Upaya Menunjang Kehidupan dan Kebahagiaan Lansia di Masa Pandemi

Berita 13 Sep 2021 0 74x
lansia

lansia

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah –  Sabtu (11/9), Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKSLU) Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan webinar dengan tema “Kehidupan dan Harapan Lansia di Masa Pandemi”. Kegiatan ini menghadirkan Ketua Pusat Studi Dinamika Sosial Universitas Ahmad Dahlan Rochana Yullyandri dan Pegiat Kelanjutusiaan Adhi Santika sebagai narasumber.

Ketua Pusat Studi Dinamika Sosial Universitas Ahmad Dahlan itu mengutip pernyataan World Health Organization (WHO) tentang kapan seseorang masuk kategori lanjut usia. Menurut WHO, lanjut usia dimulai dari 60 tahun, dengan penggolongan usia sebagai berikut; (a) lanjut usia, 60-74 tahun; (b) lanjut usia tua, 75-90 tahun; (c) usia sangat tua, yakni lebih dari 90 tahun. Sementara menurut Kemenkes RI, katanya, lanjut usia dimulai dari 46 tahun, dengan penggolongan usia  sebagai berikut; (a) lansia awal, 46-55 tahun; (b) lansia akhir, 56-65 tahun; (c) manula, > 65 tahun.

Mengenai kehidupan lansia, Rochana mengatakan bahwa kondisi lansia pada awal masa pandemi diliputi dengan perasaan cemas, takut, khawatir, sedih, bosan, dan sebagainya. Meski begitu, saat ini mereka sudah terbiasa dengan keadaan yang ada, jadi mereka sudah bisa menikmatinya dengan ikhlas.

Baca Juga: Usaha Mengubah Mindset Lansia

Rochana menyebut ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh social support untuk menunjang kehidupan dan kebahagiaan lansia di masa pandemi, di antaranya: pertama, keluarga. Menurutnya, keluarga diharapkan dapat: (a) memfasilitasi kebutuhan mobilitas atau transportasi apabila lansia mengharapkan untuk pergi ke suatu tempat agar tidak jenuh dirumah; (b) mendukung dan memfasilitasi kebutuhan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan secara rutin; (c) mendampingi dan merawat lansia dengan penuh kasih sayang; (d) mengenali gejala-gejala  penyakit yang dialami lansia sehingga dapat berkonsultasi lebih dini untuk penanganannya; (e) menyediakan kebutuhan sandang dan pangan, dan papan; (f) menjaga komunikasi, yakni berbicara kepada lansia dengan santun serta mendengarkan dengan aktif; (g) mendukung agar tetap aktif secara fisik, serta mendorong agar aktif dalam bersosialisasi dengan masyarakat.

Kedua, teman. Teman berperan penting dalam menunjang kebahagiaan lansia di masa pandemi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengadakan pertemuan dengan temannya di masa lalu.  Kalau saat ini dapat dilakukan dengan video call, maupun pertemuan secara virtual melalui zoom dan sebagainya.

Ketiga, pimpinan organisasi. Pimpinan organisasi, kata Rochana, harus selalu memberikan perhatian lebih kepada lansia yang hidup sendiri tanpa keluarga dekat, dan dari status sosial ekonomi yang rendah, maupun penyandang penyakit lainnya. Pimpinan organisasi diharapkan dapat memberikan kebutuhan medis kepada lansia, termasuk akses obat-obatan dan layanan medis.

Keempat, penyuluh kesehatan, yakni dengan memberikan pelatihan atau konseling bagi lansia, memberikan layanan perawatan yang baik, serta memberikan penjelasan tentang penyakitnya dan cara penanganannya dengan jelas, sopan, dan sabar.

Sementara itu, Adhi Santika selaku Pegiat Kelanjutusiaan menjelaskan berbagai hambatan yang dialami lansia pada saat pandemi Covid-19, serta cara penanganannya. Hambatan yang pertama adalah penurunan ekonomi. Hal ini disebabkan salah satunya karena mereka bekerja di sektor informal (ketidakpastian pendapatan). Menurutnya, ketika mengalami penurunan ekonomi, solusi yang dapat dilakukan adalah pemberdayaan sosial, yakni pelatihan keterampilan dan melakukan pendampingan serta kredit usaha.

Hambatan kedua adalah ketidakmampuan menyesuaikan diri. Ini disebabkan karena lansia cenderung memarginalkan diri dari pergaulannya. Menurut Adhi, solusinya adalah melakukan pencegahan disfungsi sosial, agar mereka bisa bergairah dalam hidup dan merasa diri sangat berharga.

Hambatan yang ketiga adalah kesehatan yang memburuk. Faktornya adalah tidak ada fasilitas yang menjangkau kesehatannya. Adhi menjelaskan bahwa sekitar 26% lansia tidak memiliki jaminan kesehatan atau BPJS. Solusinya adalah dengan memberikan perlindungan sosial dan rehabilitasi sosial, yakni day care and home care.

Hambatan yang keempat adalah pengisian waktu senggang. Hambatan ini bisa dicarikan solusinya dengan cara melakukan pengembangan sosial, yakni aktualisasi diri. Dan hambatan yang terakhir adalah penyediaan dan pengelolaan layanan sosial yang kurang baik. Solusinya dengan melakukan day care and home care. (rizka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *