Berita

Uji Coba Pasar Bebas Plastik GIDKP Berhasil Kurangi 17 Persen Penggunaan Kantong Plastik

Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik

Jakarta, Suara ‘AisyiyahGerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) menindaklanjuti uji coba Pasar Bebas Plastik yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan. Bermula pada 2019, GIDKP telah berhasil mengurangi penggunaan kantong plastik berukuran kecil dan besar sebesar 6 sampai 17%.

Sampai saat ini, GIDKP terus gencar melakukan upaya perubahan perilaku agar penggunaan kantong plastik sekali pakai terus berkurang di Pasar Tebet Barat dengan menggandeng Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Tidak hanya pedagang dan konsumen, masyarakat sekitar juga dilibatkan dalam program kali ini.

Berangkat dari pemikiran ilmuwan asal Columbia University, Gus Speth yang mengatakan bahwa masalah lingkungan terutama disebabkan karena keegoisan, keserakahan, dan sikap apatis dan untuk menghadapinya kita membutuhkan transformasi budaya dan spiritual.

Oleh karena itu, kolaborasi GIDKP dan LLHPB PP ‘Aisyiyah dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang didukung oleh GIZ melalui program Religious Matters bertujuan untuk mendorong perubahan perilaku pada program Pasar Bebas Plastik melalui pendekatan agama.

Baca Juga: Teologi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Pengolahan Sampah

Program perubahan perilaku pada program Pasar Bebas Plastik kali ini dilakukan melalui pendekatan agama Islam dengan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat sekitar Pasar Tebet Barat.

“Karena penduduk Indonesia mayoritas Muslim dan kerja sama kami dengan LLHPB PP ‘Aisyiyah juga sangat tepat karena (mereka) merupakan bagian dari organisasi Islam terbesar di Indonesia (Muhammadiyah),” ujar Rahyang selaku Koordinator Nasional GIDKP.

“Melalui kerja sama ini, kami berupaya untuk mengangkat pesan terkait kampanye bebas plastik dalam setiap kegiatan dengan nilai-nilai keislaman yang tidak kami lakukan pada program sebelumnya di tahun 2019,” imbuhnya.

Sementara itu, Hening Parlan selaku Ketua Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP ‘Aisyiyah dalam webinar bertajuk “Pembelajaran Dalam Pendekatan Religius dalam Mengubah Perilaku di Pasar Rakyat” yang diselenggarakan pada Selasa (29/11/22) mengungkapkan, perubahan iklim tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan sians, pendekatan agama harus menjadi bagian dari perubahan iklim itu.

“Kalau masalah kerusakan iklim ini saja tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan sains, saya rasa ini saatnya kita berperan untuk menjaga bumi dari kerusakan iklim dengan pendekatan spiritualitas atau dengan pendekatan agama,” ungkapnya.

“Dalam Islam juga sudah diajarkan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman. Jadi, ketika penggunaan plastik sekali pakai yang berujung nyampah itu bisa mengotori bumi kita, maka kalau kita menggunakannya kita termasuk kaum yang tidak beriman,” imbuhnya.

Dirinya menuturkan, konsumen dan pedagang yang ada di Pasar Tebet Barat ini juga aktif dalam kajian yang diadakan di masjid yang ada di dekat Pasar Tebet Barat itu sendiri. Ia menilai hal ini merupakan kolaborasi yang benar-benar tepat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait bahaya plastik sekali pakai dalam sudut pandang keagamaan.

Lanutnya, selama hampir 10 bulan berlangsung, program ini sudah melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan pedagang, konsumen, dan masyarakat di sekitar Pasar Tebet Barat. Beberapa kegiatan baru yang dilakukan adalah pengadaan dropbox peminjaman kantong belanja untuk konsumen dan aktivitas bersama DKM Pasar Tebet Barat, seperti tafsir al-Quran, pembagian risalah Jumat, khutbah Jumat, dan lain sebagainya.

“Adapun pencapaian yang sudah terjadi sebagai dampak kegiatan-kegiatan di atas adalah semakin menurunnya jumlah kios yang tidak menyediakan kantong plastik, di mana pada uji coba pertama turun sebesar 57% dan tahun ini terdapat tambahan penurunan jumlah kios sekitar hingga 17% yang juga berdampak pada penurunan jumlah kantong plastik,” ungkapnya.

Selain itu, kata Hening yang juga direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah itu bahwa pedagang menunjukkan sikap dan motivasi yang tergolong tinggi dalam mengurangi plastik sekali pakai. “Hal ini terjadi pada seluruh aspek, mulai dari alasan perbaikan lingkungan, petunjuk dari ustadz atau guru agama, serta yang berasal dari ajaran agama,” tutupnya. (Iwan Abdul Gani/Hening Parlan/sb)

Related posts
Hikmah

Fikih Tata Kelola Agraria: Solusi Perubahan Iklim

Oleh: Moh Soehadha* Kesejahteraan masyarakat selalu terkait dengan daya dukung lingkungan atau sumber daya alam sebagai sumber penghidupan. Jika kerusakan lingkungan terjadi…
Liputan

Beralih ke Teknologi Ramah Lingkungan, Bisakah?

Merujuk data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2021, Indonesia punya potensi energi terbarukan yang cukup besar. Potensi tersebut berasal…
Berita

Momotoa ke Sekolah, Bersama IPM Wujudkan Sikap Peduli Lingkungan

Lampung, Suara ‘Aisyiyah – Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kelestarian hutan, pola hidup sehat dan bersih sebagian dasar dari upaya menunaikan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *