keterangan tentang khutbah Id dengan dua khutbah, sehingga khutbah Id hanya satu kali tanpa duduk.

Khutbah diakhiri dengan berdoa sambil mengangkat jari telunjuk seperti dalam khutbah Jumat, sebagaimana hadis,

عَنْ حُصَيْنٍ: أَنَّ بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ، رَفَعَ يَدَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ فَسَبَّهُ عُمَارَةُ بْنُ رُوَيْبَةَ الثَّقَفِيُّ، فَقَالَ: مَا زَادَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى هَذَا، وَأَشَارَ بإصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ

Artinya, “dari Huṣain (diriwayatkan), bahwa Bisyr ibn Marwān mengangkat kedua tangannya pada khutbah Jumat di atas mimbar, kemudian dimarahi oleh Umārah ibn Ruwaibah aṡ-Ṡaqafī dan berkata: Rasulullah saw. tidak menambah ini, dengan mengisyaratkan jari telunjuknya (HR. an-Nasā’i).

Related posts
Berita

Tiga Amalan yang Dianjurkan di Bulan Dzulhijjah

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Dalam rangka meningkatkan implementasi Islam Berkemajuan, LPPI Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta mengadakan kajian rutin mingguan. Tema yang dibawakan…
Wawasan

Pandemi Covid-19, Idul Adha, dan Wajah Pemahaman Keagamaan Muhammadiyah

Menggunakan metode hisab yang dipedomani Majelis Tarjih dan Tajdid, PP Muhammadiyah menetapkan Idul Adha 10 Zulhijah 1442 H jatuh pada hari Selasa…
Berita

Abdul Mu’ti: Jangan Sok Tahu dalam Urusan Agama

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Kalau ada yang susah, kenapa harus mencari yang mudah? Ungkapan tersebut bukan sekadar guyonan media sosial, tetapi merupakan…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *