Upaya Makar Terhadap Makam Rasulullah

Hikmah 26 Feb 2021 1 196x
Makam Rasulullah

Makam Rasulullah

Oleh: Anang Rizka Masyhadi

Dari Yahya bin Sa’id, bahwa ‘Aisyah ra. istri Nabi saw. bersabda, “aku melihat dalam mimpiku, ada tiga rembulan jatuh di kamarku, kemudian aku ceritakan kepada bapakku, Abu Bakar ash-Shidiq ra.” Ketika Rasulullah saw. wafat, jasad beliau disemayamkan di kamar ‘Aisyah, maka Abu Bakar berkata, “Ia adalah salah satu dari ketiga bintang (dalam mimpimu itu), dan itu yang terbaik (dari kedua yang lain)”.

Dalam banyak riwayat yang masyhur disebutkan bahwa Rasulullah saw. wafat pada hari Senin dan dikebumikan pada hari Selasa. Satu per satu orang berebut untuk mensalati jenazah beliau tanpa seorang iman pun. Karena para sahabat tidak ada yang berani menjadi imam dalam salat jenazah Rasulullah saw.

Sebagian sahabat mengusulkan agar beliau dimakamkan di Baqi’ bersama para sahabat yang telah syahid terlebih dahulu. Sebagian lagi ada yang mengusulkan di bawah mimbar. Lalu, datanglah Abu Bakar Ash-Shidiq ra. seraya berkata, “aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘tak seorang nabi pun yang wafat kecuali akan dikebumikan di tempat di mana dia wafat’”. Maka dibuatlah lahad. Ketika mereka hendak melepas pakaian beliau, tiba-tiba terdengar suara, “jangan dilepas”, maka dimandikanlah jasad Nabi saw. bersama pakaian yang masih melekat di tubuhnya yang mulia itu (Muwattha’ Malik). Hadits ini menurut banyak ulama hadits berderajat shahih, dipandang dari berbagai segi dan ditambah oleh hadits-hadits lain yang dikumpulkan oleh Imam Malik, demikian menurut Syaikh ibn al-Barr.

Adapun kisah pemakaman Abu Bakar as-Shidiq ra. diceritakan oleh sebuah riwayat dari ibn Sa’ad, dari Urwah dan Qasim bin Muhammad, keduanya berkata, “Abu Bakar memberikan wasiat kepada ‘Aisyah agar dia dimakamkan di samping Rasulullah saw., maka ketika ajalnya tiba dibuatlah untuknya sebuah lahad, dan posisi kepala beliau sejajar dengan pundak Rasulullah saw.” (Kitab Ath-Thabaqatul Kubra).

Sementara Umar bin Khattab ra. pulang ke rahmatullah dengan cara yang pernah ia harapkan sendiri melalui doanya, yaitu, “Ya Allah, matikanlah aku dalam keadaan syahid di jalan-Mu, dan di bumi rasul-Mu” (HR. Bukhari). Doa itu pun dikabulkan oleh Allah swt. Umar ra. meninggal di Madinah, melalui tangan jahat (dibunuh) seorang Majusi bernama Abu Lu’lu’ah. Beliau dimakamkan di hari Ahad pagi, bulan Muharram 24 H, di kamar Rasulullah saw. atas izin dari ‘Aisyah ra. (Kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah).

Sebelum wafatnya, Umar ra. mengutus putranya, Abdullah bin Umar untuk menemui ‘Aisyah ra. Berkatalah Umar ra. kepada putranya itu, “wahai Abdullah, pergilah kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah ra., katakanlah bahwa Umar menyampaikan salam, kemudian mintalah izin kepadanya agar aku bila meninggal nanti bisa dimakamkan bersama kedua sahabatku (Rasulullah saw. dan Abu Bakar ash-Shidiq). ‘Aisyah ra. pun menjawab, ‘awalnya aku inginkan tempat itu untukku sendiri, tetapi hari ini aku berikan untuknya’. Maka ketika Abdullah bin Umar kembali ke bapaknya, dia ditanya, ‘bagaimana hasilnya?’ Abdullah menjawab, ‘’Aisyah ra. telah memberikan izin untukmu, wahai Amirul Mukminin’. Lalu, Umar bin Khattab ra. pun menimpalinya, ‘tempat itulah yang paling penting bagiku’ (HR. Bukhari)”.

Tampaknya, kebencian musuh-musuh Islam kepada Rasulullah saw. belum berakhir dengan wafatnya beliau. Ini terbukti sepeninggal beliau pun masih terdapat upaya pencurian jasad beliau. Setidaknya dalam sejarah tercatat lima kali upaya pencurian jasad Nabi Muhammad saw. para penjahat mulanya menyamar sebagai penduduk biasa, mereka bertempat tinggal di dekat Makam Rasulullah, kemudian menggali tanah dan dibuat terowongan menuju Makam Rasul. Tiba-tiba, penduduk Madinah melihat banyak cahaya dan terdengar suara dari langit, “wahai manusia, makam Nabi kalian sedang digali”. Mereka pun segera memeriksa keadaan setempat dan berhasil menemukan orang-orang jahat itu. Akhirnya, para penggali itu digiring dan dihukum mati (Kitab Wafa’ul Wafa).

Orang-orang jahat dari Halab, Syiria, juga pernah mendatangi Madinah dengan niat untuk menggali makam Abu Bakar dan Umar. Mereka meminta izin kepada Gubernur Madinah ketika itu dengan imbalan yang luar biasa banyaknya, dan diizinkan. Namun, apa yang terjadi? Menurut Shawab (sang penjaga Makam), “ada sekitar 40 orang masuk, mereka membawa alat pengeruk, keranjang, lilin, dan peralatan lain untuk menggali, mereka langsung menuju makam Rasul. Demi Allah, belum sampai mereka ke mimbar, mereka ditelan bumi seluruhnya beserta seluruh peralatan yang mereka bawa, dan bahkan tidak meninggalkan bekas sama sekali” (Kitab Wafa’ul Wafa).

Upaya pencurian jasad Nabi saw. dan kedua sahabatnya itu adalah peristiwa paling berbahaya sepanjang sejarah Islam. Namun, segala kegagalan itu menunjukkan kekuasaan Allah, betapapun matangnya makar-makar mereka itu, bagi Allah tak lebih dari sebuah rumah laba-laba yang sangat rapuh. Allah berfirman (yang artinya), “Allah memelihara kamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (QS. al-Maidah [5]: 67).

One thought on “Upaya Makar Terhadap Makam Rasulullah”

Tinggalkan Balasan