Usaha Mengubah Mindset Lansia

Aksara 3 Mar 2021 0 87x
Lansia Milenial

Lansia Milenial

Pengarang         : dr. Handojo Tjandrakusuma

Tahun Terbit      : 2019

Judul Buku         :. Lansia Milenial: Hidup Sejahtera di Masa Lanjut Usia

Kota Terbit         : Jakarta

Penerbit             : Kompas

Jumlah Halaman         : 112

 

Oleh: Adib Sofia

Lansia yang ada di dunia saat ini memang bukan generasi milenial. Kata ‘milenial’ diambil dan dilekatkan dengan kata ‘lansia’ dalam judul buku ini dimaksudkan untuk memberi pengetahuan dan pencerahan kepada lansia agar berpola pikir (mindset) seperti generasi yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000. Di antara karakter generasi milenial adalah penuh semangat, berpengetahuan, bercita-cita, dan berkarya.

Bagi penulis buku, lansia maupun generasi mileneal memiliki beberapa kesamaan, misalnya sama-sama memiliki jumlah populasi yang patut diperhitungkan. Mereka juga memiliki kesamaan sebagai sumber daya manusia potensial yang dapat  bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Generasi milenial memiliki potensi besar dalam penguasaan teknologi dan inovasi, sedangkan lansia memiliki potensi besar dengan pengalaman dan pengetahuan (hlm. 4-5).

Data Bappenas soal proyeksi penduduk lansia juga diangkat dalam buku ini. Pada 2020 jumlah lansia di Indonesia diperkirakan 17,1 juta jiwa (9,99%), pada 2030 diperkirakan mencapai 42,0 juta jiwa (13,82%), dan pada 2035 diperkirakan mencapai 48,2 juta jiwa (15.77%). Selain jumlah lansia yang semakin meningkat, buku ini juga menjelaskan kondisi lansia pada masa sekarang yang semakin  berpengetahuan dan memiliki pola pikir positif. Selain itu, kondisi kesehatan lansia umumnya semakin baik (hlm. 2-3).

Hal menarik dari buku ini adalah adanya bagan yang membedakan antara lansia tradisional dan lansia milenial. Lansia tradisonal disebut memiliki ciri-ciri (i) mengadopsi pandangan tradisional masyarakat; (ii) hidup bersantai dan menikmati kehidupan apa adanya, tidak ingin berusaha untuk berkegiatan yang memuat masalah walaupun kecil; dan (iii) memiliki pola pikir (mindset) tradisional (hlm 7).

Sementara itu, lansia milenial memiliki ciri-ciri (i) mempunyai pemikiran alternatif; (ii) ingin menikmati hidup yang aktif, bersemangat dan tidak membosankan, masih mempunyai cita-cita yang ingin dicapai, memiliki kebanggaan ketika berkontribusi kepada masyarakat; dan (iii) memiliki pola pikir (mindset) milenial (hlm. 7).

Buku yang ditulis oleh intelektual produktif yang sudah berumur 80 tahun ini merupakan buku mungil yang tipis dengan warna dan lay out yang menarik. Pembahasannya sangat sistematis mulai dari falsafah pohon beringin yang diikuti dengan penyadaran bahwa menjadi tua adalah anugerah dan karunia. Selanjutnya, buku ini membahas soal pengembangan diri lansia terhadap teknologi informasi, nutrisi dan kualitas hidup lansia, kampung ramah lansia hingga kesepian yang melingkupi lansia, persoalan Alzheimer, caregiver bagi lansia, persiapan penghujung perjalanan kehidupan.

Jika dalam Islam dikenal utlubul ‘ilma minal-mahdi ilal-lahdi, dalam buku terbitan Kompas ini juga diuraikan pembelajaran berkelanjutan bagi lansia, misalnya self learning yang berbasis internet, pembelajaran non-formal dengan bertanya dan menggali pengetahuan kepada orang lain yang lebih ahli, serta mengikuti pendidikan formal yang dikhususkan untuk lansia (hlm. 9).

Sementara itu, untuk mengatasi masalah keterbatasan mobilitas pada lansia, dr. Handojo Tjandrakusuma menawarkan perlunya pemanfaatan teknologi informasi pada lansia. Menurutnya, media sosial memudahkan lansia bersosialisasi dengan keluarga dan rekan. Teknologi informasi juga dapat menjadi sarana hiburan bagi lansia serta memudahkan ke-giatan sehari-hari, misalnya belanja atau jualan online, membeli makanan, mendapatkan layanan transportasi, membersihkan rumah, reparasi, memperoleh sarana kesehatan, dan sebagainya (hlm. 20-25).

Dalam hal kesehatan, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian serius, yaitu jumlah dan asupan makanan yang berkurang serta kemunduran berbagai fungsi organ tubuh. Selain itu, terdapat pula gangguan kesehatan, seperti dehidrasi, anemia, osteoporosis, hingga Alzheimer. Buku ini juga memberikan alternatif kegiatan bagi lansia, di antaranya menjadi relawan, wirausaha, menikmati hobi, olah raga, rekreasi, serta menambah pengetahuan dan keterampilan (hlm. 29-45). Tak lupa buku ini juga menyentuh berbagai persoalan sosial yang dihadapi lansia serta keterlibatan keluarga dan orang lain dalam mendampingi lansia.

Tinggalkan Balasan