Wisuda Santri MDAA PCA Tanggul: Membentuk Generasi Muda yang Berjiwa Islami

Berita 13 Sep 2021 0 186x

Jember, Suara ‘Aisyiyah – Al-Quran merupakan pedoman hidup umat manusia, khususnya umat Islam. Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan jika dalam kehidupan umat muslim menjadikan al-Quran sebagai panduan hidup, terutama dalam mencetak generasi masa depan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Muhammad Jufri pada acara Wisuda Santri MDAA yang bertema “Mencetak Generasi Rabbani Berjiwa Qurani”, Ahad (12/9). MDAA merupakan lembaga pendidikan diniyah ‘Aisyiyah yang dibawahi oleh Pimpinan Cabang Aisyiyah Tanggul, Jember, Jawa Timur.

Dalam acara tersebut, Jufri mengawali dengan pernyataan bahwa hidayah itu mutlak kehendak Allah, yang mana itu dibuktikan dengan kisah yang sangat masyhur, yaitu kisah paman Nabi Muhammad, Abu Thalib. Abu Thalib merupakan paman Nabi saw., yang di awal periode Islam dialah yang membantu Rasullulah dalam berjuang. Namun ternyata beliau belum mendapat hidayah dari Allah, dan itu membuktikan bahwa hidayah itu bergantung sepenuhnya oleh Allah.

Baca Juga: Merawat Kebersamaan dalam Keluarga dengan Literasi Al-Quran

Selanjutnya, Jufri membahas tentang generasi rabbani. Menurutnya, dalam membentuk generasi rabbani, ada “cetakan” yang harus dipersiapkan di antaranya yaitu:

Pertama, cetakan keluarga. Keluarga merupakan pondasi umat yang sangat penting. Secara lebih spesifik, ibu merupakan madrasah pertama bagi seorang anak. Oleh karenanya, seorang ibu harus cerdas dalam mendidik anak-anaknya, dan keluarga seharusnya menjadikan al-Quran sebagai dasar ilmu untuk memberikan pendidikan di dalam keluarga.

Jika ingin menjadikan anak generasi rabbani yang berjiwa qurani, menurut Jufri, ada 5 (lima) hal yang harus dijadikan pedoman dalam mempelajari al-Quran, di antaranya yaitu; tartil (membaca), tahfidz (menghafal), tafsir (mencari makna), tadabur (memahami), dan tabligh (menyampaikan).

Kedua, cetakan pendidikan. Seringkali umat Islam tidak menjadikan al-Quran sebagai landasan dasar pendidikan yang harus diberikan kepada anak. Padahal seharusnya menjadikan al-Quran sebagai kurikulum pendidikan anak itu menjadi landasan yang wajib sebagai seorang muslim, karena al-Quran merupakan sesuatu yang terbaik, diturunkan di hari yang baik. Karenanya, sudah semestinya umat Islam memberi pendidikan untuk anak yang bersumber dari al-Quran. Itu berarti sudah saatnya pendidikan kita dimulai dari kurikulum al-Quran.

Itulah cetakan-cetakan yang diharapkan mampu menjadikan anak-anak kita generasi rabbani dan berjiwa islami. Masih menurut Jufri, di zaman sekarang, banyak orang tua lalai dalam pendidikan terhadap putra-putrinya. “Sudah sangat jarang ditemukan orang tua mengajarkan kepada putra-putrinya untuk mencari keberkahan melalui para ustaz atau guru dengan cara mendatangi para guru tersebut dan meminta doa. Hal tersebut sudah sangat jarang ditemukan,” ujarnya.

Padahal, hal tersebut merupakan hal yang baik untuk dilakukan. Terakhir, pesan Jufri, di negara ini tidak kekurangan orang cerdas, namun yang terjadi adalah hilangnya keberkahan ilmu karena sudah jarang sekali seorang murid menghormati gurunya. (dyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *