Webinar Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah: Upayakan Penurunan Stunting di Masa Covid-19

Berita 14 May 2020 0 89x

“Ketika kondisi normal saja banyak pakar menyebutan berat untuk mencapai target ini (penurunan stunting-red) apalagi dalam kondisi kedaruratan saat ini,” ungkap Iing Mursalin dari TP2AK (Tim Percepatan Penanggulangan Anak Kerdil) dalam kesempatannya sebagai narasumber dalam Webinar Kebijakan dan Tantangan Penanganan Stunting pada Masa Covid-19 yang digelar oleh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah pada Kamis (14/3).

Perubahan mendadak sistem kehidupan masyarakat ditambah status darurat dan kebijakan PSBB menambah tantangan upaya tersebut. Pandemi Covid-19 berdampak sangat luas termasuk pada upaya pemerintah melakukan percepatan pencegahan stunting. Ia menyebutkan setidaknya ada empat hal yang akan mempengaruhi terhadap upaya percepatan pencegahan stunting yang dilakukan pemerintah dari adanya darurat Covid-19.

Pertama menurutnya adalah pengurangan dan realokasi anggaran dari pusat, daerah hingga ketingkat desa. Kemudian social distancing yang diterjemahkan dengan PSBB yang menyebabkan terhentinya kegiatan posyandu, kelas ibu hamil, dan sebagainya. Ketiga adalah berkurangnya pendapatan masyarakat dan hilangnya pekerjaan. “Kita tahu kalau dilihat dari framework besarnya penyebab kurang gizi termasuk stunting maka kemiskinan menjadi akar masalah, kalau pendapatan pekerjaan hilang maka akan potensial untuk meningkatkan kemiskinan.” Kemudian kelangkaan dan kenaikan harga pangan yang mempengaruhi aksesibilitas masyarakat terhadap pangan yang bergizi.

Hal senada juga disampaikan oleh Pungkas Bahjuri Ali selaku Direktur Kesehatan Gizi dan Masyarakat dari Kementerian PPN/Bappenas. Menurutnya di tengah suasana Covid-19 ini Indonesia masih punya target yang cukup besar terkait stunting yakni target nasional sebesar 14%.

“Kebijakan untuk penurunan stunting di masa Covid-19 ini komitmen kita tidak berubah, permasalahan gizi tidak berubah bahkan saat ini bisa jadi meningkat karena sekarang prevalensi stunting sudah 27,7% dan sebarannya juga cukup merata di hampir seluruh wilayah Indonesia.” ungkap Pungkas.

Upaya pencapaian target koreksi stunting menjadi angka 14% menurut Pungkas memerlukan energi yang luar biasa bahkan disebutnya ambisius. Ia menyebutkan bahwa dengan upaya yang dilakukan saat ini rate pertahun penurunan stunting adalah sebesar 1,3% dan jika ini berlanjut maka target penurunan baru akan mencapai angka 25,8%.

Data yang menarik disampaikan oleh Pungkas bahwasanya target penurunan stunting ini pada kota dan kabupaten yang jumlah balita stuntingnya tinggi juga merupakan daerah dengan angka Covid-19 yang tinggi. Hal ini tentu saja akan sangat mempersulit upaya pencegahan stunting. “Ini tantangannya bukan hanya triple burden tapi quadruple burden, yakni beban obesitas, beban kekurangan gizi mikro, beban kekurangan gizi makro, dan ditambah sekarang dengan beban Covid-19.”

Dian Dhipo dari Direktur Gizi Masyarakat Kementrian Kesehatan RI menyampaikan bahwa dalam situasi pandemi saat ini untuk mengatasi stunting maka ketahanan pangan tingkat keluarga menjadi andalan. Ia menyebutkan bahwa dengan status tanggap darurat dan kebijakan PSBB akan mempengaruhi akses dan daya beli masyarakat terhadap pemenuhan pangan bergizi.

“Jika ketahanan gizi keluarga tidak kuat akan terjadi masalah gizi akut yang meningkat ini artinya status anak menderita stunting gizi buruk mungkin menjadi banyak jika tidak kita cegah dengan penanganan yang tepat,” tegas Dian.

Kementerian Kesehatan sendiri menurut Dian menguapakan berbagai penyesuaian kebijakan program gizi masyarakat. “Kami berupaya melakukan kunjungan rumah bagi sasaran beresiko, balita kurang gizi, balita gizi buruk, ibu hamil gizi buruk, ibu hamil anemia, remaja putri anemia, itu yang mendapat prioritas untuk kunjungan rumah yang kita sebut sasaran beresiko, kemudian konseling melalui media virtual, edukasi kepada masyarakat melalui berbagai media komunikasi, serta membuat grup media sosial secara daring.”

Tri Hastuti selaku Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah meyakini bahwa isu stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar yang tidak bisa ditinggalkan walaupun saat ini Indonesia sedang dalam masa Covid-19. Oleh karena itu Tri menyampaikan bahwa perlunya upaya yang yang sangat serius dan perlu adanya sinergi multipihak untuk mengatasi stunting ini

“Karena bagi ‘Aisyiyah yang sudah lama berkontribusi menurunkan stunting meyakini bahwa stunting adalah masalah multidimensi tidak semata-mata medis tetapi berkaitan dengan faktor pengetahuan, sikap dan perilaku,” ungkapnya.

Tri menyampaikan bahwasanya jika terkait pengetahuan gizi sudah banyak yang memahami mulai dari kader sampai ibu-ibu tetapi problemnya adalah adanya gap terkait perilaku bagaimana kemudian pengetahuan itu dapat dilaksanakan.

Sumber ilustrasi : https://lifestyle.bisnis.com/read/20200418/106/1228952/pandemi-covid-19-mengancam-program-kesehatan-nasional

Leave a Reply