Yang Muda Yang Merdeka

Berita 18 Agu 2021 0 78x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Makna kemerdekaan bagi setiap orang tentu berbeda, tak terkecuali bagi para pemuda. Banyak pemuda yang menjadi penggerak kemerdekaan, baik dahulu maupun sekarang. Dalam rangka menggali makna kemerdekaan bagi para pemuda, Suara ‘Aisyiyah mengadakan siaran langsung di akun instagram @suaraaisyiyah.

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (17/8) ini menghadirkan Nashir Effendi selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah periode kepemimpinan 2020-2022. Dengan mengangkat tema “Yang Muda Yang Merdeka”, kegiatan ini membahas mengenai peran aktif pemuda Indonesia dalam membangun kemerdekaan melalui berbagai aspek.

Nashir menjelaskan bahwa Pandemi telah menghambat aktivitas dari berbagai organisasi untuk melakukan rancangan kegiatan yang telah disusun di awal periode. Namun, pada waktu yang bersamaan ia menegaskan bahwa dalam situasi tersebut pemuda dituntut untuk lebih melek digital dan dapat memanfaatkan berbagai platform yang tersedia.

Platform tersebut, menurutnya, dapat membantu berbagai kegiatan yang akan dilakukan pemuda untuk mewujudkan visi dan misi dalam organisasinya. Meski begitu, ia tidak dapat memungkiri ada beberapa tantangan yang sulit dihindari para pemuda saat ini.

Baca Juga: Menyemai Nasionalisme di Era Digital

Nashir menyebutkan bahwa tantangan yang dihadapi anak muda saat ini adalah hedonisme (pandangan kesenangan dan kenikmatan merupakan tujuan hidup), serta bersikap kaku terhadap perubahan.

Setiap perubahan, jelasnya, memang membawa berbagai dampak, baik dampak positif atau negatif. Oleh karenanya, seorang pemuda tidak semestinya menolak mentah-mentah perubahan tersebut, tetapi mengolah perubahan ke arah yang positif.

Pada momen kemerdekaan ini, Nashir Effendi menyebutkan peran yang seharusnya diambil oleh pemuda Indonesia saat ini. Salah satunya adalah meningkatkan kapasitas diri dalam mengelola berbagai kreativitas untuk membangun suatu masyarakat.

Peningkatan kapasitas diri itu bisa digali dari komunitas berbasis offline maupun online. Di komunitas offline, peningkatan itu bisa berupa kemampuan untuk melakukan perubahan serta pergerakan untuk membangun dan meningkatkan potensi yang ada dalam masyarakat.

Sementara di komunitas online, hal-hal yang dapat dilakukan adalah seperti memberikan pemahaman mengenai media online, dan bagaimana cara memilih berita yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pada kesempatan ini, Nashir Effendi mengungkapkan makna kemerdekaan menurut versinya. “Merdeka bagi saya bukan membahas pada tujuan, namun perjalanan tanpa henti dengan menghadirkan kemerdekaan setiap harinya,” tutur Nashir Effendi. (cheny)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *