Voluntarisme dan Berpikir Out of The Box: Modal Dasar Eksistensi TK ABA

Liputan 17 Feb 2020 0 69x

Massifnya voluntarisme atau kerelawanan sebagai bagian tak terpisahkan dari eksistensi TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) di satu sisi memang menggembirakan. Mereka berperan dalam meningkatkan kuantitas lembaga pendidikan yang berada dalam naungan ‘Aisyiyah ini. Akan tetapi, dari segi kualitas, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan

Voluntarisme dan Berpikir Out of The Box: Modal Dasar Eksistensi TK ABA
(Dok. Suara ‘Aisyiyah)

Eksistensi TK ABA (Taman Kanak-kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal) atau yang dulu bernama Fröbel School Kindergarten tidak dapat dilepaskan dari kerelawanan ibu-ibu ‘Aisyiyah hingga Cabang dan Ranting. Menurut Shoimah Kastolani, Ketua PP ‘Aisyiyah, sejak awal TK ABA didirikan pada tahun 1919 hingga kini di usianya yang ke-100 tahun, peran ibu-ibu ‘Aisyiyah begitu vital, mulai dari mengumpulkan dana untuk pembangunan gedung, mencari guru, bahkan berperan aktif dalam mendampingi anak-anak.

Shoimah mengungkapkan bahwa salah satu alasan didirikan TK ABA kala itu adalah timbulnya rasa kepedulian ibu-ibu ‘Aisyiyah untuk mendampingi anak-anak yang ditinggal ibunya bekerja sebagai buruh perusahaan batik di Kauman. Fokus ‘Aisyiyah pada pendidikan anak yang diwujudkan dalam bentuk pendirian dan pengembangan TK ABA, dalam pandangan Shoimah, merupakan upaya untuk memajukan kehidupan bangsa Indonesia. “Kalau Indonesia ingin maju, masyarakatnya harus pintar. Pintar itu harus dimulai sejak dini,” ungkapnya.

Upaya ini, lanjutnya, hanya dapat diwujudkan jika terdapat nilai yang mengikat pada pribadi ibu-ibu ‘Aisyiyah. Nilai itu adalah iman, ilmu, dan amal. Iman melahirkan rasa ikhlas dan rela berjuang. Ilmu merupakan bagian yang tak terpisahkan sebagai upaya memajukan kehidupan bangsa. Adapun amal diwujudkan dalam rangka menumbuhkan akhlak mulia yang semestinya ditanamkan sejak dini.

Dalam sejarah dan perkembangannya, nilai-nilai tersebut telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gerak-langkah ibu-ibu ‘Aisyiyah. Hal tersebut dapat dilihat dari konsistensi ‘Aisyiyah untuk mensejahterakan masyarakat. “‘Aisyiyah dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun itu impiannya ya mensejahterakan masyarakat”, ucap Shoimah.

Meski jejak perjuangan dan pengabdian tersebut kadangkala tidak mendapat imbalan materi, tetapi de-ngan bekal iman yang dimiliki, ibu-ibu ‘Aisyiyah tetap ikhlas berjuang, terang Shoimah. Ketua yang membidangi Majelis Kesejahteraan Sosial ini menyatakan bahwa semangat kerelawanan ibu-ibu ‘Aisyiyah juga didorong oleh nasihat Kiai Dahlan, “Urusan dapur jangan menjadikan kamu tidak mela-yani masyarakat.”

Wujud Pengabdian ‘Aisyiyah

Gerak perjuangan ‘Aisyiyah di bidang pendidikan hampir dapat dirasakan di seluruh pelosok negeri. Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah, Fitni Wilis menjelaskan bahwa semangat ber-‘Aisyiyah dalam mengembangkan pendidikan sudah berlangsung sejak lama, termasuk di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Fitni menyebutkan bahwa di beberapa daerah, lembaga pendidikan milik ‘Aisyiyah lebih dahulu ada dan berkembang daripada milik pemerintah. Ia mencontohkan adanya TK ABA di Pulau Arar Papua dan Pulau Haruku Maluku. Kehadiran TK ABA di daerah-daerah tersebut tidak lepas dari peran ibu-ibu ‘Aisyiyah di akar rumput. De-ngan semangat beribadah dan beramal untuk ‘Aisyiyah mereka mendirikan TK ABA.

Berbekal niat ikhlas dengan tujuan beribadah sebagai wujud pengabdian untuk ‘Aisyiyah, dengan segala keterbatasannya, ibu-ibu ‘Aisyiyah ‘berani’ mendirikan TK ABA. Tak heran jika Fitni yang juga merupakan Dosen di Uhamka ini menyatakan, “keberadaan TK ABA ini memang berkat kerelawanan ibu-ibu ‘Aisyiyah”. Fitni menambahkan, mereka dengan ikhlas meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya tanpa iming-iming materi.

Hal tersebut juga ditegaskan oleh Kis Rahayu, Wakil Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PWA DI. Yogyakarta, “Jadi memang guru-guru di TK ‘Aisyiyah ini kan mereka itu ikhlas mengabdi. Kalau diberi gaji banyak ya senang, diberi gaji sedikit ya tetap dilakukan. Guru-guru di TK ‘Aisyiyah itu memang pengabdian”.

Menurut Kis Rahayu, terdapat beberapa faktor di balik kerelawanan ibu-ibu ‘Aisyiyah berjuang di ‘Aisyiyah, termasuk menjadi volunteer TK ABA; pertama, keyakinan untuk menolong agama Allah; kedua, keyakinan bahwa berjuang di ‘Aisyiyah merupakan salah satu bentuk ibadah; ketiga, bahwa me-lalui ‘Aisyiyah, perjuangan akan lebih terorganisir. “Kita yakin, kita berjuang melalui ‘Aisyiyah ini lebih efektif,” jelas Kis Rahayu yang juga merupakan Asesor Badan Akreditasi Nasional PAUD dan PNF.

Kepedulian sosial dan kerelawanan para pimpinan ‘Aisyiyah dalam menyediakan layanan pendidikan anak usia dini melalui TK ABA juga dilakukan oleh Lestari, aktivis ‘Aisyiyah di desa Mangli, desa yang terletak di bawah gunung Sumbing, Magelang, Jawa Te-ngah. Lestari mengisahkan awal pendirian TK ABA di tahun 2001, “Saat saya masuk di desa ini, saya lihat anak-anak kecil kok cuma mainan sendiri, terus saya berinisiatif mendirikan TK ABA pada tahun 2001 karena di desa belum ada TK sama sekali, sedangkan anak-anak membutuhkan pendidikan.”  (Sirajudin/Hajar NS)

Baca selengkapnya di Rubrik Liputan Utama, Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi Oktober 2019, hal 17-19

Leave a Reply