Wacana Islam Berkemajuan dalam Media Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah

Wawasan 27 Mar 2020 0 257x

Oleh : Twediana Budi Hapsari (Kaprodi Komunikasi & Penyiaran Islam UMY, mantan anggota lembaga humas dan penerbitan PP ‘Aisyiyah)

Wacana Islam Berkemajuan dalam Media Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah

Wacana Islam Berkemajuan sejatinya telah diusung oleh Kiai Ahmad Dahlan sejak awal pendirian Muhammadiyah awal abad ke-20 lalu. Agung Danarto, Sekretaris PP Muhammadiyah, dalam salah satu wawancaranya dengan Detikcom tahun 2015 menyatakan bahwa makna Islam Berkemajuan sebagai ‘spirit untuk maju yang dapat membawa masyarakat kepada era yang lebih modern, lebih maju, sehingga harus kompatibel dengan perkembangan iptek.’ Makna lain Islam berkemajuan dalam konteks etos kerja adalah menjadi pekerja profesional dengan etos kemodernan, bekerja keras, dan berbekal ilmu.

Tulisan ini mencoba untuk mendeskripsikan wacana ‘Islam Berkemajuan’ dalam media online muhammadiyah.or.id, suaramuhammadiyah.id, ibtimes.id, serta dalam majalah cetak Suara ‘Aisiyah selama tahun 2018 dan Januari hingga Oktober 2019. Media-media tersebut dipilih sebagai saluran pemberitaan resmi yang dikelola oleh Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Secara umum, dengan kata kunci pencarian ‘Islam Berkemajuan’ selama tahun 2018 hingga bulan Oktober 2019 pada ketiga media online di atas menunjukkan bahwa suaramuhammadiyah.id memiliki jumlah artikel tertinggi yakni sekitar 165 artikel dan diikuti ibtimes.id sekitar 119 artikel.

Suara Muhammadiyah adalah majalah resmi dari Muhammadiyah yang versi cetaknya terbit sejak tahun 1915, dan saat ini terbit berkala setiap 2 pekan sekali. Meskipun artikel yang menyebut ‘Islam Berkemajuan’ memiliki jumlah tertinggi di antara dua media online lain di atas, tampaknya sebagian besar hanya kutipan langsung dari narasumber tanpa menjelaskan lebih mendalam makna dan aplikasi dari istilah tersebut.

Di sisi lain, ibtimes.id tampaknya menaruh perhatian khusus terhadap sosialisasi wacana ‘Islam Berkemajuan’ dengan membuat rubrik bernama ‘Islam Berkemajuan’ dalam fitur websitenya. Lebih jauh, jika ditilik dari deskripsi editorialnya, ibtimes.id secara tegas mengatakan bahwa dalam menentukan topik dan mengisi konten
berdasarkan pada prinsip ‘Islam mo-derat’ (wasathiyyah) yang merupakan refleksi antar nilai-nilai al-Quran (al-nash), perkembangan IPTEK, dan kearifan budaya lokal Indonesia. Mena-rik untuk mencermati upaya ibtimes.id dalam mengkonstruksi wacana ini dalam berbagai bentuk media yang tidak hanya tulisan, melainkan juga rekaman video dari Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Dr. Abdul Mu’ti yang berjudul ‘Islam Berkemajuan’ yang pernah ditayangkan di TvMu hingga 5 episode. Sedangkan pada website resmi milik PP Muhammadiyah, yaitu muhammadiyah.or.id, meskipun jumlah artikel yang menyebut ‘Islam Berkemajuan’ cukup banyak, namun secara khusus yang menjelaskan wacana ini masih sangat terbatas.

Sedangkan pada majalah Suara ‘Aisyiyah (versi cetak), beberapa kali gagasan tentang ‘Islam Berkemajuan’ diangkat secara mendalam, dengan tema ‘Lima Karakter Gerakan ‘Aisyiyah’ (Januari, 2018), ‘Komitmen Bernama Islam Wasathiyah’ (Agustus 2018), ‘Sekolah, Persemaian Islam Wasathiyah’ (Agustus 2018), ‘Noordjannah: ‘Aisyiyah Membawa Risalah Islam Berkemajuan pada Warga Dunia’ (Juli, 2019), dan ‘Dakwah Mengedepankan Perdamaian’ (Agustus 2019). Jika dipersentase, jumlah naskah yang secara khusus membahas tentang ‘Islam Berkemajuan’ dan ‘Islam Wasaiyyah’ dalam majalah Suara Aisyiyah adalah 5/22 atau 22.72% dari total edisi 22 Suara Aisyiyah dari bulan Januari 2018 hingga Oktober 2019.

Berbagai penjelasan mengenai Islam Berkemajuan muncul dalam beberapa artikel media-media tersebut di atas dan dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu definisi ajaran Islam Berkemajuan dan aplikasi konsep tersebut dalam berbagai bidang. Definisi Islam sebagai agama berkemajuan beberapa kali disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir yang menyatakan bahwa Islam Berkemajuan mengandung spirit kemajuan (Suara Muhammadiyah, Oktober 2018).

Lebih lanjut, ia menyatakan arti dari agama Islam berkemajuan adalah pertama, Islam adalah dinul iqra. Islam mengajari kita untuk iqra, tafakkur, tadabbur. Kedua adalah dinul fikrah. Banyak sekali perintah tentang tafaqquh, nadhar, tadabbur, ulil albab. Ketiga, Islam adalah dinul taghyir yakni agama perubahan di mana hanya kita yang dapat mengubah nasib kita sendiri. Keempat, Islam adalah dinul hadharah yakni agama yang mengusung kemajuan. Muhammadiyah hadir membawa Islam yang damai dan tidak mengedepankan kekerasan. Kelima, Islam adalah dinul amal yakni agama perbuatan karena semua pemikiran tadi harus diaplikasikan dalam perbuatan (Suara Muhammadiyah, Februari 2019).

Di sisi lain dalam majalah Suara ‘Aisyiyah (SA) edisi Januari 2018, definisi Islam berkemajuan menjadi ciri utama gerakan Aisyiyah yang tidak ke arah kanan (fundamentalis) dan ke arah kiri (sekular-liberal). ‘Aisyiyah sebagai gerakan Islam Berkemajuan berkarakter wasaiyyah atau tengahan. Lebih lanjut dalam edisi Agustus 2018, Suara ‘Aisyiyah mengutip pandangan Muhammad Az-Zulaihi bahwa Islam Wasaiyyah berada dalam keseimbangan, istiqamah, adil dan mudah, serta menjauhi ghuluw atau ekstrem. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah menerapkan Islam wasathiyah yang dinamis.

Website ibtimes.id lebih banyak menjelaskan aplikasi konsep Islam Berkemajuan pada berbagai bidang. Seperti artikel ‘Tiga Ciri Islam Berkemajuan Menurut Milenial’ (25 Agustus 2019) yang ditulis oleh Hasnan Bachtiar yaitu tidak mengkafirkan orang lain yang berbeda pemikiran, pandangan, dan identitas; mempromosikan kesantunan, keindahan, dan perdamaian Islam; serta menerima perubahan, keberbedaan, dinamisasi zaman dan moderat (tengahan), bukan ekstrem kanan maupun kiri.

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 12 Desember 2019

Sumber Ilustrasi : https://greatedu.co.id/greatpedia/5-langkah-social-media-detox-yang-perlu-kamu-tahu

Leave a Reply