Ummul Mukminin: Figur Tauladan (Bagian Kedua)

Perempuan Sejarah Wawasan 1 Feb 2021 1 60x

Konsekuensi Para Istri Rasulullah

Allah swt. mengistimewakan para istrinya dengan suatu janji. Janji ini untuk memotivasi agar para istri berlaku sebaik mungkin dan menjauhi perbuatan dosa sejauh mungkin. Inilah peringatan dari langit yang hanya ditujukan kepada para istri Nabi,

Artinya, “Wahai istri-istri Nabi! Barangsiapa di antara kamu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan azab dua kali lipat padanya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barangsiapa di antara kamu (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan kebajikan, niscaya Kami berikan pahala kepadanya dua kali lipat dan Kami sediakan rezeki yang mulia baginya” (QS. al-Ahzab (33): 30-31).

Demikianlah konsekuensi para istri Rasulullah saw. Mereka adalah pemimpin dan teladannya para perempuan. Dalam konteks kesetiaan kepada keluarga dan perjuangan mendampingi Rasulullah saw. mereka pun telah teruji. Ketika berhijrah, istri Nabi ikut berhijrah. Ketika berperang pun tak ketinggalan para istri ikut maju sebagai barisan pelayanan kesehatan dan akomodasi, termasuk menyediakan perlengkapan persenjataan.

Apabila mereka memiliki harta, dengan suka mereka korbankan. Banyak pula hadist yang diriwayatkan dari mereka, terutama Siti ‘Aisyah yang hafal ribuan hadits. Rasulullah saw. pernah mengatakan bahwa setengah dari tuntunan ibadah ada di tangan ‘Aisyah.

Kekhususan Para Istri Rasulullah

Gaya dan pola hidup para istri Nabi juga lain daripada yang lain, terutama dalam menjaga kehormatan, kewibawaan, dan kehidupan spiritualnya. Derajat ketakwaan mereka pun lain karena selalu berada di sisi Rasulullah, yang selalu berupaya agar jangan sampai ada noda-noda kecil yang hinggap pada mereka. Allah Yang Maha Bijaksana telah menjaganya dengan tuntunan, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya,

Artinya: “Wahai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Karena itu, janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. al-Ahzab (33): 32).

Abdullah Yusuf Ali dalam The Meaning of Holy Qur’an menafsirkan bahwa Para ummul mukminin itu bukan seperti perempuan pada umumnya dalam derajat ketakwaannya. Untuk membangun kewibawaan dan keluhurannya, cara berbicaranya pun harus sopan, santun, dan jangan sampai berbicara dengan lemah dan terkesan mengalah. Hendaknya berbicara dengan tegas dan lugas di depan laki-laki yang bukan mahramnya. Jangan sampai timbul salah pengertian.

Sementara itu, Buya Hamka memaparkan bahwa mereka tidak bicara dengan melenggak-lenggok dengan tatanan bahasa yang bisa menimbulkan salah terima, seperti merayu. Maka selanjutnya dituntunkan agar menggunakan perkataan yang ma’ruf.

Kata ma’ruf dalam konteks ayat ini menurut Tafsir Al-Mishbah karya Quraish Shihab mencakup cara berbicara, suaranya, penggunaan kalimatnya dan maksudnya. Pendapat umum memaknai ma’ruf sebagai perkataan yang bermanfaat, mengandung hikmah, dan kebaikan.

Untuk memelihara keluhuran rumah tangga Rasulullah, para istri sangat berhati-hati; tidak mudah ikut-ikutan, keluar rumah untuk iseng, berjalan-jalan untuk bersantai-santai, serta pamer perhiasan, dan sebagainya. Dalam kaitan ini, dari langit pun turun wahyu yang dikhususkan untuk ummul mukminin,

Artinya, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti perempuan Jahiliyah pada masa lalu. Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, hai ahlul bait. Sesungguhnya Allah hendak membersihkan dosa-dosa kamu sebersih-bersihnya” (QS. al-Ahzab [33]: 33).

Para ummul mukminin itu bukan perempuan pada umumnya. Mereka keluar rumah pada acara kehormatan dengan keluarga mereka dan ketika salat berjamaah. Mereka keluar bersama Rasulullah ketika berjuang untuk agamanya. Cara berhias mereka pun tidak mencolok, menyilaukan, apalagi sengaja dipamerkan. Demikianlah penjelasan kata “tabarruj” menurut Yusuf Ali.

Sementara itu, kata “waqarna” menurut Quraish Shihab adalah tinggal di rumah, kecuali yang diperkenankan oleh agama dan adat yang baik. Sayyid Qutb memaknainya dengan berat dan mantap untuk menetap di rumah, yakni dengan tinggal secara mantap. Qurrata ‘ain artinya sesuatu yang menyenangkan. Sementara itu, ibn Athiyah memaknai kata “waqar” sebagai wibawa dan hormat.

Dari segi hukum, para mufasir berbeda pendapat mengenai sasaran ayat ini; khusus untuk para istri atau juga untuk para perempuan muslimah lainnya. Tentang keluarnya perempuan, dari berbagai pendapat mengerucut pada kesimpulan bahwa mereka boleh keluar rumah jika ada keperluan atau bersifat darurat. Tim Tafsir Depag berpendapat, intinya apabila ada keperluan, perempuan dapat dan boleh keluar rumah.

Demikianlah Allah mengangkat kehormatan para ummul mukminin, sebagai perempuan bertakwa. Menjaga kehormatan mahligai rumah tangga Rasulullah dalam bilik-bilik istana yang sederhana, tetapi di situ berlangsung kehidupan yang mawaddah wa rahmah. Dalam bilik-bilik yang sederhana itu mereka betah tinggal di rumah.

Apabila sedang ada rizki, mereka memasak untuk makan bersama para sahabat Rasul. Kadang-kadang pula mereka memasak untuk para tetangga dan keluarganya. Demikian pula karena Rasulullah senang menjamu tamu, apabila saat makan tiba, maka diajaknya tamu itu makan bersama beliau. Sampai-sampai ada peringatan bagi orang-orang agar tidak bertamu saat Rasulullah sedang makan (QS. al-Ahzab [33]: 52).

Demikianlah Allah swt. bermaksud hendak membersihkan dosa-dosa keluarga Rasulullah karena dalam rumah itulah turunnya wahyu. Itulah sebabnya digunakan kata wahai ahlul bait, yang ditujukan kepada para keluarga Nabi.

Uraian di atas cukup kiranya menjadi petunjuk dan tuntunan yang patut diikuti oleh kaum muslimah. Sebagai muslimah, seyogyanya kita meneladai ummul mukminin semampu mungkin, seperti melestarikan ibadah sebagai wujud ketakwaan dengan menegakkan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (UG)

Sumber: Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 04 Tahun 2011

One thought on “Ummul Mukminin: Figur Tauladan (Bagian Kedua)”

Tinggalkan Balasan