Tuntungan Ground Board Game: Game Edukasi Lingkungan bagi Anak Milenial

Inspirasi 30 Agu 2021 0 76x
Tuntungan Ground Board Game

Tuntungan Ground Board Game

Monster ganas Ebu Gogo tiba-tiba muncul di sebuah pulau bernama Tuntungan. Dengan kekuatannya yang luar biasa, dia mengacaukan tatanan yang telah ada dan memicu terjadinya masalah alam dan sosial. Melihat kondisi tersebut, Kepala Suku Pulau Tuntungan tidak tinggal diam. Dia lantas mengumpulkan sekelompok anak muda untuk menghadapi masalah-masalah di tengah masyarakat dengan membangkitkan 3 (tiga) tokoh legenda dengan kekuatan yang berbeda demi menyelesaikan masalah itu dan mengalahkan Ebu Gogo.

***

Azzam Habibullah lahir di Tebing Tinggi pada tahun 2001. Ia tumbuh dari keluarga dengan background Muhammadiyah-‘Aisyiyah. Ayahnya aktif sebagai pengurus Pimpinan Ranting Muhammadiyah Tulangan 1. Sementara Ibunya aktif di Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Deli Serdang.

Di usianya yang masih muda, Azzam sudah meraih prestasi yang mentereng, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia sudah menulis empat buku ilmiah populer dan novel bergenre adventure, thriller, dan spionase. Pada tahun 2015, cerpennya masuk nominasi 5 (lima) cerpen terbaik se-Indonesia yang diadakan dalam rangka memperingati Hari Tembakau Dunia. Selain itu, Azzam juga menjadi narasumber dalam berbagai seminar/workshop dan menjadi delegasi Indonesia dalam forum-forum Internasional, seperti di Austria (2018) dan Turki (2019).

Mengenal Tuntungan Ground

Cerita di atas merupakan latar di balik Tuntungan Ground Board Game karya Azzam Habibullah dan Tim. Tuntungan Ground adalah game yang didesain untuk mengedukasi masyarakat, terutama anak muda dan remaja, mengenai isu lingkungan hidup. Pemilihan board game sebagai strategi edukasi lingkungan berangkat dari rekomendasi World Economic Forum 2018 tentang metode pembelajaran alternatif yang disebut sebagai “Play Based Learning”. Metode tersebut kemudian diadopsi dan dikembangkan Azzam dan timnya untuk mengenalkan para pemain (anak muda) tentang masalah lingkungan di sekitar mereka.

Dibuat tahun 2018, Tuntungan Ground telah mendapat pengakuan dari dunia internasional. Pada tahun 2019, misalnya, Azzam bersama 4 rekannya berkesempatan mempresentasikan game-nya di forum CEI (Caretakers of the Environment International) di Istanbul, Turki. Setahun berikutnya (2020), giliran Azzam mempresentasikannya di forum Ashoka Young Changemakers Indonesia 2021.

Dalam game ini, para pemain diajak berperan menjadi problem solver atas permasalahan lingkungan yang terjadi. Para pemain akan dibantu oleh 3 (tiga) tokoh legenda, fabel, dan dongeng Indonesia, yakni Si Pitung, Si Kancil, dan Malin Kundang. Azzam menjelaskan bahwa pemilihan tiga karakter tersebut bukan tanpa alasan. Ia menyadari bahwa ada citra negatif dari karakter yang dipilihnya, seperti Malin Kundang yang dikenal sebagai seorang laki-laki yang durhaka kepada ibunya, sementara Si Kancil dikenal suka mencuri timun.

Akan tetapi, di samping citra negatif tersebut, Azzam dan timnya menemukan sisi positif yang dimiliki ketiga tokoh tersebut. Si Pitung mewakili karakter yang mempunyai keterampilan socialpreneurship, Si Kancil punya keterampilan intellectual, sedangkan di balik sikap durhakanya ternyata Malin Kundang punya keterampilan enterprenurship. Selain keterampilan, pemilihan tiga karakter tersebut juga bertujuan menonjolkan sisi ke-Indonesia-an.

Tuntungan Ground tidak sekadar didesain agar pemain berusaha untuk menang, tetapi lebih dari itu, menekankan pada ketangkasan dan keterampilan para pemainnya; bagaimana cara menyusun strategi, meningkatkan nalar kritis, dan meningkatkan interaksi langsung antar pemain.

Saat bermain Tuntungan Ground terdapat dua tim yang terlibat, yang idealnya terdiri dari 4 sampai 8 orang, ditambah satu orang yang bertindak sebagai Kepala Suku. Setiap pemain berusaha mendapatkan poin yang didapat dari keberhasilannya menyelesaikan masalah lingkungan yang diangkat. Terdapat dua puluh kartu masalah yang berisi masalah lingkungan dengan level kesulitan yang berbeda. Semakin tinggi tingkat kesulitannya, semakin tinggi pula poinnya.

Satu permainan Tuntungan Ground rata-rata membutuhkan waktu 45 menit. Dalam memainkan permainan ini, para pemain diajak untuk saling berinteraksi dan berdiskusi. Ketika satu tim menyampaikan alternatif solusi atas masalah lingkungan yang terjadi, tim lain diperkenankan untuk merespons, mengomentari, atau mengkritisi jawaban tersebut. Dengan cara tersebut, para pemain akan berpikir untuk mencari tahu akar permasalahan dan kemudian mencari tahu cara penyelesaian yang paling efektif.

Tuntungan Ground menyajikan metode yang unik dan asik dalam menanamkan kesadaran lingkungan kepada anak muda. Menurut Azzam, edukasi lingkungan harus membumi dan dekat dengan kehidupan anak muda. Itulah kenapa ia dan timnya merancang sebuah permainan yang sederhana tetapi mengandung makna yang dalam. “Saya punya prinsip untuk dapat menyederhanakan sesuatu yang rumit ke dalam metode yang sederhana,” jelasnya.

Hambatan dan Rencana ke Depan

Tuntungan Ground telah mendapat sambutan baik dari berbagai pihak. Lebih dari seratus pelajar yang berada pada kisaran umur 14-18 tahun sudah memainkan game ini. Beberapa sekolah juga menjadi partner dalam memberikan edukasi lingkungan kepada siswanya dengan metode board game yang dirancang Azzam dan timnya.

Sayangnya, dalam beberapa waktu terakhir, intensitas anak muda dalam memainkan game ini menurun. Tuntungan Ground merupakan game tatap muka dan melibatkan beberapa pemain, sehingga ketika pandemi Covid-19 menyerang, keinginan untuk bermain board game harus ditunda. Nantinya, Tuntungan Ground berencana dikembangkan dalam versi online. Terkait rencana tersebut, meskipun dimainkan secara online, Azzam menekankan bahwa ia tidak ingin melepaskan suasana offline-nya, seperti adanya interaksi dan diskusi aktif antar pemain.

Selain itu, Azzam dan timnya juga punya rencana untuk mengembangkan game ini dengan mengangkat problematika yang terjadi di masing-masing daerah di Indonesia. Sejauh ini, muatan masalah yang ada dalam Tuntungan Ground memang masih bersifat umum. Namun ia menyadari bahwa setiap daerah punya masalah lingkungan masing-masing yang membutuhkan strategi penyelesaian yang juga berbeda. (Sirajuddin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *