Muda

Welcome Generation: Perubahan Anak Muda Sambut SDG saat Pandemi

Oleh: Karlina Octaviany*

“Saya telah mendengar orang-orang di usia remaja dan 20-an sekarang disebut ‘generasi yang hilang karena Covid-19’. Itu berarti bahwa pada saat mereka membutuhkan sebagian besar peluang dan tantangan, mereka kehilangan arah. Tetapi hanya karena orang tidak dapat melihat jalan sendiri, bukan berarti mereka tersesat,” ujar Kim Namjoon dari kelompok musik Korea Selatan, BTS, saat Pidato SDG Moment (Momen Target Pembangunan Berkelanjutan) dalam Sidang Umum PBB ke-76 (UNGA) 2021, dilansir dari tirto.id. BTS mewakili suara anak muda menceritakan pengalaman hidup selama pandemi Covid-19 dan harapan untuk masa depan.

Anak muda kehilangan momen merayakan kehidupan, mulai dari kehilangan kontak belajar langsung di sekolah, berkumpul saat wisuda, hingga pertemanan masa remaja. Menurut kajian SMERU dalam East Asia Forum (2020), Covid-19 memperlebar kesenjangan pendidikan di Indonesia akibat keterbatasan akses fasilitas dan infrastruktur, kemampuan pengajaran jarak jauh, tipe dan lokasi sekolah, hingga lingkungan pembelajaran siswa di rumah. Semenjak diberlakukan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh pada Maret 2020, kesenjangan digital menjadi kendala pendidikan saat pandemi sehingga mengakibatkan sekitar 30 persen guru di Jawa tidak dapat mengajar setiap hari kerja. Bahkan, mencapai 50 persen di luar Jawa.

Baca Juga: Anak Muda Memimpin Pembaharuan di Indonesia

Memindahkan ruang belajar secara daring pun mempertajam kesenjangan pendidikan daerah tertinggal. Bicara akses digital untuk pendidikan, maka termasuk kepemilikan perangkat, literasi digital baik siswa, guru, dan orang tua yang mendampingi, keterbatasan alat pengajaran praktik untuk siswa sekolah vokasi, dan ruang belajar inklusif untuk siswa disabilitas. Kestabilan koneksi internet untuk pembelajaran terkait dengan tantangan intervensi jaringan internet yang merata, akses listrik energi terbarukan, dukungan tepat sasaran untuk paket data, kebijakan pengembangan internet berbasis komunitas, dan perizinan radio komunitas untuk daerah terpencil yang sulit mengakses internet.

Pemindahan moda kehidupan anak muda ke dalam daring penuh liku hingga dapat menyisakan jalan gelap tercerabut dari “dunia yang terhubung”. Perlu aksi bersama untuk membuka kesetaraan akses pembelajaran anak muda di Indonesia. Anak muda pun dapat berperan dengan berbagi pengetahuan literasi digital hingga mengembangkan ruang belajar daring yang ramah disabilitas untuk lingkup pertemanan terdekat maupun penyebaran konten positif di media sosial.

Saat berpidato, Jimin dari BTS menunjukkan foto-foto yang dikirim anak muda terkait kampanye media sosial #YouthToday. Penggunaan media sosial mengalami peningkatan selama isolasi pandemi. Laporan Tren Digital dari survei Facebook bersama YouGov, menunjukkan lebih dari 140 juta orang yang tinggal di Indonesia bergabung dengan grup yang aktif selama sebulan terakhir untuk saling memberikan dukungan moral hingga kebutuhan rumah tangga (mediaindonesia.com). Dikutip dari website Wantiknas, Survei Firma konsultan Kantar menunjukkan bahwa WhatsApp mengalami lonjakan penggunaan dari 27% di awal pandemi menjadi 41% pada pertengahan fase Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

UNESCO menjelaskan literasi digital menjadi Target Pembangunan Berkelanjutan (SDG) Tujuan 4 Pendidikan Berkualitas terkait indikator skill untuk dunia digital. Literasi digital dalam indikator SDG berkenaan dengan kepercayaan diri dan penggunaan kritis ragam teknologi digital untuk akses informasi, komunikasi, dan solusi dasar ragam aspek tantangan kehidupan. Mulai dari skill dasar TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) seperti pengoperasian komputer hingga berkomunikasi dan berkolaborasi aktif melalui internet.

“Di ruang online, mereka terus bertemu dengan teman-teman mereka dengan cara baru, mulai mempelajari hal-hal baru dan mencoba menjalani hidup yang lebih sehat. Alih-alih terlihat tersesat, mereka menemukan keberanian baru dan menghadapi tantangan baru,” lanjut Jimin setelah menunjukkan foto aktivitas media sosial anak muda yang berkoneksi kembali dengan alam.

Baca Juga: Tuntunan Rasulullah untuk Menyiapkan Generasi Masa Depan

Peningkatan aktivitas media sosial menyimpan risiko bagi anak muda terlibat Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). Menurut Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2021, terjadi peningkatan laporan KBGO ke Komnas Perempuan dari 241 kasus pada 2019, naik menjadi 940 kasus pada 2020. Laporan ke Lembaga Layanan pun naik dari 126 kasus pada 2019 menjadi 510 kasus pada 2020. Ragam KBGO meliputi kekerasan psikis 49% sebanyak 491 kasus, kekerasan seksual 48% dengan 479 kasus, dan kekerasan ekonomi 2% sebanyak 22 kasus. Peningkatan KBGO ini mengingatkan anak muda untuk beraksi menciptakan ruang aman bagi perempuan dan masyarakat termarjinalkan dalam berinteraksi di media sosial maupun memberi dukungan berperspektif korban KBGO.

Ketika internet yang diharapkan menjadi ruang kolaborasi menjadi platform yang berisiko mengancam perempuan, anak muda dapat terlibat dalam peningkatan kesadaran keamanan siber. Pelajari langkah menjaga privasi hingga pelaporan KBGO melalui inisiatif awaskbgo.id yang digagas SAFEnet. Awaskbgo.id memberikan panduan untuk sigap menghadapi ancaman KBGO hingga membantu korban saat pelaporan. Anak muda juga bisa mengikuti Kelas Online Aman Internetan hingga memahami perlindungan data pribadi. Ketika mobilitas terbatas, literasi digital dan keamanan siber menjadi langkah perubahan pemuda dalam menjalin pertemanan daring.

Generasi pemuda saat ini tengah diuji dengan pandemi. Cara anak muda menyambut tantangan bisa dilakukan dengan mencari jalan untuk tetap terhubung dan bersuara untuk kemanusiaan di media sosial seperti yang dikerjakan teman Pamflet Generasi, belajar ragam perspektif dari aneka webinar Suara ‘Aisyiyah dan ‘Aisyiyah, mengembangkan jejaring internet komunitas di Kasepuhan Ciptagelar, Jawa Barat, bersama pemuda desa adat dan Common Room Networks Foundation, hingga membentuk lingkar bercerita untuk kesehatan mental bersama BTS ARMY Help Center Indonesia. Tepuk pundakmu, anak muda patut berbangga mampu melalui tantangan berat pandemi dengan ragam inovasi dan lingkar belajar.

“Oleh karena itu, saya pikir alih-alih ‘generasi yang hilang’, ‘generasi penyambutan’ (welcome generation) adalah nama yang lebih tepat. Alih-alih takut akan perubahan, generasi ini mengatakan ‘selamat datang’ saat mereka melangkah maju ke masa depan,” ujar Jin dari BTS mengakhiri pidatonya.

*Antropolog digital dan salah satu pendiri inisiatif literasi digital untuk perempuan dan aktivis yang menyuarakan isu perempuan, Indonesia Voice of Women (Invow.id).

Related posts
Wawasan

Anak Muda Memimpin Pembaharuan di Indonesia

Oleh: Nani Zulminarni, Amelia Hapsari, Ara Kusuma Ketidakadilan gender, diskriminasi, beragam pelanggaran hak asasi manusia, kemiskinan, dan problem lingkungan hanya dapat dihapuskan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.