Urgensi Sinergi Dakwah Antargenerasi

Berita 2 Okt 2021 1 85x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Jumat (1/10) mengadakan Kajian Indahnya Cahaya Islam bertema “Sinergi Kolaborasi Dakwah Antar Generasi”. Kajian yang dilakukan secara virtual ini menghadirkan Norma Sari selaku Wakil Ketua MPK PP ‘Aisyiyah.

Norma mengatakan, filosofi dakwah Muhammadiyah adalah sebagai gerakan dakwah Islam yang mempunyai cita-cita sosial untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, artinya apapun yang digagas dan dilakukan oleh Muhammadiyah merupakan representasi gerakan dakwah Islam dan diarahkan untuk pencapaian cita-cita tersebut.

Ia menambahkan, melalui gerakan dakwah jama’ah, Muhammadiyah ingin menawarkan solusi alternatif atas berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi masyarakat, dengan cara menggerakkan segenap anggotanya di lingkungan tempat tinggal mereka untuk mengambil prakarsa dan membangun kehidupan bersama dengan masyarakat lainnya.

“Tentu dalam rentang sejarah ini Muhammadiyah sangat teruji untuk menghadirkan nuansa dakwah yang sangat komprehensif, Muhammadiyah tidak hanya memaknai dakwah ini sebagai aktivitas tabligh (menyampaikan), tetapi memaknai bahwa upaya dakwah adalah bagian dari upaya transformasi masyarakat dari suatu keadaan minadzulumati ila an-nur, dari zaman kegelapan menuju zaman pencerahan,” tuturnya.

Baca Juga: Dakwah Kesehatan dalam Kongres Bayi Aisyiyah

Dalam berdakwah, kata Norma, Muhammadiyah berlandaskan kepada Q.S Ali Imran ayat 104 yang artinya “dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Menurutnya, saat ini ruang dakwah kita sudah berubah. Artinya, ruang dakwah kita saat ini adalah binner (antara nyata dan maya), begitupun dengan masyarakat dan budaya. Hal itu dapat dilihat dari kenyataan yang terjadi saat ini.

Norma menjelaskan, kalangan pengguna internet mulai dari usia 16-64 tahun, diketahui memiliki beberapa perangkat elektronik berbeda, smartphone menjadi perangkat yang paling populer dengan angka persentase 98,3 persen, dan tercatat sebanyak 96,4 persen mengakses internet melalui ponsel genggam selama 8 jam 52 menit perhari. “Andai smartphone menjadi bagian dari konten dakwah kita, maka akan menjadi titik temu yang pas, strategi dakwah yang kita lakukan, karna 1/3 dari hari seseorang itu berada dalam genggaman ini (smartphone)”.

Mengenai metode, Norma menyebutkan, metode dakwah yang dipakai dengan merujuk pada Q.S. an-Nahl ayat 125, yang membagi tiga metode yakni, bil hikmah, al-mauidzah al-hasanah, dan al-mujadalah bi allati hiya ahsan.

Sementara itu, Norma menjelaskan bahwa ada banyak tantangan dari dakwah kita saat ini, seiring dengan perubahan zaman. Beberapa tantangan di antaranya: pertama, globalization (isu globalisasi); kedua, migration (migrasi); ketiga, scientific and technologi revolutions (revolusi ilmiah dan teknologi); keempat, space exploration (ruang eksplorasi); kelima, evolution and genetics (evolusi dan genetika); keenam, public education and literacy (pendidikan di ranah publik dan literasi); ketujuh, increased understing of the dignity of human person (peningkatan pemahaman tetang martabat pribadi manusia); kedelapan, greater interfaith interaction (interaksi antar keyakinan); kesembilan, the emergence of nations states (and the concept of equal citizenship); kesepuluh, gender equality (kesetaraan gender).

Sinergi kolaborasi antargenerasi, menurutnya, sangat penting karna: pertama, dakwah menjadi kewajiban umat Islam bahwa generasi muda mempunyai tanggung jawab yang sama untuk mengemban amanah dakwah ini; kedua, diskusi sebaya, sekaligus dapat melihat dalam memahami persoalan; ketiga, adanya dampak bagi diri  sendiri dan keberlanjutan dakwah.

Norma menyebut, tantangan dakwah dalam keluarga ada 3 (yakni), yakni tantangan ke depan: child free, intimacy no family; tantangan saat ini: dirupsi, pandemi; dan tantangan klasik: kesetaraan peran. Maka sinergi kolaborasinya adalah dengan; pertama, skala problem, harus melihat skala problem; kedua, harus realistis, respon mana yang mampu kita ambil perannya; ketiga, bagaimana kita membuat sistem rujukan yang efektif dalam dakwah;

Keempat, seimbang dalam berbagi di berbagai lini; kelima, narasi persuasif/alternatif. “Sebagus apapun dakwah kita ketika narasi besar yang berkembang di masyarakat tidak mampu untuk kita kondisikan agar narasi kita lebih persuasif dan alternatif, kemungkinan kegagalan akan tinggi. Karena dakwah yang mencerahkan dan menggembirakan akan membuat mereka menerima secara perlahan, dan membuat mereka ikut terlibat di dalamnya”. (rizka)

One thought on “Urgensi Sinergi Dakwah Antargenerasi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *