Ulama Waraṣah al-Anbiya’

Hikmah 8 Apr 2020 0 390x

Oleh : Dahwan Muchrodji (Pengajar Pendidikan Ulama Tarjih)

Islam mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik dalam urusan pribadinya, hubungannya dengan pribadi yang lain (masyarakat), maupun hubungannya dengan Allah Sang Pencipta. Islam bahkan mengatur hubungan antara manusia dengan alam, termasuk flora dan fauna. Kompleksnya ajaran Islam ini tidak lain adalah untuk mewujudkan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat, demikian pula untuk mewujudkan raḥmatan lil-‘âlamîn (menjadi rahmat bagi seluruh alam).

Melihat luasnya cakupan ajaran Islam –ditambah dengan selalu berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi, sosial budaya, dan politik— maka seorang ulama dituntut untuk terus-menerus melakukan pengkajian ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu lain yang sangat berkaitan. Dengan kegiatan ini, diharapkan ilmunya selalu bertambah dan bertambah serta akan lebih berdaya-guna bagi ulama itu sendiri seka-ligus bagi umat dan masyarakat.

Bagi ulama itu sendiri, pengakajian ilmu itu akan dapat menaikkan penghargaan dari Allah swt., sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ} [المجادلة: 11]

Artinya: “…niscaya Allah akan me-ngangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”   (Q. S. al-Mujadalah:11).

Namun demikian, hendaklah disadari bahwa ilmu yang dimiliki itu amat sedikit dibandingkan  ilmu Allah yang Maha Luas. Dalam al-Quran disebutkan:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا } [الإسراء: 85]

Artinya: “… sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (Q.S. al-Isra’: 85).

Ayat ini di samping dapat digunakan menjadi pemacu agar seseorang secara terus-menerus menuntut ilmu. Ayat tersebut juga menjadi peringatan agar seseorang tidak menjadi sombong atau congkak karena ilmu yang dimilikinya. Lebih dari itu, ayat ini juga menjadi peringatan bahwa seorang ulama adalah sosok yang taat kepada Allah swt. Disebutkan dalam firman-Nya:

{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ } [فاطر: 28]

Artinya: “Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah ulama.” (Q.S. al-Fâṭir: 28).

Di samping sebagai orang yang mendalami ilmu agama, seorang ulama juga diberi peran sebagai pewaris para nabi. Dalam hadis disebutkan:

وَأَنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاء

Artinya: “Dan sesungguhnya para ulama, mereka adalah pewaris para nabi.” (H.R. al Bukhari dari Abu Bakrah dari ayahnya).

Di antara tugas para nabi adalah untuk menyampaikan ajaran-ajaran Allah swt. kepada para umatnya. Demikian pula halnya para ulama dituntut untuk menyampaikan dan menyebarluaskan ajaran agama kepada umat atau masyarakatnya agar mereka memperoleh pencerahan dalam mengarungi bahtera hidupnya.

Para nabi juga imam dalam beribadah dan panutan dalam kehidupan umatnya dalam kehidupan bermasyarakat. Para nabi bahkan menjadi pelindung dan pengayom serta tidak jarang menjadi tempat bercurah hati kemudian memberi solusinya. Tidak ada  pilihan lain bagi seorang ulama kecuali harus meneladani yang telah dilakukan Nabi. Dalam al-Qur’an disebutkan:

{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا} [الأحزاب: 21]

Artinya: “Sungguh pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan orang yang banyak mengingat Allah.” (Q.S. al-Aḥzâb: 21).

Untuk menjaga marwah dan kedudukan ulama di hadapan umat atau masyarakatnya,  hendaknya seorang ulama tidak menggantungkan kehidupan diri dan keluarganya dari pemberian umat atau masyarakatnya. Seorang ulama harus memiliki pekerjaan  sehingga mampu mandiri dalam masalah ekonomi, sebagaimana Nabi juga melakukan hal seperti itu de-ngan berdagang. Pendek kata, seorang ulama harus berusaha untuk bersikap dan berperilaku sebagai pewaris para nabi secara total.

Keberadaan para ulama sebagaimana digambarkan sangat menjadi dambaan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah,  mengingat Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi munkar dan tajdid, bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun, yang demikian itu tampaknya belum sepenuhnya terwujud untuk tidak mengatakan masih sangat kekurangan. Pada saat ini tampaknya masih perlu didorong anak muda Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah untuk ikhlas menjadi ulama. Demikian pula persyarikatan perlu meningkatkan perhatiannya terhadap penyelengaraan pendidikan ulama.

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 1 Januari 2020, hlm 6-7

Sumber Ilustrasi : https://alif.id/read/ahmad-husain-fahasbu/empat-ulama-berpengaruh-di-spanyol-b226377p/

Leave a Reply